Mendung
masih meliputi filem nasional yang masih lesu, sementara Festival Filem
Indonesia (FFI) yang diselenggarakan tiap tahunnya, pada 1993 kemarin sepi dari
kegiatan tersebut. Tapi menurut sutradara terbaik FFI 1992, Chaerul Umam,
banyak hal penyebab filem Indonesia lesu di antaranya adalah situasi persaingan
yang tidak wajar dengan AS.
“Dari
persaingan itu, filem-filem AS seenaknya masuk begitu saja tanpa ada seleksi
atau saringan.” Kata Chaerul Umam dalam perbincangan khusus dengan Surat Kabar Merdeka,
awal pekan ini di Jakarta. Penyebab lainnya, adalah masalah pendidikan
perfileman untuk orang-orang filem sendiri tidak digalakkan. “Sebetulnya kita
bisa saja menyekolahkan sineas-sineas kita keluar negeri. Sebab, kesenian filem itu 75 persen kesenian
tekhnologi, sementara kita dengan tekhnologinya belum menguasai,” ujar
sutradara yang akrab dipanggil mamang ini.
Walau
diakui juga bahwa kelesuan perfileman nasional kesalahan orang filem sendiri
tapi bukan satu-satunya dan semua itu disebabkan orang-orang filem tidak punya
kesempatan diri mengekspresikan secara bebas. Bagaimana kita membuat filem
bagus kalau kondisi itu tidak ada?
“saya
paling benci kalau orang menuduh kelesuan filem nasional disebabkan orang-orang
filem, itu goblok orang yang bicara. Walau orang filem salah satunya tapi bukan
nomor satu, ada yang lain-lain, karena pemerintah, karena mahasiswa, karena
bangsa ini sendiri, bukan karena orang filem sendiri,” tutur pria yang pernah menjabat Ketua Kine Klub
Indonesia.
Tentunya
kelesuan filem tidak dibiarkan begitu saja pasti ada upaya-upaya kebangkitan
lagi. Seandainya hal-hal yang kekurangan itu dapat ditanggulangi dan pendidikan
di bidang filem digalakkan. Untuk menyetop filem Amerika tidak usah, biarkan
saja mereka beredar, tapi dalam hal-hal yang wajar. Yang perlu kita galakkan
adalah perbaikan-perbaikan filem kita sendiri dari segi tekhnis dan segalanya,”
ujar Mamang dengan nada sedikit tinggi.
Mengenai pembendungan filem AS di Perancis dan Spanyol, menurutnya adalah jelas, sebab Perancis dan Spanyol mempunyai politik kebudayaan sedangkan Indonesia tidak punya. "Karena, kita tidak mempunyai politik kebudayaan dan kita tidak punya konsep kebudayaan. Bagaimana melindungi kebudayaan ini dari kehancuran? Tidak ada,” tegasnya. Penafsiran kebudayaan selama ini hanya dilihat tari-tarian, lukisan, misi kebudayaan ke luar negeri.
Mengenai pembendungan filem AS di Perancis dan Spanyol, menurutnya adalah jelas, sebab Perancis dan Spanyol mempunyai politik kebudayaan sedangkan Indonesia tidak punya. "Karena, kita tidak mempunyai politik kebudayaan dan kita tidak punya konsep kebudayaan. Bagaimana melindungi kebudayaan ini dari kehancuran? Tidak ada,” tegasnya. Penafsiran kebudayaan selama ini hanya dilihat tari-tarian, lukisan, misi kebudayaan ke luar negeri.
“Tapi
bagaimana filem amerika memaksakan diri masuk ke Indonesia secara bebas,
bingung kita. Sebab
dari segi kebudayaan, filem adalah luar biasa, bisa menghancurkan, bisa
membangkitkan, ini penyebab kelesuan dan filem nasional salah satunya,” ungkap
Chaerul lirih.
Untuk
FFI 1993 yang sempat tertunda adalah
salah satu bukti filem nasional sedang lesu. Untuk mengikuti jejak-jejak Perancis
dan Spanyol, menurutnya, sama sekali Indonesia tidak bisa. Sebab, Perancis dan
Spanyol jelas mempunyai konsep kebudayaan, Indonesia tidak. Tentang pembacaan
puisi saja sudah menimbulkan dugaan, belum dibaca sudah dilarang. Bila ada
keributan, itu tugas polisi, berarti mereka tidak mengenal kebudayaan, tidak bisa
menempatkan pada posisinya.
Perancis
dengan konsep kebudayaannya menyebabkan tidak sembarangan orang bisa masuk. Dari
segi Bahasa misalnya, orang Perancis tidak mau berbahasa Inggeris, ini bukti
bahwa begitu selektifnya Perancis terhadap kebudayaan luar. Akan tetapi menurut
Mamang, Perancis dan Spanyol tidak begitu lama, diperkirakan sebentar lagi juga
mereka jebol. Pada dasarnya karena filem Amerika Serikat sedang kuat dipasaran,
dan filem AS satu-satunya bentuk industri yang kuat.
“Sebaliknya
melihat filem kita, tidak masuk ke mana-mana, masih dalam kerajinan tangan,
masih kegiatan iseng, kalau ada syukur, kalau
tidak, ya sudah tidak apa-apa. Lihat produsernya masih angin-anginan, itu
tandanya iseng. Filem sedang ramainya bikin, filem lagi sepi tinggalin,”
tuturnya melengkapi.
Di dalam
filem memang kepentingan-kepentingan bercampur jadi satu. Baik itu politik
misalnya kebijaksanaan pemerintah tentang pemilihan tema-tema filem nasional,
itu kaitannya dengan politik, orang filem tidak bebas mengungkapkan kebobrokan
polisi. “Padahal kalau tema itu bisa digarap akan menarik. Dari segi itu saja
sudah ada kelemahan, betapa politik itu campur di dalamnya. Soalnya ekonomi, misalnya
sekarang yang laku buka-buka paha, ayo bikin, itu juga soal ekonomi, “ tegas
Chaerul Umam.
Salah
satu kendala lainnya pada perfileman kita menurutnya adalah karena informasi
dan publikasi terhadap filem-filem yang bagus, hampir tidak ada artinya, tidak
sebanding dengan publikasi dan informasi filem-filem yang jelek. Sedikit saja
kejelekan tentang filem langsung itu cepat mengaung. Di sini harus adanya
balance (keseimbangan) terhadap informasi filem-filem yang bagus. Ini yang
menyebabkan masyarakat jauh dari filem nasional.
Kuncinya
semua ini adalah pemerintah tentang pembebasan tema-tema dan lain-lain yang
menyangkut kelesuan filem nasional. Pembebasan tema di sini agar filem-filem
kita dapat variatif sehingga menarik. Bebas sekali juga tidak, sebab orang
filem tidak banyak menuntut kebebasan. Karena untuk teknologi
masih jauh, masih 25 tahun lagi dibandingkan Amerika.
“Padahal seharusnya kita bisa cepat bila saja mulai sekarang pemerintah lebih peduli lagi untuk perfileman nasional disekolahkannya insan filem ke luar negeri, atau mendatangkan peralatan canggih dari luar agar kita dapat mempelajari,” tegasnya.
“Padahal seharusnya kita bisa cepat bila saja mulai sekarang pemerintah lebih peduli lagi untuk perfileman nasional disekolahkannya insan filem ke luar negeri, atau mendatangkan peralatan canggih dari luar agar kita dapat mempelajari,” tegasnya.
Beda
Memang
beda dengan zamannya Usmar Ismail. Dulu beliau begitu memperhatikan
sineas-sineas seperti Asrul Sani, Wahyu Sihombing dan lain-lain. Semuanya di
sekolahkan ke luar negeri. Tapi sekarang mana filem seperti bukan lagi
merupakan sesuatu yang penting. “Walau saya tidak ambisi di filem, tapi peduli
saya pada filem ada, misalnya tentang mendirikan Kine Klub di berbagai
Indonesia agar informasi filem-filem nasional tetap ada. Semua ini didiskusikan
oleh mahasiswa yang nantinya mereka sampaikan pada masyarakat. Saya sendiri
tidak ngerti kenapa pemerintah bebas saja, tidak seperti di Perancis dan
Spanyol.
“Malaysia masih mendingan menolak parabola guna mencegah budaya lain yang masuk, sedangkan kita bebas saja menaruh parabola dimana-dimana, laser disc berkeliaran. Justru filem kita disensor habis-habisan buat apa, berarti Pemerintah sendiri tidak ada garis kebijaksanaan yang jelas, ini salah satu contoh kita tidak mempunyai policy” ungkapnya menjelaskan.
“Malaysia masih mendingan menolak parabola guna mencegah budaya lain yang masuk, sedangkan kita bebas saja menaruh parabola dimana-dimana, laser disc berkeliaran. Justru filem kita disensor habis-habisan buat apa, berarti Pemerintah sendiri tidak ada garis kebijaksanaan yang jelas, ini salah satu contoh kita tidak mempunyai policy” ungkapnya menjelaskan.
Untuk
orang-orang filem agar filem Indonesia lebih baik memang semuanya
butuh belajar banyak dan merenung. Sedang untuk
persaingan filem Amerika, pemerintah mewajarkan. Tapi pendidikan digalakkan seperti di sekolahkannya
sineas-sineas muda agar generasi mendatang dapat membawa perubahan filem
nasional yang sedang lesu darah. Untuk pers filem-filem yang jelek disarankan
tidak usah diinformasikan yang bagus-bagus, anggap saja yang jelek itu sampah.
“Misalnya
filem Indonesia yang bagus lima, yang lima saja yang
dipublikasikan, bukan seratus yang diasyikkan, dibesar-besarkan. Di sini juga
fungsi pers dalam menentukan majunya filem Indonesia sangat besar,” tutur
Chaerul Umam dan optimis bahwa filem Indonesia akan bangkit dari kelesuannya.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Disandur dari fotokopian
Sinematek dan disesuaikan kembali oleh Reza Waluyo Jati Bahar dan Mohammad Fauzi. Tulisan ini terbit pada 16 Januari, tahun 1994, dalam surat kabar Merdeka pada
halaman 11. Chaerul Umam sendiri adalah seorang sutradara Indonesia kelahiran Tegal, 4
April 1943. Ia salah satu pegiat Kine Klub di
Indonesia.
Komentar
Posting Komentar