Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2014

Republik Slayer

Prinsip hidup merupakan filosofi dasar seseorang atau suatu kelompok berdasar hasil pengayaan intelektualitas yang telah dicerna. Setiap orang bisa berubah dalam menentukan prinsip itu sendiri, sesuai hasil perkembangan literatur yang diterima baik sengaja maupun tidak sengaja. Kesimpulan dan keputusan akhir yang sebetulnya juga terus berkembang dari kesadaran masing-masing individu merupakan hak yang bersifat manusiawi. Tidak ada ruang bagi siapapun untuk menolak kecuali mereka yang tidak mau mengembangkan dirinya sendiri. Namun, perlu dicatat tidak ada paksaan bagi setiap insan untuk mengembangkan atau tidak mengembangkan kesadaran itu sendiri. Karena inisiatif itu merupakan hak setiap insan yang juga tidak dapat ditolak dengan cara apapun. Atas dasar itu, kesadaran kami dengan serius membentuk negara penuh bahagia bernama Republik Slayer. Setiap insan di dalamnya berhak untuk datang dan pergi tanpa paksaan demi terciptanya suatu kebahagiaan. Kata datang dan pergi juga t...

Detail, Apa Itu?

·          Kritik perlu, berkarya itu penting. Rekaman-rekaman sekitar tentang keseharian menjadi acuan saya dalam membuat filem, tulisan ataupun ketika membicarakan satu dan banyak hal lain. 'rekam keseharian', biasa saya menyebutnya untuk metode dan pijakan dalam berkarya. Mirza Jaka Suryana adalah seorang Periset dan Penulis yang baru saja meluncurkan buku penelitian bersama teman-temannya tentang "METOLOGI ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL; Pendekatan Paradigmatik dan Pendekatan Alternatif". Semoga tulisan ini bisa mendedah kembali tentang apa itu detail dalam sebuah karya tulis. Selamat menikmati. Salam.   1  19/09/2014 20:20      Mohammad Fauzi halo omjek ·          19/09/2014 20:28 Mirza Jaka Suryana yo, zi ·          19/09/2014 20:28 Mohammad Fauzi ada kabar apa nih jam 20:29 hehee mau minta kritik atas dua tuli...

Bertemu Arief Yudi

Jumat, 21 Februari 2014 Malam itu, sekembalinya dari rumah Pak Adung Mulyadi usai meminta izin penayangan filem ‘rangjebor’, saya melewati ruang aula temu sekaligus ruang pamer Jatiwangi Art Factory. Di sana ada Pak Arief Yudi, Beben Nurberi dan si akang Nana Supriyatna. Saya sempatkan diri membuka laptop untuk cek email dan mencatat di buku tentang point-point percakapan sehari penuh saat itu. Waktu sudah menunjukan pukul 21:15 WIB, saya beranjak dari ruang kantor utama Jatiwangi Art Factory menuju aula - bersebelahan, hanya terpisah sebuah pintu. Telihat dua bungkus rokok di atas meja serta beberapa puntung yang telah habis di muka asbak. Saya tarik kursi, lalu duduk di samping Pak Arief Yudi dan di depan si kang Nana. Sedangkan Beben duduk persis menghadap Pak Arief. Selintas kami mengobrol tentang rasa gembira sepulang Pak Kuwu (Kepala Desa) Ginggi dan seorang Camat Jatiwangi, Pak Faishal Robby - mereka baru pulang dari Fukuoka Asian Art Museum, Jepang. Karen...