Langsung ke konten utama

Sebuah Karya Sastra Dari Buku; Cerpen-cerpen Pujangga Baru. Terbitan: Marie Josephine Kumaat Mantik. Penerbit: Wedatama Widya Sastra

Barang Tiada Berharga
Armijn Pane                 

Ecoutez la chanson bien douce
Qui ne pleure que pour vous plaire.
Elle est discrete, elle est legere:
Un frisson d’eau sur de la mousse!*)
(Paul Verlaine).


3 Oktober-13 Oktober 1935.

Haereni masih hening tegak dijanjang beranda muka, tangannya kemalai terkulai di sisi badannya. Kondenya tengah lepas menurun pada lehernya.

Pekarangan rumah sudah berpanas; di bawah mangga, tempat kursi kebun, sudah pula bertalau-talau, bergerak-bergerak bayang daun, seperti biasa….

Mobil baru saja berangkat, Pardi sudah pergi menjunjung pasiennya.

Reni memandang ke jalan melihat tram lalu, ada berharap, melihat muka yang dikenal melintas, dirangkai jendela tram. Ingin menggerakkan tangan,  mengangkatnya, akan tanda menabik, akan menggerakkan air muka, bersenyum. Tetapi jarang ada kenalan yang melintas dengan tram itu. Sekalipun tiada.

Haereni memandang ke langit. Biru, tiada berawan. Akan panas terik hari ini.

Mengeluh, Haereni berbalik, hendak masuk ke dalam. Di samping meja, tangannya memegang majalah berkala “Die Woche”, yang kulitnya, mengambarkan perempuan berpakaian sport, beraksi hendak melemparkan tombak. Dipandang sejurus, lalu sedang tangan kirinya membalik-balik majalah itu, matanya terpandang kearah kamar tempat suaminya belajar. Masih ada beberapa buku terbuka. Beberapa pula yang bertebaran tiada beratur.

Haereni melangkah ke meja itu, tetapi tertahan sebentar oleh suara telepon. Langkahnya tergesa-gesa kedengaran di belakang. Biarkan saja babu menerimanya. Tentu saja seorang pasien, yang bertanyakan Pardi. Tangannya mulai mengumpulkan buku yang bertebaran di atas meja suaminya itu, hendak disusunkannya ke dalam lemari kitab. Kedengaran pada babu menyebutkan “nyonya ada, nanti sebentar saya panggil”.

Haereni hendak meletakkan kembali buku-buku di atas meja, lalu masuk ke dalam, bertemu pintu dengan babu yang mengatakan: “ada telepon buat nyonya.”

Agak riang suaranya, karena terlepas sebentar dari yang biasa, ada hal yang luar biasa, waktu mengatakan: “halo, nyonya dr. Soepardi disini.” Riang benar suaranya waktu menyebutkan: “Kau Ti?...Ke Pasar baru?...Jadi…Ya, ya, aku mandi dahulu. Kalau datang, aku sudah klaar.”

Gembira hidup matanya, gerak badannya, waktu meletakkan hoorn telepon kembali. Sekonyong-konyong lepas suaranya, menyanyi lagu gembira. Terpandang gramopon. Marta Eggerth. Sebentara lagi meriang suara Marta Eggerth, serta suara menyanyi Haereni, yang bergegas ke kamar mandi.

Bila Trini hendak berbelanja ke Pasar Baru, selalu diajaknya haereni, yang amat pandai menolongnya meilih yang pantas padanya. Trini sendiri amat susah rasanya memilih warna dan bunga yang sepadan dengan badan dan warna kulitnya. Sekian  banyak warna dan rupa stof kebaya dalam toko Bombay dan toko de Zon. Susahnya pada Trini memilihnya.

Sekali ini pun Haerenilah yang memimpIn. Dialah yang melangsirkan pandangannya melintas susunan stof yang berbagai rupa itu, sedang Haereni tegak menanti. Sekali-kali Haereni menyuruh orang Bombay pelayan toko menarik blok stof dari susunannya, lalu Haereni pun menggantungkan sebidang stof yang dipilihnya itu pada badan Trini. Bersama-sama keduanya memandang ke kaca, akan menguji pantas atau tiadakah. Tiada lelahnya Haereni memandang lau memilih. Trini dengan sabar menantikan putusan Haereni. Dia tahu, bahwa Haereni tiada akan puas, bila belum bertemu yang menyenangkan kehendaknya.

Lebih dari setengah jam lamanya Haereni memandang, memilih, lalu mencoba, tetapi tiada juga yang sesuai dengan rasanya.

Keduanya meninggalkan toko Bombay yang tiada menyenangkan ingin Haereni, lalu masuk toko de Zon. Haereni senang rasa hatinya, di tengah-tengah barang yang indah-indah itu, di tengah-tengah barang yang indah-indah itu, di tengah-tengah perempuan yang berpakaian berwarna-warna, berbagus-bagus.

Kap lampu yang ada pada tempat dia melintas, menarik matanya, melupakan sementara akan maksud yang sebenarnya. Amat bagusnya dipakai di kamar tengah, pikirnya. Ditawarnya, terlalu tinggi harganya. Lalu Haereni teringat lagi maksud hendak memilih stof buat Trini.

Habis tepat pilihnya, timbul lagi ingatannya, bahwa ia perlu kant. Pelayan membawa Haereni dan Trini ke tempat Kant. Haereni memilih, menawar, tepat harganya.

Pardi perlu stof gabardine. Ada-ada saja timbul ingatan Haereni, akan menanya barang yang diingatnya perlu. Beberapa kali dia tiada sampai bertanya harga, cukup sudah menyatakan tiada yang sepadan dengan kehendaknya. Seolah-olah dia hendak melenga di toko itu.

Trini tahu akan sifat Haereni, yang amat senang akan warna dan cahaya. Trini senang mengajaknya ke toko, akan melihatya kawannya itu gembira. Sekarang pun Trini senang melihatnya kawannya itu tidak lesu seperti biasanya dia keliahatan. Dengan sabarnya diturutnya Haereni dari sudut toko ke sudut lain, meskipun dia tahu, bahwa Haereni tidak akan membeli.

Sesudah toko de Zon, Haereni mengajak Trini minum sebentar di Ragusa. Bukan karena hausnya atau lelahnya Haereni hendak duduk di sana. Dia amat senang duduk hening, melihat orang dan kendaraan lalu lintas, sedang musik kedengaran.

Haereni menyedok es krimnya, sedang Trini terus berkata-kata. Haereni tiada sepenuhnya mendengarkan cerita kawannya itu. Pikirannya tiada, sedang pendengarannya dengan lagu klasik, yang diperdengarkan dengan radio. Berangan-angan Haereni bukan, bersedih-sedih pun bukan. Pikirannya tenang, digerakkan diayunkan lagu, tersela-sela oleh cakap Trini.

Trini yang tiada mengerti akan kesenangan kawannya itu, tetapi tiada segan mengawaninya berjam lamanya. Lambat-lambat sekali-sekali Haereni menyendok-nyendok es krimnya, lalu sebentar-sebentar, diletakkan kembali pada meja. Kedua belah lengannya memanjang tangan kursinya, sedang tangannya memegang ujung tangan kursi itu, badannya tegang, seolah-olah hampir hendak melonjak. Sejurus kemudian badannya melepas, seperti busur, yang sudah ditembakkan anak panahnya, lalu badannya membungkuk, menyendok-nyendok lagi, sekali-sekali menengadah, bila ada tamu keluar masuk.

Trini dan Haereni tiga tahun bersama-sama sekelas di Middelbare Huishoudschool. Sama-sama pula selesainya tiga tahun yang lalu. Trini dengan segera berusaha mendapat tempat mengajar di Malang. Di sanalah dia mengajar sampai setahun yang lalu, waktu dia kawin dengan Marsidi. Semasa dia sekolah, Trini dan Marsidi sudah bertunangan, tetapi keduanya masih menanti Marsidi selesai pelajarannya pada Sekolah Dokter Tinggi.

Tetapi kedua belah family menghendaki keduanya kawin setahun yang lalu. Trini tiada merasa keberatan, dengan mudahnya dia melangkah segala halangan yang dilentangkan Marsidi. Perkara uang, diselesaikan Trini dengan senyumnya, bahwa mereka bisa juga hidup dengan sederhana. Bisa menyewa rumah kecil yang hanya berkamar dua saja, satu kamar tidur, satu kamar tempat Marsidi belajar. Di Rawamangun, di Ampasietweg, bukan ada rumah yang akan bisa ditinggalinya?

Bila ada anak datang? Trini memandang Marsidi. Bukanlah Marsidi yang bermula menerangkan perkara membatasi anak lahir? Trini tiada setuju mulanya. Melanggar panggilan natuur. Mematikan yang hidup. Cuma buat kesenangan suami istri, biar lepas tangan, berbuat senang sekehendaknya.

Marsidi menerangkan soal itu, dari segala sudut. Sudut susila, agama, dan sosial dan kesehatan.

Bila ada dua orang yang berkasih-kasihan, yang hendak kawin tetapi tiada cukup keadaan pendapatannya buat sementara akan membelanjai anak, tiadakah melanggar kesusilaan, bila keduanya tidak kawin? Bila keduanya atau seorang, berpenyakit turunan, lain halnya.

Aneh benar, bahwa rakyat biasa jarang, jangankan tiada sekali, mengenal uang jadi halangan kawin. Sedang semustinya merekalah yang seharusnya lekas kawin, akan meninggalkan sebanyak penerusnya kuntum bangsa.

Lama Marsidi membentangkan soal itu, Trini belum puas pada perasaannya. Beberapa kali Marsidi menerangkan, baru Trini lambat laun meresap soal itu.

Sekarang Marsidi yang merintangkan halangan uang dan anak. Trini memandang mengejekkan tunangannya.

Bila kawin, pikirannya akan tertarik oleh urusan rumah tangga dari pelajarannya. Trini menertawakann: “Bukankah aku yang memikirkan rumah tangga? Aku tahu keberatanmu. Kau merasa tertambat. Tiada bebas lagi dipuja, dan dijadikan kawan oleh gadis, di Betawi. Tiada bebas lagi pergi ke mana-mana. Kalau pergi ke pertemuan atau keramaian selalu ada aku. Tidak ada lagi sempat melirik ke sini melirik ke sana. Benar tidak, Di?”

Begitulah hilang segala halangan Marsidi oleh mudahnya rasa Trini, yang tiada pernah melihat kesukaran dan keberatan dalam hidup.

Lain benar dengan kawannya, Haereni. Setelah tamat sekolahnya, dia kembali ke Jogja tinggal di rumah ibu bapaknya. Dia ada mendapat tempat di Purworejo, tetapi tiada diterimanya. Banyak benar halangan dirasanya. Sekolahnya sekolah Kristen, dia harus bertempat tinggal di internaat. Jarang boleh keluar. Lagi pula ibu lebih senang dia di rumah.

Heran Trini mendengar keberatannya yang pada rasa Trini bukan keberatan. Haereni pada banyak hal amat berpikiran merdeka, yang menggeleng-gelengkan kepala Trini. Haereni tiada jarang sendirian pulang, pukul sepuluh malam, lepas berkunjung ke rumah Trini. Ajakan Trini, biar dia dibawa oleh adik Trini, tiada diterimanya.

“Aku datang sendirian, aku pergi pulang sendirian pula.” Meskipun Trini tiada setuju, kemudian bila Haereni datang sendirian, tiada pernah lagi dia mengajak Haereni diantarkan.

Haereni amat bergembira perempuan berdiri sendiri, mencari nafkah sendiri. Tetapi selesai sekolah, ada kesempatab berdiri sendiri, kesempatan itu tiada dijangkaunya. Trini banyak sekali mengalamkan, Haereni memutuskan akan melakukan sesuatu, tetapi biar hampir tiba ketika memulai, Haereni bertarik diri. Haereni seolah-olah seorang yang melihat buah yang masak, lalu dengan cepat dan rajinnya memanjat pohon, tetapi sampai di atas, segan menjangkau, sebab sudah hilang nafsu atau takut jatuh, meskipun kawan di bawah mengunjukkan galah.

Perkawinannya pun dengan dokter Soepardi, hampir tiada jadi. Ada-ada saja halangan yang dikemukakannya. Dia cinta, katanya, tetapi kasih itu terlalu suci, akan dinodai oleh perkawinan. Kasih itu akan bisa hilang oleh perkawinan. Tiadakah lebih baik, tiada kawin, kasih tetap ada?

Soepardi, dibantu oleh Trini, menerangkannya, bahwa cinta yang tiada berestukan kawin ialah cinta palsu, cinta mati. Cinta, kata soepardi, baru cinta sebenarnya, bila dia menjadi penyuruh mengadakan. Cinta yang sebenarnya, tiada mencari yang negatif, tetapi yang positif. Trini mencela Haereni. Manakah lagi yang dikehendaki seorang perempuan yang melebihi daripada mendapat anak daripada lelaki yang dicintainya?

Haereni menunjukkan bukit halangannya. Pardi akan senantiasa keluar, terlingkup oleh pekerjaan di luar. Telalu banyak memandang dan berurusan keluar, hingga akan mengurangi perhatiannya kepada Haereni. Reni menghendaki Pardi buat dia semata-mata. Trini menertawainya benar. Manakah itu mungkin. Itu pikiran yang amat sempit. Pikiran orang yang cinta buta.

Amat sukarnya kepada Trini mengajaknya menyampingkan kesukaran yang sebenarnyabukan kesukaran itu. Perkawinannya terlangsungkan juga enam bulan yang lalu.

Tiba-tiba Haereni memanggil jonggos, hendak membayar rekening.

“mari pulang, Tri, nanti Pardi datang di rumah, aku tidak ada.”

Trini tiada heran, Haereni sekonyong-konyong hendak pulang. Pukul tengah dua belas baru. Biasanya Trini baru kembali pukul tengah satu. Nanti tergesa-gesa pulang ke rumah. Tiba di sana Reni akan kecewa, Pardi belum ada, meskipun dia tahu Pardi baru datang biasanya pukul setengah satu! Seolah-olah Reni mencari kecewa, mencari sedih yang tiada susah.

Di tengah jalan pulang, Trini mengajak reni datang sorenya ke rumahnya.

“Roekmini datang nanti.”

Reni mengangguk. Trini tahu, Reni senang bertemu dengan Roekmini. Sejurus kemudian: “Lebih baik jangan, Tri, Pardi….”

“Nanti, selesai mengunjungi pasien, Pardi datang menjemputmu. Biar dia juga sejam dua bercakap-cakap dengan kita, melupakan pekerjaannya. Dia perlu juga istirahat. Lagi dia sudah lama tiada ke rumah.”

“Tri, Ki sudah dapat pekerjaan tidak?”

“Belum.”

“Kemarin dulu ada dia kulihat. Lain benar rupanya sekarang.”

Basoeki lambat-lambat, sambil menghitung anak tangga. Kecewa tiada lagi dalam hatinya. Dia sudah biasa mendengar ucapan, bahwa dia harus menanti, bahwa namanya sudah dicatat. Bila dikatakan, bahwa namanya akan dicatat, dia tahulah, dia tiada harapan mendapat pekerjaan itu. Kali ini lain, chef afdeling menggertaknya bertanya, adakah namanya tercatat? Dia menjawab ya, lalu digertaknya sekali lagi, adakah dia dipanggil? Tidak? Bila begitu tiada lowongan. Dia haruslah memajukan rekest lagi.

Basoeki dengan benar mendengar dari seorang kenalannya yang bekerja di afdeling itu, bahwa ada lowongan berhubung dengan licentie baru. Entah licentie apa. Itu tiada diperdulikannya, yang penting baginya ialah, bahwa ada lowongan. Chef afdeling mengatakan tiada. Dari tadi dia sudah tahu, bahwa dia tiada akan mendapat. Anak tangga jumlahnya delapan belas, jadi genap. Genap angka sial baginya. Aneh, semua anak tangga departemen genap dengan jumlah anak tangganya ke tingkat kedua. Itulah sebabnya dia tiada mendapat. Tiada waktu naik dihitungnya, anak tangga persis delapan belas sama sekali. Dia tiada mengharap lagi, tetapi dicobanya juga, siapa tahu sekali itu terkecuali. Benar, anak tangga dari atas sampai anak tangga yang lebar, tempat tangga melengkung, ada dua belas. Ke bawah lagi, satu, dua, tiga, empat, lima, enam, benar tadi juga enam, tiada salah perhitungannya tadi.

Basoeki keluar dari Departemen van Economische Zaken , melalui gang tengah kamar direktur dan onderdirecteur. Ada pada badannya rasa gerak orang yang kebanyakan waktu, yang tiada tahu apa yang diperbuatnya kemudian, karena itu dia Manahan selama mungkin keadaannya yang sedang berjalan.

Setibanya pada tepi jalan, basoeki bimbang. Dia melihat ke kiri, lalu ke kanan. Ke mana? Tram ada datang dari jurusan Harmoni. Ke Betawi? Tapi apa yang akan diperbuat di sana? Mencoba lagi masuk kantor keluar kantor? Kantor mana yang belum dicobanya?

Ke park saja lagi. Di sana duduk-duduk, sampai tengah satu. Lalu pulang. Lambat-lambat dia menuju Harmoni, menepi reling kali. Di beranda muka Hotel des Indes, banyak tamu bermeja-meja, senang-senang duduk makan minum. Dia ada uang, ada pekerjaan. Di seberang kiri kali, Hotel des Galeris, bertingkat-tingkat, berandanya, bersekat-sekat. Kebanyakan ditutup kre. Ada yang terbuka sesekat. Nampak seorang perempuan berpakaian putih membungkuk. Rupa-rupanya hendak memberi botol susu kepada anak dalam buaiannya. Dibawah, di tempat kafenya dua tiga orang sedang bercakap-cakap.

Societeit Harmonie kosong, disana baru malam hari. Di tempat yang beratap, ditengah-tengah simpang enam itu, duduk dua orang abang-abang; orang yang mencoba melalaikan waktu duduk-duduk di sana. “Seperti juga,” piker Basoeki. “Cuma aku berpantalon, dia tidak, tetapi sama-sama menganggur.”

Basoeki tiga bulan yang lalu terpaksa sekonyong-konyong memberhentikan pelajarannya, karena bapaknya dipensiunkan lebih dahulu daripada yang diharapkan.

Kandidat I-nya baru didapatnya, maka haruslah dia menyingkirkan harapannya akan menjadi jurist.

Dia bukan seorang yang mudah terpatahkan maunya. Dengan segera dicobanya dengan giatnya mencari pekerjaan. Dua tiga kali dia ditolak, masih juga keras harapannya. Dua tiga minggu tiada juga berhasil. Masuk masuk bulan yang kedua, mulailah surut harapannya, mulailah tegak kenyataan, bahwa tiada akan mungkin dia mendapat pekerjaan. Lambat laun menjadi obsesi padanya, bahasa tiada akan mendapat kerja. Giatnya dan maunya yang deras itu makin lama makin melambat. Kurang giat ini mengambarkan diri pada geraknya, yang dahulu cepat dan giat, kemudian melalai dan canggung. Dia merasa dirinya hampa, leher sukmanya bergantungkan besi berat, seperti seorang hukuman yang dipertontonkan kepada umum. Begitulah rasanya dia dipandang orang jadi seorang yang tiada berharga, yang tiada dapat dipakai, yang tiada berkedudukan dalam masyarakat. Kawannya sepelajaran dahulu dijauhinya, takut rasanya menemui mereka yang ada berketetapan tujuan sehari-hari itu, dia pelambung pada kail, dilambungkan air, sebuah tanda Cuma, jadi permainan ikan dan pengail. Dia tiada berhargaorang yang berarti, pelemah, yang bergantung pada orang lain.

Dia baru menang ujian kandidatnya, waktu dia mulai berkenalan dengan Roekmini. Marsidi dan Trini tiada di rumah, pergi berjalan-jalan, ketika Roekmini datang pertama kali berkunjing ke rumah. Basoeki mengawaninya bercakap-cakap sebelum Trini pulang. Beberapa kejap Cuma sudah berkenalan, maka hilanglah rasa asing yang senantiasa ada di antara dua orang yang baru kenalan. Percakapannya mengenai Malang, lalu Batu. Ternyatalah pengalamannya di sana sama, tempat yang menarik hati Basoeki, manarik hati Roekmini pula. Rasa sesuai melambungkan mereka kepada kawan yang rupanya berkenalan kedua pihak. Dari kawan itu datang pula kepada kawannya kenalan kedua pihak. Dari kawan itu datang pula kepada kawan lain. Begitulah kedua belah bertanya berturut-turut: “Kenalkah si Anu?” Bila kenal. Percakapannyalah perangai kenalan mereka itu.

“Dia periang,” kata Roekmini, “tiada dalam perasaannya.”

“Belum tentu. Dia pernah bercakap-cakap dengan aku. Kusangka dulu dia tiada dalam, tapi sesudah itu, aku tahu, dia dalam juga.”        

“Ya,” kata Roekmini, “aku juga heran sekali menerima surat dari dia, lain dari surat yang lain-lain. Heran kau dari mana didapatnya pikiran yang sedalam itu.”

“Boleh jadi dari buku...,” senyum Basoeki. “Banyak orang yang mengajukan pikiran seolah-olah kepunyaannya, tetapi sebenarnya cuma didapatinya dan buku. Sepenti seorang makelaar atau commissionnair. Seorang tengkulak pikiran.” 

Bagai itulah keduanya bersetujuan dan koreksi-mengoreksi pemandangannya akan kawannya bersama. Lama-kelamaan sampai percakapan kepada pekerjaan Roekmini. Senangnya dan gembiranya dia mengajar “Aku serasa tetap anak, setiap hari bergaul dengan anak. Cobalah lihat anak yang baru datang dari sekolah lain. Masih segan. Susahnya melepaskan segannya. Setiap anak lain caranya melepaskan segannya itu. Harus berawas-awas kita, bila tidak, boleh jadi segan ini terus-menerus, tetap jadi sifatnya dalam kelas. Susahlah memasukkan pelajaran.”         

Mata Roekmini bersinar-sinar.

“Tentu ada susahnya, di samping senangnya mengajar, memimpin sukma anak. Anak yang nakal, yang tiada mudah menarik perhatiannya. Kadang-kadang salahnya sudah sejak kecilnya, salah didikan. Padahal yang begitu aku mengingat Adler. Saya cobalah menyelidiki apa sebabnya anak itu nakal. Biasanya berhasil juga usaha saya.”

Ada sudah pada keduanya udara percaya, ketika Trini dan Marsidi datang. Trini dengan herannya mengucapkan: “Kamu seperti kenalan lama.”

“Benar, Ni. Sekali-sekali kita berkenalan dengan seorang yang dalam kenangan kita sudah lama kita kenal. Seperti pikiran yang lama kita kandung, tetapi tiada juga terkatakan, sampai sekonyong-konyong oleh sesuatu, pikiran itu terlahirkan. Dan kita lega.”

Kemudian pada mengantarkan Roekmini pulang. Rasa Basoeki benar-benar lega. Entah apa, keduanya tiada ingat akan memanggil kendaraan. Percakapan lancar saja, tentang berbagai-bagai hal. Tiada dalam, melompat-lompat dari hal satu ke hal lain, tiada bersambungan, seperti burung meloncat-loncat dan dahan ke dahan, seperti mengecap beberapa rupa koee, dengan cepatnya, takut kelambatan.

Roekmini merasa lega, ada kesempatan mencurahkan pikirannya. Pada ketika itu baru terasa padanya, bahwa banyak yang dipikirkannya, yang tinggal tersimpan dalam dirinya, karena tiada tempat pencurahkan. Lagi pula karena perhatiannya seluruhnya tertujukannya kepada pekerjaannya. Serasa ada teman turut menatap pemandangan. Ketika itu baru terasa padanya bahwa pikiran banyak itu berat juga selama ini, karena amat lega rasanya, dalam bercakap-cakap dengan Basoeki itu. Selama tiga tahun ini dia menjadi guru, banyak lelaki yang dikenalnya, dan jadi kawan bercakap-cakap, tetapi tiada pernah melegakan rasanya. Sekarang serasa sama menyelam mengambil bersama-sama lokan mutiara. Roekrnini mengeih muka Basoeki sebentar, sedang dia membentangkan pikirannya. Tenang sungguh-sungguh.

Lepas C.B.Z., ketika harus menunggu pada boom jalan melintas sepur teringat Basoeki mereka berjalan kaki. “Ah, lupa kita naik delman.”

“Ya..., tetapi sudah tengah jalan, biarlah kita terus jalan kaki.”

“Nanti lelah.”

“Tidak, aku senang berjalan-jalan begini.”

Sampai di rumah Roekmini, Basoeki hendak dengan segera pulang, tetapi ditahan Roekmini, duduk sebentar,sebab dia tentu haus berjalan begitu. Basoeki dada menolaknya.

Lebih dan sejam lamanya, mereka terus bercakap-cakap. Basoeki melihat album, sedang Roekmini menerangkannya. Banyak orang dan tempat yang sama dikenalnya. Percakapan sampai ke film dan buku, sampai keduanya berjanji akan pergi sekali bersama melihat film, dan Basoeki berjanji akan datang sekali-sekali.

Dua hari kemudian mereka sudah pergi melihat film. Keduanya tiada memuji film itu. Lebih dulu sudah disangkanya bahwa film itu tiada bagus. Ada-ada saja sebabnya mereka harus bersua. Ada karena Roekmini harus dikawani ke Pasar Senen, meskipun dahulu dia sendirian pergi. Tetapi penutup berbelanja itu ialah duduk-duduk di es krim palace Okamura. Di sana sejuk telah panas berbelanja.

Mereka mencari bersua. Trini yang mengetahuinya lebih dahulu, lalu dia dan Marsidi memudahkan mencari bersua itu. Keduanya sejodoh pikiran dan sifat, apakah salahnya dipersuakan, pikir Trini.

Beberapa minggu berasa bahagia, berakar pohon perhatian, mulai berkembang rasa ada kawan. Pada suatu malam keduanya berjalan-jalan di dekat-dekat rumah Roekmini, sampai-sampai ke dekat terusan banjir yang memanjang di Menteng Pulo. Mereka bercakap-cakap tentang cara suami istri bergaul. Kemudian, keduanya diam. Datang sekonyong-konyong mobil dari belakang, hampir kena Roekmini, bila tiada ditarik oleh Basoeki. Basoeki mengangkatkannya, berjalinlah jari-jari mereka.

“Ramping jari-jarimu Ni, lentik benar,” sambil Basoeki melentikkan jari-jari Roekmini dengan tangan kirinya.

“Benar, Ki?”

Lambat-lambat didekatkan Basoeki jari-jari Roekmini kepada bibirnya, lalu diciumnya sekonyong-konyong. Lalu hendak dilepaskannya, tetapi tangan Roekmini memegang tangannya. Basoeki memandang muka Roekmini sejurus, cuma lemah yang kenyataan. Diciumnya sekali lagi.

Di hari-hari kemudian bahagia rasa, ada orang yang cinta dan yang mencintai pula. Ada tujuan setiap hari: bersua, berdekatan, merasa pandang yang penuh kasih.

Tibalah berita, bahwa bapak Basoeki pensiun, dan tiada dapat membelanjainya lagi. Pada permulaannya berita itu menyedihkan dirinya. Roekmini melalaikan pikirannya: “Kau meester atau tidak, kau tetap kekasihku. Kita sudah kaya titel oleh karena cinta kita. Bukan titel saya yang bisa memberikan bahagia.”

Kemudian Basoeki senang juga mengingatkan lekaslah mungkin dia kawin, berdekatan selama-lamanya dengan kekasihnya. “Ku cari kerja, biar sedikit gajinya. Dikumpul dengan gajimu cukuplah buat hidup kita berdua,” katanya, sambil memegang muka Roekmini dengan kedua belah tangannya.

Roekmini senyum: “Selalulah kau dekatku. Tiada usah aku takutkan kau tiada datang. Bolehlah aku memeliharamu....” Basoeki menutup mulut Roekmini, sambil memeluknya, pelukan cinta mengerti, memateri perjanjian kasih sayang.

Dengan giatnya Basoeki mencari pekerjaan, dijalankan motor kasih sayangnya. Lama kelamaan hilang harapan mendapat pekerjaan. Bagai terjun rasa hatinya, terluang oleh hilang harapan akan terpenuhi harapan cinta. Seperti makin jauh pantai pelabuhan yang baru kita tinggalkan, tempat kawan dan kenalan melambai-lambaikan tangan. Selama ini berkandungan hatinya, sekonyong-konyong kempis, kosong, tinggal rasa sunyi, seperti kebun jati pada musim kemarau. Berjam-jam dia duduk di Wilhelminapark, seperti dahan yang patah, terkulai dan batangnya. Merenung berjam-jam lamanya. Patah hatinya, patah pula insaf hatinya, insaf badannya. Barang dada berharga....

Masih dikunjunginya Roekmini, masih dicobanya bersenyum, tetapi senyum menjadi senyum sedih. Roekmini tiada lagi bertanya tentang usahanya mencari pekerjaan. Riangnya seperti biasa, melebihi dari yang biasa pada pemandangan Basoeki. Hening Basoeki melihat-lihat jari-jari Roekmini bergerak, meletakkan cangkir di hadapannya, menyendokkan gula dalam cangkirnya, lalu menuangkan teh dan mengincau-ngincau tehnya. Kadang-kadang dipegangnya tangan Roekmini, didiamkannya mengincau, lalu dihantarkannya melemah pada tangannya, dipandangnya dengan senyum sedih, lalu diciumnya lambat-lambat, bagai mengheningkan, meresapkan jadi serap di waktu kemudian, seperti kafilah menyediakan air serap Sebelum berangkat dari oase, melalui lagi padang pasir.

Beberapa hari ini Basoeki tiada datang lagi berkunjung. Bila tiba waktunya biasanya dia pergi ke rumah Roekmini, dia pun pergi berjalan-jalan, tiada tujuan, ke mana langkah membawanya. Malam pertama dia melalui jalan sepi Laan Raden Saleh, tiba di muka Dierentuin. Dia sejurus, memandang cahaya lampu, dan affiches film yang akan dipertunjukkan. Dulu dia beberapa kali masuk menonton film seperti orang biasa. Sekarang tentu tiada akan pernah lagi, cuma bisa melihat gambar-gambar di luar, dan tepi jalan, dan tempat gelap.

Tanda peningatan van Heutz gelap. Di tepi jalan, dalam gelap bayangan tanda peningatan pahlawan Belanda itu tegak dua orang, seorang laki-laki dengan seorang perempuan, bercumbu-cumbuan. Baru bertemu barangkali. Bersama-sama mereka menuju Gondangdia. Basuki berjalan di belakang mereka sampai lepas sepur. Keduanya ke kiri, berjalan di tepi sepur, tempat yang gelap, keduanya berpegang-pegangan tangan..

Basoeki terus berjalan lambat-lambat, sampai di Gambir. Orang belum selesai merombak Pasar Gambir. Sebulan yang lalu tempat keramaian, tempat yang beberapa kali dikunjungi Basoeki serta Roekmini, sekarang tempat gelap. Basoeki hendak duduk pada tempat duduk daripada batu dekat fontein, yang sekarang tiada memancarkan air lagi. Di dekat fontein, tempat Roekmini dan dia Senang berhenti sebentar melepaskan lelah, melihat air berwarna-warna, merasakan hawa sejuk, yang menuangkan orang akan harapan yang terasa-rasa dalam hatinya. Basoeki hendak duduk, hendak mengingatkan waktu yang baru sebulan berselang itu, tetapi semua tempat sudah ada orangnya, berdua-dua, perempuan dan lelaki berdekat-dekatan. Orang selalu berdua-dua.

Basoeki berjalan terus, sampai Harmoni. Dia melalui jalan di muka gedung Rechtshogeschool....

Di beranda societeit Harmonie orang Belanda duduk-duduk, bercakap-cakap, melalaikan waktu, tetapi bukan karena tiada pekerjaan. Hotel des Galeries penuh cahaya lampu.

Hotel des Indes. . .musik, tamu penuh, makan minum, bercakap-cakap, dengan dada sengaja mendengarkan lagu. Semuanya melalaikan waktu, bukan karena tiada pekerjaan. Mereka melalaikan waktu, tetapi memberikan pekerjaan kepada pemain musik dan kepada semua jongos yang melayani, dan kepada aandeelhoudet.

Di Molenvliet, dekat tiada jauh dan gedung Landraad, di tempat yang gelap, orang berpakaian jurk, tetapi suara, suara orang lelaki. Sifat binatang dalam manusia, entah atavisme, ketinggalan dan dahulu. Dahulu ada dibaca Basoeki verslag pemeriksaan seorang laki-laki yang menjualkan dirinya. Di muka landrechter diterangkannya, bahwa dia menganggur, sudah lama menganggur, tiada juga dapat pekerjaan. Hendak dia melepaskan pekerjaannya yang hina itu, bila diberikan dia pekerjaan biasa. Airmatanya bercucuran. Dia dikenakan juga denda, sebab melanggar kesusilaan di tengah jalan.

Paksaan perut pada mengingat kesusilaan. Berinis mereka tegak menanti langganan. Ada datang mobil, mobil indah, kepunyaan orang kaya-kaya tentu. Berhenti dia sebentar. Leretan manusia tadi bergaya, ada juga yang mendekati mobil itu. Tuan yang menjalankan mobilnya sendiri itu, bercakap-cakap sebentar dengan seorang pilihan matanya, lalu berjalanlah mobil itu, membawa barang dagang pilihan itu entah ke mana.

Seorang daripadanya berseru kepada Basoeki: “Liefje kom bier..“ Basoeki senyum, terus berjalan, memikirkan manusia ini, tempat yang indah dan yang buruk yang maha dan yang hina.

Basoeki tibalah di rumah lepas berjalan tiada berketentuan itu, pada ketika dia biasanya kembali daripada berkunjung ke rumah Roekmini. Sekali dicobanya hendak tinggal di rumah, tetapi pikirannya gelisah dan hatinya perih, bila sampailah waktunya dia biasanya pergi bertemu dengan kekasihnya, maka teraruslah juga dia keluar, berjalan—jalan, tiada bertujuan, pikirannya berat pada Roekmini. Hatinya hendak menarik garis ke masa yang datang, tetapi lelah rasanya, pikirannya tegang berdiri pada permulaan garis, seperti tangan lelah menekan pensil, tiada tahu garis mana yang akan digoreskan.

Semuanya pada dirinya meringan seolah-olah semua tenaga berpedat dalam pikirannya, seperti dalam pesta amal, orang pedat membantukan tenaga, tetapi pekerjaan tiada teratur, bersalahan dan tertahan-tahan, semuanya gelisah, bergesa-gesa, suruh-menyuruh, tetapi tiada tekerjakan jua.

Mariati mengamat-amati kakaknya dengan diam-diam. Jauh pikiran Roekmini, tiada pada makanan. Bukan kebiasaan Roekmini berjauhan pikiran dan yang sedang dikerjakan. Beberapa hari ini banyak kali dia termenung; di tengah mengoreksi pekerjaan murid, dia hening berpikirkan hal yang menyusahkan pikirannya. Mariati tahu akan kasih kakaknya kepada Basoeki. Mengapa pula Basoeki tiada datang dalam beberapa hari ini.

Itulah pula yang dipikirkan Roekmini. Perangai Basoeki pada belakangan ini mengkhawatirkannya. Caranya memain-mainkan rambutnya, ciumannya, sejuk, bagai angin melintas rambut, pandangannya sambil dia melentik-lentikkan jari-jari Roekmini, seperti kali itu saja lagi dia berbuat begitu. Dia tiada banyak lagi berkata-kata, dia kebanyakan hening saja. Roekmini yang bercakap.

Malam penghabisan dia datang, ciumannya pada dahi Roekmini , dan salamnya, tenang, tetapi rasakan gelisah yang tertahan, putusan yang dipaksakan hati. Roekmini kejut hatinya, dipegangnya lama tangan Basoeki, pada pintu pekarangan, melembut suara Roekmini: “Besok kau datang, Ki?”

“Ya, besok,” tersenyum Basoeki. Tiada mengerti Roekmini akan senyumnya itu.

“Ada apa, Ki?”

“Tidak apa-apa.”

Roekmini mengangkatkan tangannya, yang memegang tangan Basoeki itu, lalu diciumkannya kepada Basoeki. Didekatkannya lalu mukanya dekat muka kekasihnya itu, bibirnya merekah, seluruh badannya melemah, menyerah. Basoeki memandangnya sejurus, lalu...dipeluknya erat badan Roekmini, diciumnya lama bibirnya. Diapus-apusnya rambut Roekmini, sekonyong-konyong diciumnya lehernya. Sekonyong-konyong dilepaskannya badan kekasihnya itu, hendak berpalingkan diri, pergi. Roekmini masih dapat memegang tangannya: “Sampai besok, Ki...,” tetapi Basoeki melepaskan tangannya. Masih nampak kepada Roekmini, Basoeki membelok, lalu dia pun lari ke dalam meniarapkan diri pada tempat tidurnya, rasa bahagia, bercampurkan kejut dalam dirinya.

Sudah beberapa hari dia tiada datang. Mengapakah dia tiada datang? Tiada pernah gelisah hati Roekmini. Senantiasa tenang, teguh, biasa pikiran tertujukan kepada pelajarannya semasa sekolah, dan kepada pekerjaannya, sesudah menjadi guru. Cintanya kepada Basoeki, membukakan hutan tiada berhingga rasanya, yang akan ditanami tanaman yang tiada terbatas hasilnya. Bahagia yang tiada pernah dikenalnya, yang memenuhi seluruh dirinya, seolah-olah selama ini berkumpul, tersediakan tanah gemuk yang dengan lekas manbantukan tumbuh bibit yang tersebarkan di tanah sukmanya. Cintanya kepada Basoeki merancah tanah sukmanya akan memudahkan subur bibit. Sekarang gelisah perhatian akan mengasuh tunas.

Ada nampak Roekmini bahwa amat merusuhkan hati Basoeki, dia tiada juga mendapat pekerjaan. Roekmini meriang-riangkan Basoeki, Roekmini lebih riang daripada yang biasa akan menghalau suram hati kekasihnya itu, seperti angin mencoba memecah, menghalau awan hitam berkumpul. Roekmini berbuat seolah-olah itu perkara kecil, meskipun dia tahu, bahwa kepada seorang laki-laki pekerjaan, berkewajiban, itulah tujuan hidupnya. Roekmini merasakan beratnya itu kepada Basoeki, yang diketahuinya senang asyik.

Lagi pula, — takut-takut Roekmini memikirkan habis-habis —, boleh jadi Basoeki merasa lebih berat memikirkan berhubung dengan cintanya di masa yang akan datang. Roekmini tiada berani memandang masa yang akan datang lagi, setelah melihat jatuhnya harapan Basoeki. Tiada berani dia lagi berangan-angankan masa yang akan datang, seperti pada permulaan kasihnya.

Roekmini pada masa kecilnya sudah kenyataan berwatak suka mengurus sendiri. Makin besar dia, makin kenyataan wataknya itu, makin berani dia menanggung sendiri segala akibat kelakuan dan perbuatannya. Dia berani memandang soal sampai akhirnya, yang kemudian dilakukannya, meskipun kebiasaan di sekelilingnya memandanginya salah. Waktu dia mendapat tempat di Betawi, dia tiada hendak menumpang di rumah salah satu keluarga, dia hendak berumah tangga sendiri, tiada bergantung kepada orang lain, dia hendak mengurus hidupnya sendiri.

Sekarang tenaga dan berani pikirannya melemah, bimbang, lekas lelah, bila hendak memandang masa yang akan datang. Kemauannya sudah terbawakan serta dengan kasihnya kepada Basoeki. Dia sudah bersandarkan diri kepada Basoeki.

Pada ketika terpandangnya dengan terang, bahwa dia bersandarkan diri sudah, pada mulanya rasanya melawan, tiada hendak melepaskan kemauan mengurus dan berdiri sendiri, seperti selama itu. Dia tiada mau mengalahkan diri, mematahkan kemauannya. Tetapi kasihnya mengaruskan kemauannya, makin lama makin terasa bahagianya bersandarkan diri kepada lelaki yang dikasihinya, mengetahui ada senantiasa orang yang menopang, membimbing. Kasihnya makin mendalam, bersinar pada pemandangnya dengan cahaya yang melembut. Menyerahkan diri pada pelukan kekasihnya, melupakan diri, tiada memikirkan sesuatu, hanya beraruskan diri kepada rasa bahagia, apalah lagi yang dikehendakinya.

Ketinggalan rasa perlawanan, rasa mempertahankan kemauannya yang lama, hilang sama sekali, pada malam penghabisan Basoeki datang, akan tiada datang lagi beberapa hari sudah. Sesudah dia berserahkan diri sama sekali, setelah hilang segala bimbang dalam hatinya, Basoeki tiada datang lagi.

Roekmini berhenti makan, lalu meneguk minum.

“Kau sedikit makan, yu,” terdengannya suara adiknya bermasygul

“ Aku lelah, Ti, tiada nafsu.”

Tetapi nanti tentu ia bersua dengan Basoeki, nanti sore dia diundang Trini datang ke rumahnya, Haereni akan datang juga, perempuan yang tiada bertujuan hidup, yang terapung-apung itu, berpikir Roekmini sebentar.

Haereni sudah bersedia akan pengi, masih melengah sebentar, menantikan suaminya terlowong sejurus. Petang ini luar biasa jumlah pasiennya. Haereni duduk bersandar, memepat kukunya dengan kikir kecil, melalaikan pikiran. Sebentar-sebentar dikikirnya, lalu dipandangnya, setengah asyik, lalu dikikirnya pula.

Pintu kamar memereksa dengan keras terbuka, Pardi cepat keluar, lalu memanggil jongos. Muka Haereni lemah menengadah arah Pardi:

“Di, aku pengi....”

Dengan cepat Pardi menjawab sambil menutupkan pintu:

“Ya, nanti aku menjemputmu.”

Haereni mengeluh, praktik, praktik. Tiada seketika juga melayang pandangannya kepada dirinya, kepada hiasannya. Dia berdiri, garis badannya ternyatakan benar oleh guntingan kebaya dan penjatuh kainnya. Haereni mencengkau tasnya yang terletak pada meja, lalu bergegas-gegas keluar, alat pemepat kukunya bertebaran di atas meja.

Trini dan Marsidi duduk-duduk di pekarangan rumahnya. Trini asyik merenda sedang Marsidi membaca korannya, sebentar-sebentar dibacanya keras-keras, bila ada berita penting. Pada meja beratur teko, beberapa staples dan cangkir. Sebuah taksi berhenti di muka rumahnya. Keduanya memandang, keluar suara dan taksi berseru:

“Halo!” Trini tegak, dengan riangnya menyambut Haereni ke pintu pekarangan.

“Ni, Ni,” mata Trini memandang Haereni dan atas ke bawah, lalu dipegangnya kedua belah tangan kawannya itu, sinar matanya memuji. Haereni merasa dipuji, senang rasanya. Trini tiada pernah menyembunyikan pujiannya, dia terus terang, bening, seperti mata air. Apa yang dikatakannya benar dipikirannya dan dirasanya.

“Ada dilihat Pardi kau tadi?”

Muka Haereni muram. “Ah, mana pula, pikirannya cuma pada praktiknya,” katanya dengan pendek. Trini hening. Keduanya duduk.

“Praktiknya maju betul kudengar,” kata Marsidi. “Dia amat populernya di kampung-kampung, orang memuji aktifnya. Tentu banyak dokter muda yang iri hati melihat majunya praktiknya....”

Istrinya memandang kepadanya, sambil tangannya mengisi cangkir Haereni, tetapi Marsidi tiada mengerti pandangan istrinya yang mengingatkan itu, terus juga memuji praktik dokter Soepardi.

“Kalau aku klaar nanti, entah cuma menganggur saja, belum tentu mendapat praktik, setengah dari praktik Pardi yang sekarang.”

“Lebih senang begitu. Harap saja kau tiada mendapat praktik! Tri tiada usah makan hati.” Pedis benar dikeluarkan Haereni katanya itu, seperti ada melepas yang tertahan-tahan.

“Pasiennya, selalu pasiennya pikirannya. Aku tiada perlu dirasanya diperhatikan. Aku cuma barang hiasan saja, yang tidak perlu diperhatikan lagi. Uh, praktik, praktik. Apa perlunya diaku itu. Aku Iebih senang lebih sedikit pasiennya, lebih banyak waktunya buat rumah tangga. Cobalah lihat aku datang ke sini sendirian, dia tiada waktu. Nanti pulang aku sendirian pula. Dia tiada akan ada waktu, pergi melihat pasiennya.”

“Tidak adil timbanganmu,….?”

“Tidak adil? Bukan aku berhak juga padanya? Mana hakku? Cuma pasiennya yang berhak!”

Marsidi diam, karena istrinya memberi isyarat padanya. Dia mengerti, bahwa Haereni sedang panas, tiada akan tertenangkan dengan membantah-bantah.

Ketiganya hening sebentar, Haereni masih jengkel air mukanya. Suara Trini yang lebih dulu kedengaran, rnencoba mengalihkan pikiran.

“Mana Mini, belum datang juga.”

Haereni mulai berubah air mukanya mendengar nama itu. “Ya, mengapa belum datang juga dia.... Di mana Basoeki?”

“Berjalan-jalan tadi.... Nah, itu dia yang lama-lama dinanti itu!”

Riang Trini dan Haereni menyambut Roekmini. Diterangi lampu senja mereka berempat duduk. Roekmini gelisah hatinya tiada melihat Basoeki. Matanya mengawas-awasi pintu ke dalam, mengharap-harap Basoeki keluar. Mulutnya tertahan tiada hendak bertanya. Diribut-ributkannya suaranya, seolah-olah hendak meliputi suara gelisah di dalamnya.

Haereni senantiasa merasa senang di dekat Roekmini, seperti hatinya terpenuhi oleh Roekmini. Roekmini teguh, penuh, setimbang rasanya kelihatan, banyak yang boleh ditaburkan oleh batinnya. Dan dahulu Haereni merasa-rasa sesifat dengan Roekmini, tetapi ada pula lainnya, yang meninggikan, memenuhkan Roekmini, yang tiada pada Haereni.

Dalam hatinya, Haereni amat menginginkan menjadi seperti Roekmini. Roekmini selalu pada tempatnya di mana jua, dia tidak pernah asing di tempat, di pergaulan mana juga pun. Seperti dia tiada bersusahkan apa-apa, semuanya dalam kekang tangannya.

Haereni mengamat-amati muka Roekmini. Ada tampaknya rasa yang belum pernah dilihatnya pada muka Roekmini. Ada rasa tenang, lembut pada air mukanya, yang lebih menarik hati memandangnya. Mukanya tiada cantik, sederhana, tetapi memaksa mata memandanginya, entah karena apa. Roekmini akan jadi penolong benar nanti kepada suaminya. Basoeki.... Diheningkannya sifat Basoeki. Keduanya tampan juga. Kawin beruntung.

Basoeki berjalan-jalan tiada berketentuan. Dia tahu bahwa Roekmini akan berkunjung ke rumahnya, karena itulah dia pergi berjalan-jalan. Jangan bersua. Mendengar suaranya, melihat mukanya, akan melemahkan hatinya, akan membiarkan dirinya lagi diaruskan kasihnya kepada Roekmini. Kasihnya ini harus diputuskan…. Dengan terang nyata padanya yang terasa-rasa selama ini tetapi yang tiada berani pikirannya menyelesaikannya, mengajinya dengan tenang. Kejut pikirannya menguasainya lalu memberat pada pikirannya, bagai meliput menggelap. Kasih ini harus diputuskan. Masa yang akan datang gelap, tiada patut dia membawa Roekmini ke penghidupan yang belum tentu. Sekarang Roekmini berbahagia, biarlah begitu. Biarlah dia yang berlalukan diri.

Timbul rasa bahagia dalam dirinya, lega rasanya, hilang sudah yang selama ini menekan hatinya, memberat pikirannya. Kemudian tentu akan datang orang lain yang dapat memberikan Roekmini penghidupan yang pantas. Roekmini akan lupa akan dia. Bibirnya menarik senyum sedih.

Dia sebenarnya haruslah melepaskan Roekmini, setelah datang berita dari bapaknya dia tiada dapat membelanjai lagi. Pada waktu itu seharusnya dia melepaskan Roekmini. Tetapi cintanya menggelapkan pikirannya, dia tiada berpikir akan melepaskan, hatinya ingin menahan, mempunyai. Cinta pada wujudnya egoistis.... Cinta sejati ialah cinta yang membenikan, mengorbankan, yang hanya mengingat kesenangan yang dikasihi.

Basoeki menengadah, memandang langit bertaburan bintang. Berapa abad kau sudah memandang sedih orang, sedih bangsa, sedih alam seluruhnya. Sedihku ini sudah berapa kali sudah kau lihat. Sekarang jua di bumi ini, malahan di kota ini, siapa tahu tiada jauh daripadaku ini, ada orang yang menderita seperti aku ini. Sedih yang kurasa ini apakah artinya itu dalam masa, dalam luasan dunia. Aku lahir sudah dalam sedih. Pada masa aku bayi, sudah kurasa sedih lapar; kemudian berupa-rupa sedih yang kuderita, yang diderita setiap manusia. Sekarang sedih baru, sedih lebih dalam daripada yang lalu semuanya. Main-main napas bayi, percobaan untuk bercakap-cakap di kemudian. Anak-anak bermain-main, jadi latihan untuk masa dewasa. Sedih lapar pada masa bayi, dan sedih karena perhatian ibu bapak terlalu kepada adik yang baru lahir, semuanya sedih itu, adakah latihan sedih, buat masa sudah dewasa? Sedih seperti ini? Bila sudah tua, lalu melihat anak dan cucu, istri barangkali, lebih dahulu meninggal, bukankah ini juga sedih? Adakah ini lebih dalam, lebih perih lagi? Untuk apakah manusia melatih diri, untuk masa manakah? Melatih diri tiada putus-putusnya. Sampai kuburan? Siapa mengatakan hidup cuma sampai kuburan? Semuanya di dunia ini lahir dan hidup, akan musnah jua, dada yang kekal. Riang dan sedih lahir, akan hilang juga. Kasih,...akan mungkinkah penuh kasihnya kepada Roekmini? Kasihnya yang sedalam ini? Kasih yang berjawaban, yang mengetahui akan sempurna hidup bila hidup bersama-sama, tahu, bahwa kedua merekalah paduan sejati, seperti dua be lahan tempaan yang dahulu satu? Kasihnya tiada akan hilang..., tiada akan ada kemudian yang akan memadai kasihnya ini. Akan banyak lagi perempuan melintas jalannva, tetapi tiada akan ada yang menimbulkan kasih seperti kasihnya kepada Roekmini. Tetapi sekarang lebih baiklah melepaskan Roekmini, tiada gunanya membawanya ke masa yang gelap.

Air mukanya yang pada yang kemudian itu tegang sedih, melembut bahagia. Teguh sudah putusannya. Basoeki, dengan tiada insaf sudah menuju arah pulang. Pulang, di sana Roekmini, pada malam ini juga haruslah diketahuinya. Basoeki mencepatkan langkahnya.

Dr. Soepardi sudah menambah jumlah empat orang yang duduk disinari lampu, di pekarangan rumah Marsidi dan Trini. Ia mencepatkan kunjungannya pada pasiennya, supaya lebih cepat beristirahat di dekat istrinya dan Trini. Trini yang pandai itu membuat orang kerasan, senang, didekatnya. Pengasuh, peramah. Tenang udara di sekelilingnya. Istrinya, alangkah cantik tadi. Dia pandai benar memakai..., senang hati Soepardi memikirkan kepada istrinya. Bulan yang akan datang vakansi dahulu, bersama dia ke Sindanglaya. Haereni senang pemandangan, alam di sekelilingnya. Dia terlalu banyak membaca waktu penghabisan ini. Terlalu banyak diam di rumah. Baik juga dia banyak bergaul dengan Trini. Dr. Soepardi mencepatkan pekerjaannya, ingin melihat istrinya.

“Senangnya duduk begini, lepas hari banyak kerja,” kata Soepardi, sambil memanjangkan kakinya, lalu mengembuskan asap sigaretnya.

“Dan dekat istri yang dicintai,” olok-olok Marsidi.

“Ya,” jawab Soepardi, “dekat istri yang dicintai.” Matanya memandang istrinya.

Basoeki datang. Sejurus pandang, Roekmini melihat kurus kekasihnya. Basoeki melintas di belakang kursinya. Roekmini mengulur kan tangannya ke belakang: “Ki,….“ Basoeki berhenti, bimbang,...lalu dipegangnya tangan yang mengulur itu. “Ke mana kau tadi, Ki? Mari duduk di dekatku.”

Sedang semuanya ramai bercakap-cakap, Haereni memandang kedua kekasih itu. Amat selenggana pandangan Roekmini kepada kekasihnya. Roekmini melayaninya, menuangkan tehnya, lalu mengunjukkan cangkirnya. Bersahaja caranya melayani, tetapi terasa kasihnya yang memenuhi dininya. Kasih yang bersahaja, tetapi terasa dalam, berkuasa.

Haereni memandang Marsidi dan Trini. ..kasih tenang, udara keluarga.

Basoeki membawa Roekmini pulang Dia tiada hendak berjalan seperti biasa, hendak lekas sampai, biar lekas pola terkeluarkannya putusan hatinya. Mariati menyambut mereka dengan girangnya.

“Mas, mengapa lama tidak datang? Tolong, mas, sudah dua jam aku mencari hitungan ini tiada dapat juga.” Sebentar kemudian Basoeki sudah asyik mencari jalan hitungan yang sukar itu. Mariati sudah memandangnya abangnya. Juga Mariati akan terlepaslah dan pandangannya.... Roekmini duduk memandang keduanya asyik mencari. Kemudian Mariati masuk kamarnya, meninggalkan kedua kekasih itu di ruang tengah.

“Ada clysma kubeli, buat isapanmu kalau kau datang ke sini.” Roekmini tegak, masuk ke dalam. Penghabisan kali duduk di sini, tiada lagi melihat aturan ruang tengah ini, semuanya teratur menandakan rasa yang pandai memilih. Roekmini membukakan kotak sigaret, lalu diunjukkannya. Basoeki mengambilnya....tiadakan dia yang akan menghabiskan sigaret ini. Roekmini menyalakan aansteker, lalu dinyalakannya sigaret yang di mulut Basoeki. “Kau lihat rumah ini sudah rumahmu, cuma orangnya belum di sini.”

Sukar dirasa Basoeki mengeluarkan katanya. Nanti sebentar, jangan sekarang.

“Mau minum lagi, Ki?”

Basoeki menggeleng kepalanya.

“Nanti sebentar, Ki, aku tukar pakaian dulu.”

Tiada lama kemudian, Roekmini keluar dan kamarnya, ramping, berisi, sehat, berpakaian piyama; di sebelah kiri dan kanan rambutnya berjalin dijadikan konde. Basoeki hening memandangnya. Roekmini tegak di muka Basoeki. “Bagaimana, Ki, tiadakah pantas kau lihat bakal istrimu?”

Hampir tiada tertahan Basoeki inginnya memeluk badan yang ramping molek itu. dia punya kalau dia mau Basoeki tegak, lalu memandang dan jendela, membelakangkan Roekmini. Bintang yang tadi masih bertaburan, langit bening.

Dirasanya Roekmini mendekatinya, tegak di belakangnya. “Malam indah, coba lihat bintang kejora yang amat terang cahayanya itu.”

Basoeki berpaling, lalu duduk. “Mari duduk Mini, ada yang kubilang.”

Roekmini berpaling lekas, mendengar suram suara Basoeki. Dihampirinya Basoeki, lalu duduk di permadani, di muka kekasihnya itu, muka menengadah, tangannya pada lutut Basoeki.

“Mengapa suram, Ki?”

“Duduk di sana, Mini.” Roekmini duduk di kursi.

“Mini coba dengarkan dengan tenang, sampai habis kataku. Apa yang kukatakan ini sudah kupikirkan dalam-dalam. Permulaannya akan menyedihkanmu, tetapi bila kau pikir tenang, itulah yang sebaiknya buat kita berdua. Mini, sudah tiada harapanku lagi akan mendapat pekerjaan. Nasibku tiada tentu, gelap. Mini, aku tiada hendak membawamu turut dalam yang gelap. Mini, tiada baik aku menambatmu pada diriku. Kau lebih patut mendapat penghidupan yang baik. Kemudian tentu ada orang lain yang mencintaimu, yang dapat memberikanmu penghidupan yang pantas.”

Basoeki berhenti sejurus, mukanya melihat ke atas.

“Mini, biarlah kita menarik janji kita.”

Roekmini diam, terus melihat bibir Basoeki. inilah rupanya yang dalam beberapa hari ini serasa-rasa ada ditakutkannya. Bercerai dengan kekasihnya, hilangkan rasa bahagia yang ada selama ini dalam hatinya. Takut akan hilang,. .itulah rupanya yang menggoda pikinannya, tetapi yang tiada berani dia memikirkannya. Serasa ada pisau membelah hatinya. Hening ditahannya, air mukanya sedih menahan.

Bebenapa menit keduanya hening. Makin terasa kepada Roekmini masa yang akan datang, bila kekasihnya akan jauh daripadanya. Dia sudah bensandarkan diri, sandarannya ditarik orang Cita-citanya hidup bersama-sama Basoeki, serumah, sehidup, seanak, lenyap. Hening dirasakannya sedih itu. Makin terasa padanya apa yang akan hilang, makin keras hatinya hendak menarik, menahan. Makin lama makin teguh hatinya akan melawan, mempertahankan bahagianya.

Terterang-terang pula padanya, jawabannya pada putusan kekasihnya itu. Selama ini tersimpan dalam hatinya jawaban yang akan diberikannya itu, terasa-rasa, tetapi tiada terpikirkan nyata.

Suaranya tetap, ketika dia berkata: “Ki, kasih kita sudah mendalam, sudah berurat berakar. Sudah kau kenal aku. Aku tidak akan menyerah dengan begitu saja.

Putusanmu itu berpenyakit. Mengapakah cinta kita tiada boleh terus, meskipun kau belum ada penghidupan? Tiada kukatakan kita kawin besok. Kita boleh menanti sampai ada penghidupanmu. Kasih bukan sama dengan kawin. Berapa banyak orang yang kawin dengan tiada cinta.”

“Kau lupa, Mini, boleh jadi aku terus menganggur atau cuma mendapat pekerjaan yang kecil.”

“Ki, aku masih bergaji, cukup untuk dua orang. Apakah salahnya kita kawin.” Basoeki memandangnya dengan herannya.

“Aku lelaki, Mini, yang berharus mencari penghidupan untuk anak lstrinya. Bila kuperbuat seperti kehendakmu itu, di kemudian hari akan kau pandang aku rendah, tiada bertenaga, akan hilanglah cintamu, akan rusaklah perkawinan kita.”

“Moral....”

“Moral itu berubah-ubah.”

“Benar, tetapi moral yang kau kehendaki itu bukan masanya sekarang. Barangkali beratus tahun lagi, barangkali juga tiada akan pernah.”

“Apakah salahnya buat sementara sampai kau mendapat pekerjaan?”

“Mini, malu besar kepada lelaki sejati hidup dan perempuannya.” Basoeki tegak berjalan hilir mudik.

“Kau tiada cinta aku, kau cinta hartamu....”

“Aku cinta....”

“Ki, ingat kau perjanjian kita pada pertama kalinya kita bersama-sama berjalan-jalan? Siapa yang mengajak, dia yang membayar, sebab yang diajak mengawani cuma, jadi bukan untuk kesenangannya semata-mata. Bila sama-sama setuju, sama-sama membayar. Ingat, Ki? Aku yang mengajakmu kawin, akulah yang membayarnya.”

“Kau lupa, Mini, bahwa penghulu yang mengawinkan kita. Di mata orang, akulah yang wajib mencari penghidupan. Datang ke penghulu artinya mengaku pandangan biasa itu.” Basoeki diam Sejurus, lalu segan-segan: “Bila yang perempuan yang hendak membelanjai, cuma satu jalan, ialah jangan kawin di muka penghulu, jadi tiadalah usah yang lelaki menanggung. Kawin yang begitu belum masanya di kalangan kita. Kau lihat, Mini, tiada jalan kepada kita, lain dan yang kukatakan tadi.”

Sekonyong-konyong Roekmini berdiri, lalu menjatuhkan dirinya pada pangkuan Basoeki, dipeluknya lehernya, matanya mulai bercucuran airmata.

“Ki, tidak akan kulepaskan kau lagi. Kaulah cintaku yang pertama. Tidak akan kulepaskan kau.”

Diciumnya berkali-kali bibir Basoeki, direkatkannya dirinya pada kekasihnya itu.

“Kau hendak menyuruh menanti, suruhlah, tetapi janganlah kau hendak memutuskan cinta kita. Aku akan menanti, menanti sarnpai kau ada penghidupan, cukup untuk kita berdua.”

“Mini, kalau sudah tenang pikiranmu, tentu kau setuju dengan yang kukatakan itu.”

Roekmini berdiri, tetap hati pada air mukanya.

“Ki, kau tidak berani hidup, itulah sebabnya kau berkata begitu. Kau takut menanggung akibat cintamu, sampai segala akibat. Cinta sejati tidak menyerah, tidak tahu mundur, tidak mau menyamping. Cinta sejati mempertahankan dirinya, menghidupkan dirinya, lamun semua rintangan.”

“Mini, aku cinta, sepenuh-penuh cinta. Karena aku cintalah, aku hendak melepaskanmu. Bukankah itu tanda kekuatan, melepaskan cinta yang berbalas?”

“Itu bukan cinta sehat, itu cinta yang berpenyakit. Cinta sejati harus dapat menghidupkan, dia tiada bersunyikan diri, seperti seorang yang bertapa.”

Basoeki berjalan pulang, memikir-mikirkan percakapannya dengan Roekmini. Lama mereka bertukar pikiran. Roekmini ada pikirannya sendiri. Pada penghabisannya Basoeki tiada juga menarik putusannya, Roekmini tiada pula hendak melepaskannya, dia mempertahankan cintanya. Sampai di pintu pekarangan, Roekmini memeluk lehernya, menengadahkan mukanya, minta dijanjikannya dia datang besok sorenya. Mulut Basoeki menjanjikannya, meskipun hatinya sudah menetapkan, dia tiada akan datang lagi, tiada akan bersua lagi dengan Roekmini. Roekmini menerka maksudnya rupanya.

“Bila kau tidak datang, aku yang mendatangimu. Ingat, Ki, aku mempertahankan cintaku. Ki,….”

Roekmini rnerekahkan bibirnya, badannya mclernah, menyerah, Basoeki bimbang, terharu. Ingin hatinya memeluk badan itu, mencium seluruh muka yang menengadah itu, mengampu badan yang rnelernah bersandar pada dadanya.

“Ki,….”

Basoeki tiada tertahannya lagi. Dipeluknya, diciumnya dengan nafsunya. Badan Roekmini melemah dalam pelukannya, menyerah seluruh badan dan sukmanya. Mukanya bersinar bahagia. Basoeki tiba-tiba insaf kembali; dilepaskannya pelukannya, hendak melangkah pergi. Roekmini menarik melepaskan tangannya, lalu cepat rnelangkah. Masih kedengaran suara Roekmini: “Sampai besok.”

Basoeki baru pada dini hari sampai di rumah. Pada pagi hari keluar rumah lagi. Dia merasa dikejar dalam hatinya. Roekmini tiada hendak berlepas. Ah, bila begitu juga pemandangannya biarlah..., tetapi harapannya terus, sedang Basoeki tiada dapat menanggung harapan itu. Benar juga katanya, bahwa pada penghabisannya, egoisme juga yang menyuruh Basoeki hendak melepaskan. Tiada berani menanggung akibat. Mana yang benar, berlepas atau tidak? Perangai Roekmini malamnya, rnelemahkan hatinya. Dia sudah memberi sandaran, sekarang diambilnya sekonyong-konyong. Tanaman sudah bertumbuh, dibantunnya tiba-tiba....

Berjam-jam Basoeki tiada tentu tujuan, tiba-tiba insaf dia bahwa dia masuk jalan tempat tinggal dr. Soepardi. Di sana berhenti. Sekonyong-konyong terasa padanya inginnya mencurahkan hatinya. Dia sendiri tiada dapat mengalirkan derasan air keterusan baru. Hatinya banjir. Tadi malam ada pandangannya tertarik oleh Haereni. Dia kawan Roekmini juga.

Haereni sedang mengapus-apuskan cutex pada kukunya, duduk-duduknya semalas-malasnya. Sebentar-sebentar dijauhkannya jari-jarinya akan memandang cukupkah sudah warna merah muda yang diapuskannya itu. Pikirannya hendak melayang-layang seleluasanya, tetapi tertambat-tambat oleh main-main asyik mengindahkan kuku itu, seperti pintu air disangka tertutup, sedikit terbuka, air mengalir juga.

Haereni dengan senang menyambut Basoeki, ada dapat pelalai waktu.

“Aku belum mandi, Ki. Malas. Biar saja begini.”

“Pardi keluar?”

Haereni bersandarkan diri. “Ya. Beginilah jadi istri dokter.”

Tiada mendalam anti perkataan itu kepada Basoeki, pikirannya bertimbun oleh susahnya sendiri.

“Jadi Ki, kapan pikiranmu kawin?”

“Kawin Ni?” Maka tiba-tiba tercurahkanlah segala isi hatinya, segala yang dipikir-pikirkannya selama ini. Haereni mendengarkannya, menentangnya. Basoeki bersandarkan diri, menutup mata sambil menyedihkan perjuangan hatinya. Haereni duduk pada sandaran kursi Basoeki, ditekannya kepala Basoeki pada dadanya. Mendengar sedih Basoeki itu makin terasa kepadanya sedihnya sendiri. Di sana sini seperti dia sendiri yang berkata. Ingin kepala kasih yang tiada diberikan, yang tiada sampai, yang tiada terpenuhi. Diapus-apusnya kepala Basoeki, seperti mengapus-apus dirinya sendiri. Ingin yang tiada berketentuan membentang dalam dirinya, melemahkan dirinya.

Basoeki sudah pergi.... Haereni memandang dengan tiada pandangan. Lambat-lambat insaf padanya perbuatannya yang baru dilakukannya. Dilihatnya pakaiannya yang tiada teratur, badannya terlentang dalam tempat tidur. Lambat-lambat tersimbah awan mendung, mulai terang cahaya insaf. Dia terlentang, merenung-renung.., tiada bergaya, terpatah oleh insaf akan akibat perbuatannya.

         29 Oktober 1931.

Sinar perhatianku,
Suratmu yang panjang itu sudah kubaca berkali-kali. Amat Senang hatiku mendengar suaramu seperti dahulu lagi, waktu kita mulai berkenalan. Penuh harapan akan masa yang akan datang. Makin teguh dan giat oleh rintangan. Masakan tada akan maju dagang bukumu, bila kau kerjakan dengan giat? Lima bulan lagi, Ki? Datanglah kau menjemput aku? Aku bisa mengajar, katamu? Tentu Ki, aku akan menjadi guru lagi. Bila tiada sekolah yang mau menerimaku jadi guru, akan kudirikan sekolahku sendiri. Ki, senangkah kau beristri seperti aku ini? Berpikiran dan berinisiatif sendiri? Katamu, bila tiada begitu sifatku, tentu pada malam itu sudah putus cinta kita. Perempuan lain akan tawakal, tiada bergaya lagi.
Pada beberapa hari sesudah kau berangkat, amat sedih hatiku, serasa-rasa kosong. Tetapi aku tahu sedih perceraian itu akan sementara saja. Apa lagi perceraian itu, harus, akan menyempurnakan bahagia kita di kemudian hari. Lagi, Ki, putusan Tuhan tiada kita ketahui. Bila di kemudian hari kau yang Iebih dahulu dipanggilnya, lalu aku tinggal sendirian haruslah aku bersedih-sedih selama-lamanya, tinggal berpangku tangan? Alangkah cacimu nanti, bila kau lihat aku begitu, dan dunia yang lain.
Makin lama kau tiada didekatku makin nyata padaku dalamnya kasihku padamu. Ki, dulu perhatianku tertuju padamu, hingga kurang perhatianku kepada Haereni. Haereni, yang merasa dirinya miskin, tetapi sebenarnya tidak. Pardi amat mencintainya. Diusahakannya akan menyenangkan pikiran Haereni, sebanyak-banyak praktiknya membolehkannya. Haereni selalu merasa dikurangi haknya akan cinta Pardi. Kurang disediakan Pardi waktu untuknya. Sekarang lebih banyak kuperhatikan dia. Berkali-kali sudah kami bercakap-cakap. Dia mencari bertemu dengan aku. Kutunjukkan bahasa Pardi amat mencintainya. Tetapi Pardi tiada banyak waktu. Tetapi waktu yang ada disediakannya semata-mata untuk istrinya dengan segala kasihnya. Salahnya bukan Pardi, tetapi pandangan Haereni. Haereni selalu meminta, hendak mendapat sebanyak-banyaknya, tetapi dia lupa memberikan sebanyak-banyaknya pula. Bukan yang banyak yang perlu, tetapi kualitetnya. Pandanglah, kataku padanya, waktu yang sedikit itu, yang tersedia buat dirimu, sebagai permata, barang yang amat berharga, yang hendak kau pakai sebanyak-banyaknya mungkin akan mengindahkan dirimu. Kesempatan yang ada, harusIah dipergunakannya sebanyak-banyak mungkin, sebaik-baiknya. Salahnya dia tiada memenuhi pikirannya, pada waktu Pardi melakukan praktiknya. Rumah tangga bukan dia yang mengurus, tetapi abdi yang dibawanya dari Jogja, yang memeliharanya dari kecilnya.
Isilah waktumu dengan usaha sosial, kataku. Diceritakannya padaku, dia sebelum kawin, bercita-cita hendak membantu bakal suaminya dalam pekerjaannya, belajar pekerjaan verpleegster. Waktu sudah kawin cita-cita itu masih ada dalam pikirannya, tetapi berat hatinya melakukannya.
Sekarang sudah dia mulai bekerja sosial. Dia tampak lebih hidup. Dia hendak mengusahakan kursus mengurus rumah tangga, pada hari sore. Mulai terasa padanya, bahwa dia ada kepandaiannya yang perlu juga kepada orang lain, bahwa dia bisa memimpin orang.
Mudahnya bimbang sudah mulai hilang, tetapi masih acap kali perlu ajakanku. Soepardi ada kubicarakan tentang sifat istrinya itu. Dia juga akan menjaga-jaga, akan memperhatikan hal itu.
Ki, senantiasa ada sinar pada mata Haereni, yang ingin mengatakan sesuatu padaku, tetapi segan. Aku tahu, tentang apa. Sama saja dengan yang kau ceritakan itu. Aku pun memandang, mengatakan dengan mataku, bahwa aku mengerti. Dia amat bergantung dan kasih padaku. Perbuatan itulah pula, pada perasaanku, yang membesarkan kasihnya kepada Soepardi, yang rnenyebabkan dia memperbaiki diri sendiri. Aku tahu, dia tiada insaf akan perbuatannya Dia merasa amat sunyi pada waktu itu, sudah lama dia merasa sunyi.
Itu tanda lemah, perempuan yang menyerahkan diri, karena sunyi dalam hati, tiada insaf yang akan diperbuatnya. Perempuan seharusnya menyerahkan diri dengan insaf, tahu apa yang diperbuatnya. Perempuan masa dulu, tunduk, menurut, semangat hamba. Perempuan masa sekarang haruslah tetap dalam rumah tangga, tetapi insaf dalam menundukkan diri.
Dahulu kusangka, bahwa bahagiaku ialah berdiri sendiri, tiada mau tunduk kepada lelaki, tetapi Ki, setelah kau kukenal, tahulah aku, bahwa bahagia ialah menyerahkan diri, rnenyandarkan diri. Pada permulaannya amat susahnya kepadaku mengaku maumu lebih kuat daripada mauku. Tiada kau ketahui beratnya perjuangan hatiku, akan mengaku bahwa aku tunduk. Tetapi aku berterima kasih, menang juga yang sebenarnya, bila tidak tentulah aku pada akhirnya akan merasa hampa juga dalam hatiku. Sekarang hatiku penuh.
Ki, sebenarnya iri hatiku mendengarkan ceriteramu yang terus terang itu tentang halmu dengan Haereni itu. Tetapi aku mengerti, Ki, lambat laun hilang juga iri hatiku. Sekarang dalam suratmu kau terangkan sekali lagi. Kau sudah bisa memecah-mecahnya dengan tenang. Kau katakan, kau sendiri menderita akan putusanmu akan melepaskan aku. Batinmu sebenarnya tiada hendak melepaskan, dia dengan teguh merindui aku, menghendaki aku, kau hendak memeluk aku pada malam “perpisahan” kita, tetapi kau tahan inginmu, lalu besoknya, habis mencurahkan hatimu kepada Haereni, nyata padamu dengan pedihnya, bahwa ingin itu akan tinggal ingin oleh putusanmu sendiri. Kau hendak menghilangkan, mendiamkan inginmu, sedang ada perempuan didekatmu, yang merasa-rasakan melemah menyerahkan din.
Ki, perbuatanmu itulah yang mengembalikanmu padaku. Katamu sorenya, kau tiada akan datang, bila tiada terjadi hal itu. Kau merasa harus minta ampun padaku. Ki, itulah tanda kita sudah bersatu, bererat-eratan. Bila aku tiada pada pikiranmu, bila kau tiada merasa ada hakku pada dirimu, masakan kau datang meminta ampun? Segala sesuatu ada baiknya.
Bila sekali-sekali hatiku lemah, kuingatlah lagi malam percintaan kita. Ingatan itu rnengeraskan hatiku akan menanti ketika kini bersua lagi. Ingatan pada malarn itu menerangkan hatiku. Malam itu aku menyerahkan diriku dengan insaf karena kasihku padamu. Kau menerima serahanku, insaf akan perlunya tanda kini bersatu sudah seluruhnya. Bila tiada kau terima serahanku itu, tiada akan kubiarkan kau belajar.
Adakah lagi tanda matamu yang lebih indah, lebih tetap padaku? Aku tahu perbuatan kita itu akan kau pandang tinggi, sama-sama insaf apa yang kita perbuat.
Lima bulan lagi, datanglah engkau menjemput aku? Tiada kejut hatiku akan berpindah pulau, bukankah Medan juga kota tanah air kita?
Sedang aku menulis surat ini, Mariati bersusah payah membuat wiskundenya. Dia seringkali mengeluh, mengapa kubiarkan kau berangkat, sekarang tiada lagi Mas Ki akan menolongnya.
Saudara sepupumu Trini dengan suaminya seperti biasa. Marsidi akan menempuh ujiannya yang penghabisan dua minggu lagi.
Kemuning di pekarangan rumahnya sudah berbunga pula.    
Ingatlah malam kenangan kita,
Istrimu,
Mini.

*) Maksudnya:
Dengarkan lagu melembut,
Yang merayu hanya akan meriangkan wan,
Lagu sederhana, lagu menepis,
Getar air pada built 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

panah•TERARAH•panah

Tidak Punya Konsep Politik Kebudayaan filem Nasional Lesu

     Mendung masih meliputi filem nasional yang masih lesu, sementara Festival Filem Indonesia (FFI) yang diselenggarakan tiap tahunnya, pada 1993 kemarin sepi dari kegiatan tersebut. Tapi menurut sutradara terbaik FFI 1992, Chaerul Umam, banyak hal penyebab filem Indonesia lesu di antaranya adalah situasi persaingan yang tidak wajar dengan AS.     “Dari persaingan itu, filem-filem AS seenaknya masuk begitu saja tanpa ada seleksi atau saringan.” Kata Chaerul Umam dalam perbincangan khusus dengan Surat Kabar Merdeka, awal pekan ini di Jakarta. Penyebab lainnya, adalah masalah pendidikan perfileman untuk orang-orang filem sendiri tidak digalakkan. “Sebetulnya kita bisa saja menyekolahkan sineas-sineas kita keluar negeri.   Sebab, kesenian filem itu 75 persen kesenian tekhnologi, sementara kita dengan tekhnologinya belum menguasai,” ujar sutradara yang akrab dipanggil mamang ini.     Walau diakui juga bahwa kelesuan perfileman nasional kes...

MEREKA JANG MENJADI KORBAN SIA-SIA.

.... , Ketika pasukan-pasukan R.I. bergerak mendekati Madiun, pasukan-pasukan R.K.I. jang mengundurkan diri dari kota Madiun bergerak menudju keselatan. Ditengah jalan mereka terpisah mendjadi dua kelompok besar, jaitu sekelompok pasukan jang terus bergerak keselatan dibawah pimpinan Musso, sedang lainnja dipimpin oleh Amir. Pasukan Amir ini demi melihat daerah turugval basis mereka dilereng gunung Wilis telah djatuh ditangan pasukan-pasukan R.I., maka Amir memimpin pasukannja menudju kearah Barat dan terus kembali membelok keutara melalui hutan-hutan dilereng gunung Lawu dengan tudjuan daerah purwodadi atau daerah tjepu, Rembang, dimana mereka akan mengharapkan akan mendapatkan perlindungan dan bantuan dari rakjat. Kisah bergeraknja pasukan-pasukan komunis jang dipimpin oleh Amir kearah utara ini adalah merupakan kisah jang benar-benar menjeramkan bulu roma. Disetiap desa atau tempat jang dilalui pasukan ini djumlah pasukan semakin besar, karena mereka memaksa penduduk, terutama pem...