Langsung ke konten utama

Maaf Aku Memakai Cangkirmu..

lembaran dibuku siapa?

13.00 - 15.00 : Newsreel Documentary Gelora Indonesia

Pusat perfileman Haji Usmar Ismail (PPHUI), Lt. 4 samping Plaza Festival.




   Masih berputar-putar dikepala tentang sosok Pak Misbach Jusa Biran, rasanya sesal betul tidak sempat membuatkannya teh penghangat badan. Seorang pribadi yang bijak dan santun ide gagasannya, progresif dan seorang "keras kepala".
   
   Setelah menjadi saksi kuasa sinema dalam peradilan diotakku -seperti waktu hisab, umat manusia diperlihatkan kembali rekaman perjalanan hidupnya dalam alam pikirku-. Sepulang menonton filem dokumenter. Diantara besarnya gedung planetarium dan rimbunan pohon yang asing namanya, aku berjalan dengan si pembuat filem yang bercerita tentang Pak Misbach.



 
Aku buka lagi catatan penginggat alpa, "sekarang kita tidak lagi dipermukaan nji, makin jauh kedalam perlawanan sunyi senyap," ujarnya terdengar indah tapi serasa menakuti hati karena takut tersesat diperkebunan teh kepunyaan juragan cina.

    Sekarang aku disini menjadi saksi atas skat-skat ruangan satu ke ruangan yang lain, bangku-bangku penyaksi Indonesia and Expo 70 ber-language english yang tak kuhafal betul perfragmentnya, hanya gambar pesawat terbang take-off seingatku.




   Air mineral dalam cangkir, dua batang rokok dalam asbak dan halulalang keluar masuk orang-orang asing dipintu otomatis seperti menunggu gilirannya masing-masing. sulutan korek api pemberian teman ternyata tidak bisa menahan kegelisahanku, ya seperti itu, seperti sedia kala.. temanku hanya jejeran bangku kosong dengan dua orang penganggu yang sedang menendang-nendang kursi didepannya, tepatnya ditempat aku duduk.


# sampai saat ini, penonton setia hanya seputar si pembuat dan para temannya, periset dan operator projektor filem. belum pernah kutemui orang yang benar-benar tulus memeluknya, terkecuali Pak Misbach Jusa Biran Sang Arsip.

 

Sinematek dan Arkipel "Gelora Indonesia" :  - 1. Pemilu 1955. 2. Indonesia and Expo 70. 3. MPR 1967

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

rangjebor

Krisis moneter tahun 1998 menyebabkan banyak pabrik genteng di Jatiwangi bangkrut, memicu pengangguran dan mendorong sebagian warga Jatiwangi meninggalkan tanah kelahiran untuk bekerja ke daerah lain. Jatiwangi pun menjadi penghasil TKW sejak saat itu. Di sisi lain, masyarakat tani Jatiwangi juga menghadapi persoalan: hama tikus. Berbagai versi cerita/mitos tentang hama tikus berkembang di masyarakat, mulai dari perusakan sawah di masa ‘ngapat’ hingga ‘tikus raksasa’ di ladan g tebu. Filem ini menghadirkan dua narasi tersebut ke dalam satu jalinan konstruksi tentang pergeseran dari ‘mitos’ tradisional ke mitos baru: dari ‘pelindung’ budaya luar beralih ke ‘mimpi’ akan kemapanan yang ‘dipanen’ dari negeri seberang. The 1998 monetary crisis caused the collapse of many roof tile factories in Jatiwangi, triggering the rise of unemployment and encouraging the people of Jatiwangi to leave their home to work in other regions. Jatiwangi has been known for its migrant women wo...

Tidak Punya Konsep Politik Kebudayaan filem Nasional Lesu

     Mendung masih meliputi filem nasional yang masih lesu, sementara Festival Filem Indonesia (FFI) yang diselenggarakan tiap tahunnya, pada 1993 kemarin sepi dari kegiatan tersebut. Tapi menurut sutradara terbaik FFI 1992, Chaerul Umam, banyak hal penyebab filem Indonesia lesu di antaranya adalah situasi persaingan yang tidak wajar dengan AS.     “Dari persaingan itu, filem-filem AS seenaknya masuk begitu saja tanpa ada seleksi atau saringan.” Kata Chaerul Umam dalam perbincangan khusus dengan Surat Kabar Merdeka, awal pekan ini di Jakarta. Penyebab lainnya, adalah masalah pendidikan perfileman untuk orang-orang filem sendiri tidak digalakkan. “Sebetulnya kita bisa saja menyekolahkan sineas-sineas kita keluar negeri.   Sebab, kesenian filem itu 75 persen kesenian tekhnologi, sementara kita dengan tekhnologinya belum menguasai,” ujar sutradara yang akrab dipanggil mamang ini.     Walau diakui juga bahwa kelesuan perfileman nasional kes...
................................ ............ ................ ......... ... ..................... II