Langsung ke konten utama

Penonton Hanya Menjadi Objek Film Nasional


Jakarta – Penonton adalah raja. Karena raja, pihak produser dan orang-orang filem harus memenuhi selera mereka, selera pasar. Jangan cekoki penonton dengan filem yang tidak berkualitas, sebab daya pikir mereka semakin tumpul.


../Harmoko.jpg

    Menurut Menteri Penerangan Harmoko, salah satu kelemahan perfileman nasional yang selama ini belum disadari adalah karena orang-orang filem dan produser selalu menjadikan penonton sebagai objek filem. Sehingga apa yang disodorkan mereka terima, tanpa ada kesempatan melakukan seleksi. Kualitas cerita dari filem yang ‘ditelorkan’ nyaris tidak pernah memenuhi selera penonton. Kondisi yang berkepanjangan ini telah menciptakan citra yang kurang menguntungkan bagi perfileman nasional. Akibatnya, masyarakat meninggalkan filem Indonesia dan beralih ke filem asing serta sinetron yang tengah berjaya.

    Sepuluh tahun terakhir ini, kata harmoko dalam sambutannya yang disampaikan Dirjen Radio Televisi dan Filem (RTF) Dewa Brata pada pembukaan Dialog Perfileman Nasional, di Hotel Horison, Kamis (28/3) sore. Kondisi penonton kita sudah sangat berbeda. Tingkat apreasi mereka semakin meningkat, sesuai tataran cita rasa yang dimilikinya.

    Sebab itu para insan perfileman juga harus bisa menyesuaikan tingkat apreasi penonton dengan jenis filem yang disodorkan. Artinya, para sineas mampu menyiasati selera penonton tadi. Berdasarkan penelitian, ada tiga tataran penonton yang perlu diperhatikan dalam mengembangkan perfileman nasional. Pertama, penonton dengan cita rasa tinggi. Bagi mereka,  menonton filem harus dapat memuaskan minat intelektualnya. Kelompok ini menyaksikan filem bukan tertarik karena kecantikan artisnya, tetapi semata-mata untuk melihat penyajian cerita sekaligus, menilai kualitas gambar, musik, suara serta penyutradaraan.

    Kedua, penonton berselera menengah. Mereka menonton filem selain menambahkan pengetahuan dan menikmati karya seni, juga menempatkan filem sebagai hiburan pelepas rutinitas hidup. Ketiga, penonton yang bercitarasa sederhana. Golongan ini menyaksikan filem untuk keluar dari kemelut hidup, yang melakukan seleksi. Yang terpenting bagi mereka, dapat melihat bintang pujaannya. Di samping itu, masih ada pengamat filem yang mempunyai pengetahuan tentang filem yang luas dan analisanya mendalam.

     Selama ini, orang-orang filem luput melihat adanya pergeseran tingkat apresiasi dari tataran sederhana ke tingkat menengah lain. Terbukti dalam konsep pembuatan filem yang hanya mengemas filem arus bawah atau mainstream filem. Padahal, yang terjadi sekarang, sebagian besar masyarakat telah meninggalkan filem arus bawah itu. Filem nasional yang dihasilkan saat ini, sangat bertolak belakang dengan kondisi dan selera masyarakat penonton. Sebagian besar filem yang beredar hanya untuk konsumsi kelompok penonton bercitarasa rendah yang cenderung menikmati adegan berselera rendah pula.

../Teguh_Karya.jpg

            Produser hampir tak pernah menyentuh filem untuk kelompok lain. Akibatnya, penonton lari kepada filem asing yang mutunya relatif lebih baik. Insan perfileman harus bisa mengkaji sebelum satu filem diproduksi. Sementara itu, Teguh Karya menilai, kelemahan yang paling mendasar di dunia perfileman nasional adalah rendahnya kualitas sumberdaya manusia. Para penulis naskah tidak bisa menggali tema cerita yang akrab dengan penonton, yang sebenarnya banyak terjadi dilingkungan masyarakat. Sebetulnya, karena faktor budaya dan kedekatan, masyarakat lebih suka menyaksikan filem nasional ketimbang filem asing yang jauh dari budaya mereka. ini merupakan kelebihan yang tidak dimiliki asing. “Tapi sayangnya teman-teman lebih suka mengangkat cerita bermutu rendah, yang hanya disukai golongan tertentu,” papar Teguh. (Kho)

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Disandur dari fotokopian Sinematek. Bertanggal 03 Maret, tahun tidak terlihat. Sambutan Harmoko dalam Dialog Perfileman Nasional (Menteri Penerangan masa jabatan 1983 - 1997).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

rangjebor

Krisis moneter tahun 1998 menyebabkan banyak pabrik genteng di Jatiwangi bangkrut, memicu pengangguran dan mendorong sebagian warga Jatiwangi meninggalkan tanah kelahiran untuk bekerja ke daerah lain. Jatiwangi pun menjadi penghasil TKW sejak saat itu. Di sisi lain, masyarakat tani Jatiwangi juga menghadapi persoalan: hama tikus. Berbagai versi cerita/mitos tentang hama tikus berkembang di masyarakat, mulai dari perusakan sawah di masa ‘ngapat’ hingga ‘tikus raksasa’ di ladan g tebu. Filem ini menghadirkan dua narasi tersebut ke dalam satu jalinan konstruksi tentang pergeseran dari ‘mitos’ tradisional ke mitos baru: dari ‘pelindung’ budaya luar beralih ke ‘mimpi’ akan kemapanan yang ‘dipanen’ dari negeri seberang. The 1998 monetary crisis caused the collapse of many roof tile factories in Jatiwangi, triggering the rise of unemployment and encouraging the people of Jatiwangi to leave their home to work in other regions. Jatiwangi has been known for its migrant women wo...

Tidak Punya Konsep Politik Kebudayaan filem Nasional Lesu

     Mendung masih meliputi filem nasional yang masih lesu, sementara Festival Filem Indonesia (FFI) yang diselenggarakan tiap tahunnya, pada 1993 kemarin sepi dari kegiatan tersebut. Tapi menurut sutradara terbaik FFI 1992, Chaerul Umam, banyak hal penyebab filem Indonesia lesu di antaranya adalah situasi persaingan yang tidak wajar dengan AS.     “Dari persaingan itu, filem-filem AS seenaknya masuk begitu saja tanpa ada seleksi atau saringan.” Kata Chaerul Umam dalam perbincangan khusus dengan Surat Kabar Merdeka, awal pekan ini di Jakarta. Penyebab lainnya, adalah masalah pendidikan perfileman untuk orang-orang filem sendiri tidak digalakkan. “Sebetulnya kita bisa saja menyekolahkan sineas-sineas kita keluar negeri.   Sebab, kesenian filem itu 75 persen kesenian tekhnologi, sementara kita dengan tekhnologinya belum menguasai,” ujar sutradara yang akrab dipanggil mamang ini.     Walau diakui juga bahwa kelesuan perfileman nasional kes...
................................ ............ ................ ......... ... ..................... II