Langsung ke konten utama

rangjebor

Filem ”rangjebor” merupakan filem dokumenter keenam Forum Lenteng. Filem yang mengisahkan masyarakat suatu desa di daerah Jatisura. Bagaimana tumbuh-kembang masyarakatnya berkaitan erat dengan para pekerja, pertanian, rutinitas pabrik genteng dan daerah ladang tebu yang menjadi bagian dari cara hidup di sana. Berawal dari program residensi Village Video Festival 3th dalam “TV Program” di tahun 2011, yang diselenggarakan Jatiwangi Art Factory (JAF). Saya bersama Mahardika Yudha, menetap tinggal selama satu bulan di rumah warga yang sekaligus menjadi bapak asuh kami, Pak Wira atau biasa kami menyebutnya Pak Kumis.

Kami memulai dengan mendatangi rumah-rumah warga di blok kliwon, membicarakan tentang program tayangan yang ‘ada’ dan yang pantas ‘ada’ menurut mereka; bagaimana teritori tontonan dan warga itu membaur-tampak sebagai bagian prilaku masyarakat kini. Aktivitas riset mengenai tontonan malah mempertemukan saya dengan hal lain seputar kehidupan di sana, dimana anak-anak muda usia produktif yang tidak terlihat karena mereka memilih bekerja ke luar kota ataupun bekerja di luar negeri sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Beberapa keluarga yang saya temui lebih memilih pekerjaan di luar daerahnya, karena penghasilan mereka di pabrik genteng ataupun sawah serasa kurang terpenuhi. Dalam sehari, mereka mendapatkan upah sekira Rp 30-35 ribu. Tentunya, jumlah tersebut tidak bisa memberikan kepastian tentang kehidupan hari ‘esok’.

Bermula dari obrolan dengan Pak Aceng, tentang Blok Kliwon di malam hari. Ia bercerita tentang fenomena akan panggilan nama jalan rumahnya, yang orang-orang biasa sebut ‘Gang Dollar’. Bagaimana warga setempat banyak yang pergi keluar negeri untuk bekerja sebagai pekerja rumah-tangga melalui proses penyaringan Sponsor dan PT. Bagaimana peran Sponsor dalam mencari orang-orang setempat dengan iming-iming ‘keberhasilan’ beserta naiknya taraf hidup keluarga. Ia juga bercerita tentang Bi Kaci, orang pertama yang pergi ke Arab Saudi tahun 1981. Tentang para pemuda-pemuda desa yang lebih memilih bekerja di luar daerahnya, dari obrolan serta cerita itu maka perjalanan merekam kami mulai.

Saya bertamu ke rumah Ibu Samroh, seorang tenaga kerjawati spesialis Arab Saudi, kebetulan ia sedang berada di rumah dan sedang menunggu kelengkapan data-data untuk kembali ke Arab Saudi. Ia menceritakan tentang perjalanannya selama ini, bagaimana untuk pertama kalinya pergi ke Riyadh di tahun 1996 selama empat bulan dan tidak ‘membawa hasil’ karena kabur dari rumah tempat bekerja. Pada tahun 2000 sampai 2002, ia mencoba bekerja kembali di Arab Saudi, tepatnya di daerah Taib, kali-kedua ia beruntung, karena bekerja di rumah orang yang memperlakukannya dengan baik. Lalu ia mengingat-ingat kembali di masa bekerja rentang tahun 2002 – 2005 (di akhir masa kerja Ibu Samroh kabur) dan jeda setengah tahun di tahun 2006 - 2008 kembali ke Riyadh, bagaimana proses bertahan dari si empunya rumah dengan berbagai keadaan yang harus diterima sebagai bagian dari konsepsi hidup untuk ‘hasil’ keluarga di rumah.

Tahun 2008 – 2011, Ibu Samroh hijrah dan kali ini ke daerah Tabuk. Di tempat ini, ia lebih banyak merasakan kebaikan si empunya rumah sebagai penggiring kisahnya. Bagaimana ia diajak umrah, ke pesta pernikahan keluarga. Pada saat itu (Desember 2011), ia sedang menunggu keberangkatannya kembali ke tanah Saudi.

Pada tahun 2014, saya bersama Mahardika Yudha ke JAF untuk preview filem ini, saya dikabarkan bahwa Ibu Samroh baru kembali dari Bahrain di akhir Desember 2013 dan sedang ada dirumahnya. Selekasnya saya kesana untuk bersilahturahmi dan meminta izin penayangan filem ini sebagai bagian informasi ke khalayak. Setibanya di rumah Ibu Samroh bersama Pak Kepala Dusun Herman (salah-seorang tokoh di filem) dan Pak Eko (Salah-seorang tokoh di filem dan suami Ibu Samroh), Ibu coba mengingat kembali wajah saya, “eh... si A’a yang waktu itu ke sini ya”, dengan lontaran senyum yang saya ingat betul dikepala saya. Dari situ, pembicaraan mengalir penuh suka cita tentang perjalanannya selama di Bahrain, bagaimana situasi disana yang penuh dengan ide kebebasannya, para perempuan yang memenuhi jalanan kota dan pusat perbelanjaan yang lebih terbiasa tanpa kerudung dan celana pendek. Bagaimana si pemilik rumah selalu minum minuman beralkohol setibanya di rumah, bisnis prostitusi, serta keadaan politik kini antara Indonesia dan Saudi Arabia. Sesudahnnya menonton filem ini, mereka mengizinkan filem ini ditayangan jika ini baik dan menjadi bagian dari informasi ke khalayak.

Pada Jumat, 14 Februari, saya bersama Mahardika Yudha sedang mempersiapkan materi preview filem rangjebor ini di kantor JAF. Saya diberi kabar oleh Ghorie (Panggilan; Arie Syarifudin) ada Pak Herman di luar, secepatnya saya menemuinya. Ia tetap Pak Herman yang saya kenal di 2011, hidupnya penuh cerita dan tawa. Pertemuan singkat sekitar 30 menit kurang-lebih, ia mengabarkan tentang Teh Yati yang sudah pulang ke rumah (Hilang selama 11 tahun). Badan saya gemetar, perasaan gembira dan kaget menjadi satu. Bersama rintikan gerimis kala sore itu, menjedakan kami untuk melanjutkan pekerjaan, ia sedang mempersiapan rapat desa dan berjanji untuk bertemu lagi esoknya.

Seminggu kemudian, saya pergi ke rumah keluarga Teh Yati untuk meminta izin penayangan filem. Saya berjalan bersama Pak Wira, di depan rumah ada perempuan sedang duduk menggengam telepon selular, sesekali melirik ke arah saya. Sesampainya di pintu rumah Ibu Indahsyah atau biasa dipanggil Bu Nonoh, saya dipersilahkan masuk, kami pun memulai menonton filem. Ada kegelisan tersendiri yang dari awal penyusunan filem ini sangat mengerubungi kepala kami, tentang membuka kembali ingatan-ingatan masa lalu sebagai bagian cerita kehidupan keluarga Ibu Nonoh.

Di tengah tontonan, Pak Hasanuddin pulang dari sawah. Ia adalah bapak dari Teh Yati. Ia menyapa kami dengan senyum ramahnya, saya bersalaman dan mengatakan bahwa filem tentang Jatiwangi sudah mulai rampung, tinggal penyelarasan warna dan suara. Ia duduk disamping kanan saya, sambil berjalannya filem, ia mulai mengisahkan kepulangannya Teh Yati ke rumah. Singkatnya, ia mengenalkan bahwa perempuan penggengam telepon selular itu ialah Teh Yati yang sudah kembali pulang ke rumahnya.

Dalam perjalanannya yang tanpa kabar, ia sempat bekerja di daerah Kuningan, Jakarta. Selama setengah tahun, ia mengumpulkan uang untuk kembali ke Jatiwangi. Teh Yati kini sudah bekerja kembali di pabrik Garmen di daerah Jatiwangi. Saat kembali, ia begitu bingung tentang perubahan yang ada kini, jalan-jalan rumah hingga orang-orang yang ia kenal. Saat itu di rumahnya, sedang dipersiapkan acara khitanan adiknya. Dan pertemuan itu penuh dengan ruang-ruang tanpa ungkap hanya kerutan-kerutan dahi dan binar mata sebagai bahasanya. Sore itu kami akhiri dengan lemparan senyum antara saya, Pak Wira, Teh Yati, Ibu Nonoh dan Pak Hasanuddin. Saya pun menghaturkan diri untuk kembali.

Bertemu Singa Di Tengah Desa

Desember 2011, sehabis ashar di kediaman Pak Adung Mulyadi, kami (Saya dan Pak Wira) berkunjung untuk melihat budidaya jamur miliknya. Ia banyak bercerita tentang aktivitasnya selain jadi ketua Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani), ia sehari-hari banyak dikunjungi para pembeli jamur yang biasanya para ibu rumah tangga ataupun para pedagang pasar.

Obrolan berlanjut di ruang tamu dengan ditemani istrinya, Ibu Latifah. Sore itu begitu hangat, penuh dengan obrolan-obrolan tentang situasi desa sampai pada penempatan patung singa di atas sumur Tama (Sumur tertua Jatisura). Ibu Latifah bercerita tentang penempatan patung menimbulkan keresahan tersendiri di masyarakat karena banyaknya penduduk desa yang kesurupan, dipercaya akibat penempatan patung tersebut.

Cerita rakyat dan pergerakan banyak tersimpan di sana, tentang cerita para pejuang di masa pendudukan Belanda, PKI dan DI/TII. Di tahun 2014, bersama Beben dan Tedy (teman dari JAF), saya kembali mengunjungi patung singa yang posisinya telah dipindahkan beberapa tahun sebelumnya ke pinggir jalan desa, yang awalnya berada di tengah jalan karena sumur Tama berada di sana. Saya punya keganjilan tersendiri ketika melihatnya, tentang fenomena patung singa itu sendiri, bagaimana riwayat tanah sunda tentang Harimau dan Prabu Siliwangi yang sangat kental di hikayat Kerajaan Pajajaran.

Di lain hari pada tahun 2011, Kepala Dusun (Kadus) Herman  banyak menceritakan tentang fenomena tikus yang menyerang desa hingga penamaan desa Jatisura itu sendiri yang berawal dari pohon jati yang tertusuk pohon lainnya hingga menembus ke sisi sebelahnya. Pak Herman selalu berbagi cerita, baik cerita desa ataupun cerita tentang pengalamannya sebagai juru foto pernikahan semasa muda yang kini ia sudah tinggali.

Semanis Tebu, Sekeras Kulitnya

Tahun 2013, saya bersama Lulus Gita Samudra pergi ke Jatiwangi, menggunakan motor melintasi jalur Pantura. Di perjalanan memasuki daerah Jatiwangi, saya melewati hamparan ladang tebu, tepatnya di daerah Jati tujuh. Selepas ashar, kami tiba di JAF. Selepas maghrib, kami berkumpul bersama teman-teman dari JAF dan Anita Silvia (Tinta) untuk menonton filem bersama di rumah Enin (Ibunda Arief Yudi, penggagas JAF). Tepat pukul 18.20 WIB, saya mendapat kabar dari Ibu lewat pesan singkat bahwa Bapak saya telah dipanggil Yang Maha Kuasa. Saya pun bergegas ke Jakarta.

Di tahun 2014 ini, saya berkunjung ke bekas PT. Pabrik Gula Jatiwangi yang kini telah beralih fungsi menjadi Inti Bagas Perkasa yang memproduksi kampas rem pesanan pabrik otomotif. Pada kunjungan itu, saya banyak mendengarkan cerita dari Pak Iskandar (Petugas Keamanan), bagaimana ia bekerja dari tahun 1985 sampai tutupnya di tahun 1997. Ia masih ingat betul bentuk fisik bangunan-bangunan yang telah dibongkar karena mengalami kebangkrutan dan dibeli pengembang pusat perbelanjaan. Kini, lahan yang tersisa dari pabrik itu hanya tiga hektar kurang-lebih, proses pembangunan kota yang selaras dengan ide tata ruang yang dirancang dengan baik sebagai identitas dan riwayat kota sangat penting dalam denah besar bentuk kota itu sendiri. Terakhir, saya bersama Mahardika Yudha melihat pembangunan jalan tol, pembangunan sejauh mata memandang.

Kini, saya tidak sedang mencari pembenaran ataupun kesalahan-kesalahan yang memang salah adanya. Tetapi, saya sedang bercerita tentang Jatiwangi dan masyarakat sekitar yang selaras dengan tumbuh-kembangnya riwayat kota serta pembangunan.

*Tulisan ini disunting kembali oleh Reza WJB

Komentar

Postingan populer dari blog ini

panah•TERARAH•panah

Tidak Punya Konsep Politik Kebudayaan filem Nasional Lesu

     Mendung masih meliputi filem nasional yang masih lesu, sementara Festival Filem Indonesia (FFI) yang diselenggarakan tiap tahunnya, pada 1993 kemarin sepi dari kegiatan tersebut. Tapi menurut sutradara terbaik FFI 1992, Chaerul Umam, banyak hal penyebab filem Indonesia lesu di antaranya adalah situasi persaingan yang tidak wajar dengan AS.     “Dari persaingan itu, filem-filem AS seenaknya masuk begitu saja tanpa ada seleksi atau saringan.” Kata Chaerul Umam dalam perbincangan khusus dengan Surat Kabar Merdeka, awal pekan ini di Jakarta. Penyebab lainnya, adalah masalah pendidikan perfileman untuk orang-orang filem sendiri tidak digalakkan. “Sebetulnya kita bisa saja menyekolahkan sineas-sineas kita keluar negeri.   Sebab, kesenian filem itu 75 persen kesenian tekhnologi, sementara kita dengan tekhnologinya belum menguasai,” ujar sutradara yang akrab dipanggil mamang ini.     Walau diakui juga bahwa kelesuan perfileman nasional kes...

MEREKA JANG MENJADI KORBAN SIA-SIA.

.... , Ketika pasukan-pasukan R.I. bergerak mendekati Madiun, pasukan-pasukan R.K.I. jang mengundurkan diri dari kota Madiun bergerak menudju keselatan. Ditengah jalan mereka terpisah mendjadi dua kelompok besar, jaitu sekelompok pasukan jang terus bergerak keselatan dibawah pimpinan Musso, sedang lainnja dipimpin oleh Amir. Pasukan Amir ini demi melihat daerah turugval basis mereka dilereng gunung Wilis telah djatuh ditangan pasukan-pasukan R.I., maka Amir memimpin pasukannja menudju kearah Barat dan terus kembali membelok keutara melalui hutan-hutan dilereng gunung Lawu dengan tudjuan daerah purwodadi atau daerah tjepu, Rembang, dimana mereka akan mengharapkan akan mendapatkan perlindungan dan bantuan dari rakjat. Kisah bergeraknja pasukan-pasukan komunis jang dipimpin oleh Amir kearah utara ini adalah merupakan kisah jang benar-benar menjeramkan bulu roma. Disetiap desa atau tempat jang dilalui pasukan ini djumlah pasukan semakin besar, karena mereka memaksa penduduk, terutama pem...