Jumat, 21 Februari 2014
Malam itu, sekembalinya dari rumah Pak Adung Mulyadi usai meminta izin penayangan filem ‘rangjebor’, saya melewati ruang aula temu sekaligus ruang pamer Jatiwangi Art Factory. Di sana ada Pak Arief Yudi, Beben Nurberi dan si akang Nana Supriyatna. Saya sempatkan diri membuka laptop untuk cek email dan mencatat di buku tentang point-point percakapan sehari penuh saat itu.
Waktu sudah menunjukan pukul
21:15 WIB, saya beranjak dari ruang kantor utama Jatiwangi Art Factory menuju
aula - bersebelahan, hanya terpisah sebuah pintu. Telihat dua bungkus rokok di
atas meja serta beberapa puntung yang telah habis di muka asbak. Saya tarik
kursi, lalu duduk di samping Pak Arief Yudi dan di depan si kang Nana. Sedangkan
Beben duduk persis menghadap Pak Arief.
Selintas kami mengobrol tentang rasa
gembira sepulang Pak Kuwu (Kepala Desa) Ginggi dan seorang Camat Jatiwangi, Pak
Faishal Robby - mereka baru pulang dari Fukuoka Asian Art Museum, Jepang. Karena
sudah mengantuk, si kang Nana pamit untuk pergi tidur, tersisalah kami bertiga.
Saya mengawali percakapan dengan sebuah pertanyaan tentang preview ‘rangjebor’
melalui amatan Pak Arief. Dari amatannya, Saya mencatat ada empat point pada saat
penting.
Pertama, bagaimana ia melihat
gambar-gambar tentang peristiwa Safarah yang disusun secara beberapa bagian
dalam satu fragmen dan rentetan wawancara yang bertukar posisi. Tentang
kebiasaan tontonan pemberitaan yang akan membuat isu jadi lebih heboh dan
mencekam. Serta metode wawancara dalam dokumenter yang selalu dirasa terlalu flat (datar). Tapi dia tidak melihat cekaman dalam susunan footage ketika peristiwa Safarah itu
terjadi dengan suara yang sengaja dihilangkan justru membuat keterbalikan dari
ruang tatap muka itu sendiri - bagaimana ruang tatap muka dibuat begitu
mencekam, bagaimana cerita itu disusun berdasarkan peristiwa-peristiwa para
tenaga kerja, ruang mitos, dan aktivitas warga Jatiwangi itu sendiri.
Kedua, tentang metode zoom in dan
zoom out yang disajikan untuk penonton - bagaimana konstruksi itu bisa dibaca
dan menarik secara tontonan melalui beberapa pendekatan struktur gambar serta
peristiwa yang ada di dalamnya. Kesengajaan ataupun ketidaksengajaan menjadi
ruang penting bagi penonton dalam hal penyajian tontonan.
Ketiga dan keempat, tentang
ukuran gambar-gambar yang ada dibuat lebih terukur agar membekas dibenak para
penikmat filem setelah beranjak dari pintu ruang tonton yang dibuat agak
surealis. Baginya, cara seperti itu sangat menarik.
Obrolan kami selesai sekitar
pukul 22:19 WIB. Pesan facebook menunjukkan pukul 22:29 WIB. Saya
menyempatkan waktu berbicara dengan omdiki (Mahardika Yudha) tentang beberapa
perjalanan saya siang tadi. Sambil lalu saya segera menyudahi obrolan kami di
facebook karena ada perbedaan waktu lokasi antara kami berdua - omdiki di Papua
sedang dalam proses project “Media
Sehat Untuk Papua”. Jam di sana menunjukkan pukul 01.00 WIT, sudah masuk waktu
istirahat.
Beberapa menit kemudian saya
bersama Beben pergi keluar dari ruang aula Jatiwangi Art Factory untuk
mengambil satu frame tambahan berupa
adegan gambar di pematang sawah. Di perjalanan saya bertemu Kepala Dusun Herman
sedang bercengkrama bersama warga - Saya diberitahu bahwa ada warga yang baru
saja kehilangan motor.
*Catatan ini dibuat ketika proses
editing filem ‘rangjebor’ masih berlangsung.
*Tulisan ini disunting oleh Lulus
Gita Samudra

Komentar
Posting Komentar