Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2016

Rekaman Bagian Pertama; Hollywood Modern

Para Pengusaha Filem      Bila kritik terhadap sistem studio menyebut sistem itu sebagai jalur perakitan dalam pabrik, sejak tahun 1970-an, tuduhannya adalah bila hollywood sekarang dikelola oleh para agen dan pengacara yang kurang bergairah, yang dapat membuat kesepakatan-kesepakatan hebat tetapi tidak membuat filem-filem itu dan tidak  memahami sisi artistik dari perfileman. 'Saya mengikuti rapat-rapat kreatif,' tulis william goldman, 'hanya untuk menyadari setengah jam kemudian dalam rapat itu bahwa pihak produser atau eksekutif tidak membaca naskah saya sama sekali.' Jon Peters yang pernah menjadi pesohor penata rambut dan pacar Barbra Streisand sebelum menjadi produser The Colour Purple, The Witchesof Eastwick dan Bonfire of the Vanities - semua diadaptasi dari novel - pernah mengakui: 'saya tidak benar-benar membaca sebuah buku.' Tetapi kenyataan ini seperti tidak mengurangi karir memproduksi filem yang sangat sukses bagi Peters atau membuatnya tidak...

Tidak Punya Konsep Politik Kebudayaan filem Nasional Lesu

     Mendung masih meliputi filem nasional yang masih lesu, sementara Festival Filem Indonesia (FFI) yang diselenggarakan tiap tahunnya, pada 1993 kemarin sepi dari kegiatan tersebut. Tapi menurut sutradara terbaik FFI 1992, Chaerul Umam, banyak hal penyebab filem Indonesia lesu di antaranya adalah situasi persaingan yang tidak wajar dengan AS.     “Dari persaingan itu, filem-filem AS seenaknya masuk begitu saja tanpa ada seleksi atau saringan.” Kata Chaerul Umam dalam perbincangan khusus dengan Surat Kabar Merdeka, awal pekan ini di Jakarta. Penyebab lainnya, adalah masalah pendidikan perfileman untuk orang-orang filem sendiri tidak digalakkan. “Sebetulnya kita bisa saja menyekolahkan sineas-sineas kita keluar negeri.   Sebab, kesenian filem itu 75 persen kesenian tekhnologi, sementara kita dengan tekhnologinya belum menguasai,” ujar sutradara yang akrab dipanggil mamang ini.     Walau diakui juga bahwa kelesuan perfileman nasional kes...

Penonton Hanya Menjadi Objek Film Nasional

Jakarta – Penonton adalah raja. Karena raja, pihak produser dan orang-orang filem harus memenuhi selera mereka, selera pasar. Jangan cekoki penonton dengan filem yang tidak berkualitas, sebab daya pikir mereka semakin tumpul.     Menurut Menteri Penerangan Harmoko, salah satu kelemahan perfileman nasional yang selama ini belum disadari adalah karena orang-orang filem dan produser selalu menjadikan penonton sebagai objek filem. Sehingga apa yang disodorkan mereka terima, tanpa ada kesempatan melakukan seleksi. Kualitas cerita dari filem yang ‘ditelorkan’ nyaris tidak pernah memenuhi selera penonton. Kondisi yang berkepanjangan ini telah menciptakan citra yang kurang menguntungkan bagi perfileman nasional. Akibatnya, masyarakat meninggalkan filem Indonesia dan beralih ke filem asing serta sinetron yang tengah berjaya.     Sepuluh tahun terakhir ini, kata harmoko dalam sambutannya yang disampaikan Dirjen Radio Televisi dan Filem (RTF) Dewa Brata pada p...