Langsung ke konten utama

Rekaman Bagian Ketiga; CULTURAL STRATEGY

Tulisan ini dibuat ketika buku The International JEW, Membongkar Makar Zionisme Internasional pinjaman dari Rizki Ehsy Pangarso sudah selesai dibaca. dan alhamdulillahnya (rejeki anak yatim), dapat buku bacaan baru dari Ibrahim Aziz Sutansyah, karangan Douglas Holt & Douglas Cameron perihal tidak bergunanya model strategi dan inovasi konvensional, atau dalam bahasanya, mereka sebut sebagai keortodokan kultural.

silakan membaca buku terbitan PT Elex Media Komputindo ini, aku masih menciumi wanginya kertas buku yang kupinjam.  


MUNCULNYA BADAN TEATRIKAL YAHUDI

Ketika hasil mengerikan pengendalian Yahudi atas teater di atas dapat diterapkan semunya dengan poin keempat. Rahasia perubahan tersebut terletak pada semangat bangsa Yahudi untuk mengkomersialisasikan segala sesuatu yang mereka sentuh. Fokus sudah bergeser, dari masalah panggung menjadi masalah box office. Kebijakan Basi yang mengatakan “memberikan publik apa pun yang mereka inginkan” adalah kebijakan yang biasa dilakukan  seorang calo, bukannya seorang genius yang kreatif. Semangat ini memasuki teater bersamaan dengan invasi Yahudi pada 1885. Ketika itu, dua orang Yahudi berpenciuman tajam mendirikan sebuah perusahaan New York yang dikenal dengan agen-pemesanan, mereka menawarkan untuk mengambil alih sistem yang dianggap terlalu besar dan lamban. Sistem lama ini biasa dipergunakan manajer-manajer teater di kota-kota kecil yang saling berjauhan di seluruh negeri untuk mengatur jadwal perjanjian di musim berikutnya. Proses yang lama membutuhkan korespondensi berlarut-larut dengan para manajer produksi di daerah Timur dan banyak manajer lokal terpaksa menghabiskan waktu beberapa bulan di New York untuk memesan tempat untuk satu musim. Keuntungan pemesanan terpusat adalah menghemat banyak sekali waktu, tenaga dan pikiran manajer lokal. Semua detil diselesaikan untuknya. Dengan cara inilah dasar-dasar organisasi yang kelak bernama Badan Teatrikal diletakkan. Firma pemesanan yang melahirkan sistem pengendalian tangan besi atas teater adalah Klaw & Erlanger. Inilah kunci seluruh masalah yang menyebabkan kemerosotan panggung Amerika. Meningkatnya Badan Teatrikal ini menuntaskan penghancuran atas sentuhan pribadi yang mendasari hubungan antara manajer dan perusahaan. Sistem ‘pribadi’ yang lama memungkinkan tumbuhnya para genius sehubungan dengan hokum organik yang mengakui adanya tahap-tahap pengasuhan, pertumbuhan dan pemetikan hasil.

Fakta bahwa Yahudi memegang kendali atas dunia teater tidak dapat dijadikan dasar bagi kita untuk mengeluh. Jika orang-orang Yahudi tertentu, baik sendiri-sendiri maupun secara bersama-sama, berhasil merenggut bisnis menguntungkan ini dari tangan non-Yahudi, maka itu semata-mata masalah kepentingan bisnis saja. Keadaannya sama persis sana jika satu kelompok non-Yahudi menguasai kendali suatu bisnis dengan merebutnya dari kelompok non-Yahudi lainnya. Namun hal ini, seperti juga dalam masalah-masalah bisnis yang lain, harus dipertanyakan terlebih dahulu masalah etika sehubungan dengan bagaimana cara kendali tersebut diperoleh dan kemudian dimanfaatkan. Masyarakat umum biasanya mau menerima kenyataan bahwa satu kelompok memegang kendali atas sesuatu jika menimbulkan ketenangan hati. Dalam arti, kendali tersebut tidak dimanfaatkan untuk tujuan-tujuan anti-sosial. – Menurut Wikipedia Bahasa Indonesia yang merunut dalam ranah perilakunya adalah kurangnya pertimbangan untuk orang lain dan yang dapat menyebabkan kerusakan pada masyarakat, baik sengaja atau melalui kelalaian, karena bertentangan dengan perilaku pro-sosial, perilaku yang membantu atau bermanfaat bagi masyarakat.

Kenyataan bahwa manajer-manajer produksi non-Yahudi di masa-masa lalu meninggal dunia dalam keadaan miskin, sementara manajer-manajer produksi Yahudi mendadak sangat kaya raya, merupakan indikasi bahwa manajer-manajer non-Yahudi adalah seniman-seniman yang lebih baik dan pebisnis-pebisnis yang lebih buruk dibandingkan manajer Yahudi. Paling tidak pebisnis yang lebih buruk, mungkin; dan yang kebetulan bekerja dalam satu sistem dengan tujuan utama untuk memproduksi sandiwara, dan bukan hanya keuntungan semata-mata.

Datangnya kendali Yahudi telah menempatkan teater pada suatu dasar yang lebih komersial daripada selama ini orang banyak ketahui. Begitu jelas menunjukkan bahwa ide penerapan badan ini bagi teater di dalamnya benar-benar telah diterapkan pada industri ini.

Badan Teatrikal yang berawal sebagai kelompok Yahudi pada awal abad ke-20 telah menguasai penuh bidang ini. Sistem ini telah menyusutkan peran semula sebagai sebuah seni menjadi sebuah jam penunjuk waktu. Sistem penerimaan uang yang bekerja dengan ketepatan penuh pada sebuah pabrik yang dikendalikan dengan baik, sistem ini telah menindas individualitas, inisiatif, membunuh kompetisi, dan mendepak manajer independen dan para jenius asli. Kendali atas teater-teater yang dulu berada di kota-kota strategis, agen-agen pemesanan gelap bagi artis-artis dan produksi-produksi, serta teater independen, dan perusahaan saham yang tidak kebagian bisnis akibat dari tarif luar biasa tinggi untuk sandiwara-sandiwara di teater-teater regular milik Badan Teatrikal, telah memenuhi kepentingan Yahudi yang lain. Industri filem mulai menyeruak maju. Industri ini sejak awal sudah menjadi usaha kaum Yahudi. Tidak perlu mengusir-usir kaum non-Yahudi, karena pada dasarnya kaum non-Yahudi tidak pernah punya peluang memasuki industri tersebut. Karena itu, pengusiran manajemen teater dan perusahaan-perusahaan saham telah mendepak teater-teater kosong dan menggantikan dengan ‘bioskop’. Sekali lagi, keuntungan akhirnya jatuh ke tangan satu kelompok rasial tertentu.

BAGAIMANA PERUSAHAAN SOSIAL
DAPAT MENGATASI JURANG KULTURAL

Dunia kini dibanjiri oleh pengusaha sosial yang ingin memecahkan masalah sosial dan lingkungan melalui bisnis yang dirancang untuk mendorong terjadinya perubahan sosial­­–­–sebuah pendekatan yang sering disebut sebagai perusahaan sosial. Perusahaan-perusahaan ini serta beberapa bidang terkait lainnya (inovasi sosial, kewirausahaan sosial, dan kegiatan filantropi) berkembang pesat sejak peralihan abad. Perkembangan ini didukung pula dengan peningkatan prasarana yang mutakhir dan mendapat pendanaan yang memadai untuk memberikan bimbingan usaha bagi perubahan sosial, melatih pengusaha sosial, dan memberi bantuan modal usaha kepada pengusaha yang memiliki konsep inovasi sosial terbaik. Di tahun-tahun awal  perkembangan pesat rabah ini, pendukungnya berusaha memfasilitasi beberapa usaha yang baru berdiri. Asumsinya adalah, jika jumlah pengusaha yang meluncurkan beberapa perusahaan tersebut memadai, pasti ada beberapa di antara perusahaan itu yang berhasil. Sayangnya, meskipun prasarana baru ini telah membantu menggerakkan ribuan UKM yang inovatif dan memiliki misi perubahan sosial yang menakjubkan, hanya sedikit yang dapat berkembang sampai pada keadaan yang memungkinkan untuk menciptakan dampak sosial dan lingkungan. Banyak pimpinan perusahaan sosial bertanya-tanya, mengapa perusahaan sosial tidak dapat berkembang?

Mengapa hanya sedikit saja perusahaan sosial yang berhasil tinggal landas dan mampu menciptakan dampak sosial yang luas, sedangkan sebagian besar perusahaan sosial lainnya hanya mampu berkutat di segmen pasar aktivis? Pendapat penulis, perusahaan sosial yang ingin membidik pasar konsumen, faktor terpenting saat ini adalah branding. Perusahaan sosial gagal berkembang karena mereka menggunakan strategi branding yang tidak sesuai, sehingga mereka terjatuh ke dalam jurang kultural. Inovasi kultural harus dapat menjembatani jurang ini.


Inovasi kultural merupakan hal yang penting bagi perusahaan sosial, inti dari perusahaan sosial ini adalah pemikirannya tentang perubahan sosial––menggunakan bisnis sebagai cara  untuk menangani masalah sosial dan lingkungan tertentu. Memasarkan pemikiran ini dengan cara yang menarik di mata konsumen massalnya adalah kunci untuk mengembangkan usaha yang dapat mempengaruhi perubahan sosial. Perusahaan sosial umumnya membuat merek secara eksplisit dan literal––mereka menyuarakan pemikiran mereka sebagai pernyataan misi yang deklaratif. Namun perusahaan yang mengikuti pendekatan ini biasanya terjerumus ke dalam apa yang penulis sebut sebagai jurang kultural dan mematikan potensi untuk berkembangnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

rangjebor

Krisis moneter tahun 1998 menyebabkan banyak pabrik genteng di Jatiwangi bangkrut, memicu pengangguran dan mendorong sebagian warga Jatiwangi meninggalkan tanah kelahiran untuk bekerja ke daerah lain. Jatiwangi pun menjadi penghasil TKW sejak saat itu. Di sisi lain, masyarakat tani Jatiwangi juga menghadapi persoalan: hama tikus. Berbagai versi cerita/mitos tentang hama tikus berkembang di masyarakat, mulai dari perusakan sawah di masa ‘ngapat’ hingga ‘tikus raksasa’ di ladan g tebu. Filem ini menghadirkan dua narasi tersebut ke dalam satu jalinan konstruksi tentang pergeseran dari ‘mitos’ tradisional ke mitos baru: dari ‘pelindung’ budaya luar beralih ke ‘mimpi’ akan kemapanan yang ‘dipanen’ dari negeri seberang. The 1998 monetary crisis caused the collapse of many roof tile factories in Jatiwangi, triggering the rise of unemployment and encouraging the people of Jatiwangi to leave their home to work in other regions. Jatiwangi has been known for its migrant women wo...

Tidak Punya Konsep Politik Kebudayaan filem Nasional Lesu

     Mendung masih meliputi filem nasional yang masih lesu, sementara Festival Filem Indonesia (FFI) yang diselenggarakan tiap tahunnya, pada 1993 kemarin sepi dari kegiatan tersebut. Tapi menurut sutradara terbaik FFI 1992, Chaerul Umam, banyak hal penyebab filem Indonesia lesu di antaranya adalah situasi persaingan yang tidak wajar dengan AS.     “Dari persaingan itu, filem-filem AS seenaknya masuk begitu saja tanpa ada seleksi atau saringan.” Kata Chaerul Umam dalam perbincangan khusus dengan Surat Kabar Merdeka, awal pekan ini di Jakarta. Penyebab lainnya, adalah masalah pendidikan perfileman untuk orang-orang filem sendiri tidak digalakkan. “Sebetulnya kita bisa saja menyekolahkan sineas-sineas kita keluar negeri.   Sebab, kesenian filem itu 75 persen kesenian tekhnologi, sementara kita dengan tekhnologinya belum menguasai,” ujar sutradara yang akrab dipanggil mamang ini.     Walau diakui juga bahwa kelesuan perfileman nasional kes...
................................ ............ ................ ......... ... ..................... II