Sebuah Karya Sastra Dari Buku; Cerpen-cerpen Pujangga Baru. Terbitan: Marie Josephine Kumaat Mantik. Penerbit: Wedatama Widya Sastra
Barang
Tiada Berharga
Armijn
Pane
Ecoutez la chanson
bien douce
Qui ne pleure que pour
vous plaire.
Elle est discrete,
elle est legere:
Un frisson d’eau sur
de la mousse!*)
(Paul Verlaine).
3 Oktober-13 Oktober
1935.
Haereni
masih hening tegak dijanjang beranda muka, tangannya kemalai terkulai di sisi
badannya. Kondenya tengah lepas menurun pada lehernya.
Pekarangan
rumah sudah berpanas; di bawah mangga, tempat kursi kebun, sudah pula bertalau-talau,
bergerak-bergerak bayang daun, seperti biasa….
Mobil
baru saja berangkat, Pardi sudah pergi menjunjung pasiennya.
Reni
memandang ke jalan melihat tram lalu, ada berharap, melihat muka yang dikenal
melintas, dirangkai jendela tram. Ingin menggerakkan tangan, mengangkatnya, akan tanda menabik, akan menggerakkan
air muka, bersenyum. Tetapi jarang ada kenalan yang melintas dengan tram itu.
Sekalipun tiada.
Haereni
memandang ke langit. Biru, tiada berawan. Akan panas terik hari ini.
Mengeluh,
Haereni berbalik, hendak masuk ke dalam. Di samping meja, tangannya memegang
majalah berkala “Die Woche”, yang kulitnya, mengambarkan perempuan berpakaian
sport, beraksi hendak melemparkan tombak. Dipandang sejurus, lalu sedang tangan
kirinya membalik-balik majalah itu, matanya terpandang kearah kamar tempat
suaminya belajar. Masih ada beberapa buku terbuka. Beberapa pula yang
bertebaran tiada beratur.
Haereni
melangkah ke meja itu, tetapi tertahan sebentar oleh suara telepon. Langkahnya
tergesa-gesa kedengaran di belakang. Biarkan saja babu menerimanya. Tentu saja
seorang pasien, yang bertanyakan Pardi. Tangannya mulai mengumpulkan buku yang
bertebaran di atas meja suaminya itu, hendak disusunkannya ke dalam lemari
kitab. Kedengaran pada babu menyebutkan “nyonya ada, nanti sebentar saya
panggil”.
Haereni
hendak meletakkan kembali buku-buku di atas meja, lalu masuk ke dalam, bertemu
pintu dengan babu yang mengatakan: “ada telepon buat nyonya.”
Agak
riang suaranya, karena terlepas sebentar dari yang biasa, ada hal yang luar
biasa, waktu mengatakan: “halo, nyonya dr. Soepardi disini.” Riang benar
suaranya waktu menyebutkan: “Kau Ti?...Ke Pasar baru?...Jadi…Ya, ya, aku mandi
dahulu. Kalau datang, aku sudah klaar.”
Gembira
hidup matanya, gerak badannya, waktu meletakkan hoorn telepon kembali.
Sekonyong-konyong lepas suaranya, menyanyi lagu gembira. Terpandang gramopon.
Marta Eggerth. Sebentara lagi meriang suara Marta Eggerth, serta suara menyanyi
Haereni, yang bergegas ke kamar mandi.
Bila
Trini hendak berbelanja ke Pasar Baru, selalu diajaknya haereni, yang amat
pandai menolongnya meilih yang pantas padanya. Trini sendiri amat susah rasanya
memilih warna dan bunga yang sepadan dengan badan dan warna kulitnya.
Sekian banyak warna dan rupa stof kebaya
dalam toko Bombay dan toko de Zon. Susahnya pada Trini memilihnya.
Sekali
ini pun Haerenilah yang memimpIn. Dialah yang melangsirkan pandangannya
melintas susunan stof yang berbagai rupa itu, sedang Haereni tegak menanti.
Sekali-kali Haereni menyuruh orang Bombay pelayan toko menarik blok stof dari
susunannya, lalu Haereni pun menggantungkan sebidang stof yang dipilihnya itu
pada badan Trini. Bersama-sama keduanya memandang ke kaca, akan menguji pantas
atau tiadakah. Tiada lelahnya Haereni memandang lau memilih. Trini dengan sabar
menantikan putusan Haereni. Dia tahu, bahwa Haereni tiada akan puas, bila belum
bertemu yang menyenangkan kehendaknya.
Lebih
dari setengah jam lamanya Haereni memandang, memilih, lalu mencoba, tetapi
tiada juga yang sesuai dengan rasanya.
Keduanya
meninggalkan toko Bombay yang tiada menyenangkan ingin Haereni, lalu masuk toko
de Zon. Haereni senang rasa hatinya, di tengah-tengah barang yang indah-indah
itu, di tengah-tengah barang yang indah-indah itu, di tengah-tengah perempuan
yang berpakaian berwarna-warna, berbagus-bagus.
Kap
lampu yang ada pada tempat dia melintas, menarik matanya, melupakan sementara
akan maksud yang sebenarnya. Amat bagusnya dipakai di kamar tengah, pikirnya.
Ditawarnya, terlalu tinggi harganya. Lalu Haereni teringat lagi maksud hendak
memilih stof buat Trini.
Habis
tepat pilihnya, timbul lagi ingatannya, bahwa ia perlu kant. Pelayan membawa
Haereni dan Trini ke tempat Kant. Haereni memilih, menawar, tepat harganya.
Pardi
perlu stof gabardine. Ada-ada saja timbul ingatan Haereni, akan menanya barang
yang diingatnya perlu. Beberapa kali dia tiada sampai bertanya harga, cukup
sudah menyatakan tiada yang sepadan dengan kehendaknya. Seolah-olah dia hendak
melenga di toko itu.
Trini
tahu akan sifat Haereni, yang amat senang akan warna dan cahaya. Trini senang
mengajaknya ke toko, akan melihatya kawannya itu gembira. Sekarang pun Trini
senang melihatnya kawannya itu tidak lesu seperti biasanya dia keliahatan.
Dengan sabarnya diturutnya Haereni dari sudut toko ke sudut lain, meskipun dia
tahu, bahwa Haereni tidak akan membeli.
Sesudah
toko de Zon, Haereni mengajak Trini minum sebentar di Ragusa. Bukan karena
hausnya atau lelahnya Haereni hendak duduk di sana. Dia amat senang duduk
hening, melihat orang dan kendaraan lalu lintas, sedang musik kedengaran.
Haereni
menyedok es krimnya, sedang Trini terus berkata-kata. Haereni tiada sepenuhnya
mendengarkan cerita kawannya itu. Pikirannya tiada, sedang pendengarannya
dengan lagu klasik, yang diperdengarkan dengan radio. Berangan-angan Haereni
bukan, bersedih-sedih pun bukan. Pikirannya tenang, digerakkan diayunkan lagu,
tersela-sela oleh cakap Trini.
Trini
yang tiada mengerti akan kesenangan kawannya itu, tetapi tiada segan
mengawaninya berjam lamanya. Lambat-lambat sekali-sekali Haereni
menyendok-nyendok es krimnya, lalu sebentar-sebentar, diletakkan kembali pada
meja. Kedua belah lengannya memanjang tangan kursinya, sedang tangannya
memegang ujung tangan kursi itu, badannya tegang, seolah-olah hampir hendak
melonjak. Sejurus kemudian badannya melepas, seperti busur, yang sudah
ditembakkan anak panahnya, lalu badannya membungkuk, menyendok-nyendok lagi,
sekali-sekali menengadah, bila ada tamu keluar masuk.
Trini
dan Haereni tiga tahun bersama-sama sekelas di Middelbare Huishoudschool.
Sama-sama pula selesainya tiga tahun yang lalu. Trini dengan segera berusaha
mendapat tempat mengajar di Malang. Di sanalah dia mengajar sampai setahun yang
lalu, waktu dia kawin dengan Marsidi. Semasa dia sekolah, Trini dan Marsidi
sudah bertunangan, tetapi keduanya masih menanti Marsidi selesai pelajarannya
pada Sekolah Dokter Tinggi.
Tetapi
kedua belah family menghendaki keduanya kawin setahun yang lalu. Trini tiada
merasa keberatan, dengan mudahnya dia melangkah segala halangan yang
dilentangkan Marsidi. Perkara uang, diselesaikan Trini dengan senyumnya, bahwa
mereka bisa juga hidup dengan sederhana. Bisa menyewa rumah kecil yang hanya
berkamar dua saja, satu kamar tidur, satu kamar tempat Marsidi belajar. Di
Rawamangun, di Ampasietweg, bukan ada rumah yang akan bisa ditinggalinya?
Bila
ada anak datang? Trini memandang Marsidi. Bukanlah Marsidi yang bermula
menerangkan perkara membatasi anak lahir? Trini tiada setuju mulanya. Melanggar
panggilan natuur. Mematikan yang hidup. Cuma buat kesenangan suami istri, biar
lepas tangan, berbuat senang sekehendaknya.
Marsidi
menerangkan soal itu, dari segala sudut. Sudut susila, agama, dan sosial dan
kesehatan.
Bila
ada dua orang yang berkasih-kasihan, yang hendak kawin tetapi tiada cukup
keadaan pendapatannya buat sementara akan membelanjai anak, tiadakah melanggar
kesusilaan, bila keduanya tidak kawin? Bila keduanya atau seorang, berpenyakit
turunan, lain halnya.
Aneh
benar, bahwa rakyat biasa jarang, jangankan tiada sekali, mengenal uang jadi
halangan kawin. Sedang semustinya merekalah yang seharusnya lekas kawin, akan
meninggalkan sebanyak penerusnya kuntum bangsa.
Lama
Marsidi membentangkan soal itu, Trini belum puas pada perasaannya. Beberapa
kali Marsidi menerangkan, baru Trini lambat laun meresap soal itu.
Sekarang
Marsidi yang merintangkan halangan uang dan anak. Trini memandang mengejekkan
tunangannya.
Bila
kawin, pikirannya akan tertarik oleh urusan rumah tangga dari pelajarannya.
Trini menertawakann: “Bukankah aku yang memikirkan rumah tangga? Aku tahu
keberatanmu. Kau merasa tertambat. Tiada bebas lagi dipuja, dan dijadikan kawan
oleh gadis, di Betawi. Tiada bebas lagi pergi ke mana-mana. Kalau pergi ke
pertemuan atau keramaian selalu ada aku. Tidak ada lagi sempat melirik ke sini
melirik ke sana. Benar tidak, Di?”
Begitulah
hilang segala halangan Marsidi oleh mudahnya rasa Trini, yang tiada pernah
melihat kesukaran dan keberatan dalam hidup.
Lain
benar dengan kawannya, Haereni. Setelah tamat sekolahnya, dia kembali ke Jogja
tinggal di rumah ibu bapaknya. Dia ada mendapat tempat di Purworejo, tetapi
tiada diterimanya. Banyak benar halangan dirasanya. Sekolahnya sekolah Kristen,
dia harus bertempat tinggal di internaat. Jarang boleh keluar. Lagi pula ibu
lebih senang dia di rumah.
Heran
Trini mendengar keberatannya yang pada rasa Trini bukan keberatan. Haereni pada
banyak hal amat berpikiran merdeka, yang menggeleng-gelengkan kepala Trini.
Haereni tiada jarang sendirian pulang, pukul sepuluh malam, lepas berkunjung ke
rumah Trini. Ajakan Trini, biar dia dibawa oleh adik Trini, tiada diterimanya.
“Aku
datang sendirian, aku pergi pulang sendirian pula.” Meskipun Trini tiada setuju,
kemudian bila Haereni datang sendirian, tiada pernah lagi dia mengajak Haereni
diantarkan.
Haereni
amat bergembira perempuan berdiri sendiri, mencari nafkah sendiri. Tetapi
selesai sekolah, ada kesempatab berdiri sendiri, kesempatan itu tiada
dijangkaunya. Trini banyak sekali mengalamkan, Haereni memutuskan akan
melakukan sesuatu, tetapi biar hampir tiba ketika memulai, Haereni bertarik
diri. Haereni seolah-olah seorang yang melihat buah yang masak, lalu dengan
cepat dan rajinnya memanjat pohon, tetapi sampai di atas, segan menjangkau,
sebab sudah hilang nafsu atau takut jatuh, meskipun kawan di bawah mengunjukkan
galah.
Perkawinannya
pun dengan dokter Soepardi, hampir tiada jadi. Ada-ada saja halangan yang dikemukakannya.
Dia cinta, katanya, tetapi kasih itu terlalu suci, akan dinodai oleh
perkawinan. Kasih itu akan bisa hilang oleh perkawinan. Tiadakah lebih baik,
tiada kawin, kasih tetap ada?
Soepardi,
dibantu oleh Trini, menerangkannya, bahwa cinta yang tiada berestukan kawin
ialah cinta palsu, cinta mati. Cinta, kata soepardi, baru cinta sebenarnya,
bila dia menjadi penyuruh mengadakan. Cinta yang sebenarnya, tiada mencari yang
negatif, tetapi yang positif. Trini mencela Haereni. Manakah lagi yang dikehendaki
seorang perempuan yang melebihi daripada mendapat anak daripada lelaki yang
dicintainya?
Haereni
menunjukkan bukit halangannya. Pardi akan senantiasa keluar, terlingkup oleh
pekerjaan di luar. Telalu banyak memandang dan berurusan keluar, hingga akan mengurangi
perhatiannya kepada Haereni. Reni menghendaki Pardi buat dia semata-mata. Trini
menertawainya benar. Manakah itu mungkin. Itu pikiran yang amat sempit. Pikiran
orang yang cinta buta.
Amat
sukarnya kepada Trini mengajaknya menyampingkan kesukaran yang sebenarnyabukan
kesukaran itu. Perkawinannya terlangsungkan juga enam bulan yang lalu.
Tiba-tiba
Haereni memanggil jonggos, hendak membayar rekening.
“mari
pulang, Tri, nanti Pardi datang di rumah, aku tidak ada.”
Trini
tiada heran, Haereni sekonyong-konyong hendak pulang. Pukul tengah dua belas
baru. Biasanya Trini baru kembali pukul tengah satu. Nanti tergesa-gesa pulang
ke rumah. Tiba di sana Reni akan kecewa, Pardi belum ada, meskipun dia tahu
Pardi baru datang biasanya pukul setengah satu! Seolah-olah Reni mencari kecewa,
mencari sedih yang tiada susah.
Di
tengah jalan pulang, Trini mengajak reni datang sorenya ke rumahnya.
“Roekmini
datang nanti.”
Reni
mengangguk. Trini tahu, Reni senang bertemu dengan Roekmini. Sejurus kemudian: “Lebih
baik jangan, Tri, Pardi….”
“Nanti,
selesai mengunjungi pasien, Pardi datang menjemputmu. Biar dia juga sejam dua
bercakap-cakap dengan kita, melupakan pekerjaannya. Dia perlu juga istirahat.
Lagi dia sudah lama tiada ke rumah.”
“Tri,
Ki sudah dapat pekerjaan tidak?”
“Belum.”
“Kemarin
dulu ada dia kulihat. Lain benar rupanya sekarang.”
Basoeki
lambat-lambat, sambil menghitung anak tangga. Kecewa tiada lagi dalam hatinya.
Dia sudah biasa mendengar ucapan, bahwa dia harus menanti, bahwa namanya sudah
dicatat. Bila dikatakan, bahwa namanya akan dicatat, dia tahulah, dia tiada
harapan mendapat pekerjaan itu. Kali ini lain, chef afdeling menggertaknya
bertanya, adakah namanya tercatat? Dia menjawab ya, lalu digertaknya sekali
lagi, adakah dia dipanggil? Tidak? Bila begitu tiada lowongan. Dia haruslah
memajukan rekest lagi.
Basoeki
dengan benar mendengar dari seorang kenalannya yang bekerja di afdeling itu,
bahwa ada lowongan berhubung dengan licentie baru. Entah licentie apa. Itu
tiada diperdulikannya, yang penting baginya ialah, bahwa ada lowongan. Chef
afdeling mengatakan tiada. Dari tadi dia sudah tahu, bahwa dia tiada akan
mendapat. Anak tangga jumlahnya delapan belas, jadi genap. Genap angka sial
baginya. Aneh, semua anak tangga departemen genap dengan jumlah anak tangganya
ke tingkat kedua. Itulah sebabnya dia tiada mendapat. Tiada waktu naik
dihitungnya, anak tangga persis delapan belas sama sekali. Dia tiada mengharap
lagi, tetapi dicobanya juga, siapa tahu sekali itu terkecuali. Benar, anak
tangga dari atas sampai anak tangga yang lebar, tempat tangga melengkung, ada
dua belas. Ke bawah lagi, satu, dua, tiga, empat, lima, enam, benar tadi juga
enam, tiada salah perhitungannya tadi.
Basoeki
keluar dari Departemen van Economische Zaken , melalui gang tengah kamar direktur
dan onderdirecteur. Ada pada badannya rasa gerak orang yang kebanyakan waktu,
yang tiada tahu apa yang diperbuatnya kemudian, karena itu dia Manahan selama
mungkin keadaannya yang sedang berjalan.
Setibanya
pada tepi jalan, basoeki bimbang. Dia melihat ke kiri, lalu ke kanan. Ke mana?
Tram ada datang dari jurusan Harmoni. Ke Betawi? Tapi apa yang akan diperbuat
di sana? Mencoba lagi masuk kantor keluar kantor? Kantor mana yang belum
dicobanya?
Ke
park saja lagi. Di sana duduk-duduk, sampai tengah satu. Lalu pulang.
Lambat-lambat dia menuju Harmoni, menepi reling kali. Di beranda muka Hotel des
Indes, banyak tamu bermeja-meja, senang-senang duduk makan minum. Dia ada uang,
ada pekerjaan. Di seberang kiri kali, Hotel des Galeris, bertingkat-tingkat,
berandanya, bersekat-sekat. Kebanyakan ditutup kre. Ada yang terbuka sesekat.
Nampak seorang perempuan berpakaian putih membungkuk. Rupa-rupanya hendak
memberi botol susu kepada anak dalam buaiannya. Dibawah, di tempat kafenya dua
tiga orang sedang bercakap-cakap.
Societeit
Harmonie kosong, disana baru malam hari. Di tempat yang beratap,
ditengah-tengah simpang enam itu, duduk dua orang abang-abang; orang yang
mencoba melalaikan waktu duduk-duduk di sana. “Seperti juga,” piker Basoeki.
“Cuma aku berpantalon, dia tidak, tetapi sama-sama menganggur.”
Basoeki
tiga bulan yang lalu terpaksa sekonyong-konyong memberhentikan pelajarannya,
karena bapaknya dipensiunkan lebih dahulu daripada yang diharapkan.
Kandidat
I-nya baru didapatnya, maka haruslah dia menyingkirkan harapannya akan menjadi
jurist.
Dia
bukan seorang yang mudah terpatahkan maunya. Dengan segera dicobanya dengan
giatnya mencari pekerjaan. Dua tiga kali dia ditolak, masih juga keras
harapannya. Dua tiga minggu tiada juga berhasil. Masuk masuk bulan yang kedua,
mulailah surut harapannya, mulailah tegak kenyataan, bahwa tiada akan mungkin
dia mendapat pekerjaan. Lambat laun menjadi obsesi padanya, bahasa tiada akan
mendapat kerja. Giatnya dan maunya yang deras itu makin lama makin melambat.
Kurang giat ini mengambarkan diri pada geraknya, yang dahulu cepat dan giat,
kemudian melalai dan canggung. Dia merasa dirinya hampa, leher sukmanya
bergantungkan besi berat, seperti seorang hukuman yang dipertontonkan kepada
umum. Begitulah rasanya dia dipandang orang jadi seorang yang tiada berharga,
yang tiada dapat dipakai, yang tiada berkedudukan dalam masyarakat. Kawannya
sepelajaran dahulu dijauhinya, takut rasanya menemui mereka yang ada
berketetapan tujuan sehari-hari itu, dia pelambung pada kail, dilambungkan air,
sebuah tanda Cuma, jadi permainan ikan dan pengail. Dia tiada berhargaorang
yang berarti, pelemah, yang bergantung pada orang lain.
Dia
baru menang ujian kandidatnya, waktu dia mulai berkenalan dengan Roekmini.
Marsidi dan Trini tiada di rumah, pergi berjalan-jalan, ketika Roekmini datang
pertama kali berkunjing ke rumah. Basoeki mengawaninya bercakap-cakap sebelum
Trini pulang. Beberapa kejap Cuma sudah berkenalan, maka hilanglah rasa asing
yang senantiasa ada di antara dua orang yang baru kenalan. Percakapannya
mengenai Malang, lalu Batu. Ternyatalah pengalamannya di sana sama, tempat yang
menarik hati Basoeki, manarik hati Roekmini pula. Rasa sesuai melambungkan
mereka kepada kawan yang rupanya berkenalan kedua pihak. Dari kawan itu datang
pula kepada kawannya kenalan kedua pihak. Dari kawan itu datang pula kepada
kawan lain. Begitulah kedua belah bertanya berturut-turut: “Kenalkah si Anu?”
Bila kenal. Percakapannyalah perangai kenalan mereka itu.
“Dia
periang,” kata Roekmini, “tiada dalam perasaannya.”
“Belum
tentu. Dia pernah bercakap-cakap dengan aku. Kusangka dulu dia tiada dalam,
tapi sesudah itu, aku tahu, dia dalam juga.”
“Ya,”
kata Roekmini, “aku juga heran sekali menerima surat dari dia, lain dari surat
yang lain-lain. Heran kau dari mana didapatnya pikiran yang sedalam itu.”
“Boleh
jadi dari buku...,” senyum Basoeki. “Banyak orang yang mengajukan pikiran
seolah-olah kepunyaannya, tetapi sebenarnya cuma didapatinya dan buku. Sepenti
seorang makelaar atau commissionnair. Seorang tengkulak pikiran.”
Bagai
itulah keduanya bersetujuan dan koreksi-mengoreksi pemandangannya akan kawannya
bersama. Lama-kelamaan sampai percakapan kepada pekerjaan Roekmini. Senangnya
dan gembiranya dia mengajar “Aku serasa tetap anak, setiap hari bergaul dengan
anak. Cobalah lihat anak yang baru datang dari sekolah lain. Masih segan.
Susahnya melepaskan segannya. Setiap anak lain caranya melepaskan segannya itu.
Harus berawas-awas kita, bila tidak, boleh jadi segan ini terus-menerus, tetap
jadi sifatnya dalam kelas. Susahlah memasukkan pelajaran.”
Mata
Roekmini bersinar-sinar.
“Tentu
ada susahnya, di samping senangnya mengajar, memimpin sukma anak. Anak yang
nakal, yang tiada mudah menarik perhatiannya. Kadang-kadang salahnya sudah
sejak kecilnya, salah didikan. Padahal yang begitu aku mengingat Adler. Saya
cobalah menyelidiki apa sebabnya anak itu nakal. Biasanya berhasil juga usaha
saya.”
Ada
sudah pada keduanya udara percaya, ketika Trini dan Marsidi datang. Trini
dengan herannya mengucapkan: “Kamu seperti kenalan lama.”
“Benar,
Ni. Sekali-sekali kita berkenalan dengan seorang yang dalam kenangan kita sudah
lama kita kenal. Seperti pikiran yang lama kita kandung, tetapi tiada juga
terkatakan, sampai sekonyong-konyong oleh sesuatu, pikiran itu terlahirkan. Dan kita lega.”
Kemudian
pada mengantarkan Roekmini pulang. Rasa Basoeki benar-benar lega. Entah apa,
keduanya tiada ingat akan memanggil kendaraan. Percakapan lancar saja, tentang
berbagai-bagai hal. Tiada dalam, melompat-lompat dari hal satu ke hal lain,
tiada bersambungan, seperti burung meloncat-loncat dan dahan ke dahan, seperti
mengecap beberapa rupa koee, dengan cepatnya, takut kelambatan.
Roekmini
merasa lega, ada kesempatan mencurahkan pikirannya. Pada ketika itu baru terasa
padanya, bahwa banyak yang dipikirkannya, yang tinggal tersimpan dalam dirinya,
karena tiada tempat pencurahkan. Lagi pula karena perhatiannya seluruhnya
tertujukannya kepada pekerjaannya. Serasa ada teman turut menatap pemandangan.
Ketika itu baru terasa padanya bahwa pikiran banyak itu berat juga selama ini,
karena amat lega rasanya, dalam bercakap-cakap dengan Basoeki itu. Selama tiga
tahun ini dia menjadi guru, banyak lelaki yang dikenalnya, dan jadi kawan
bercakap-cakap, tetapi tiada pernah melegakan rasanya. Sekarang serasa sama menyelam
mengambil bersama-sama lokan mutiara. Roekrnini mengeih muka Basoeki sebentar,
sedang dia membentangkan
pikirannya. Tenang sungguh-sungguh.
Lepas
C.B.Z., ketika harus menunggu pada boom jalan melintas sepur teringat Basoeki
mereka berjalan kaki. “Ah, lupa kita naik delman.”
“Ya...,
tetapi sudah tengah jalan, biarlah kita terus jalan kaki.”
“Nanti
lelah.”
“Tidak,
aku senang berjalan-jalan begini.”
Sampai
di rumah Roekmini, Basoeki hendak dengan segera pulang, tetapi ditahan
Roekmini, duduk sebentar,sebab dia tentu haus berjalan begitu. Basoeki dada
menolaknya.
Lebih
dan sejam lamanya, mereka terus bercakap-cakap. Basoeki melihat album, sedang
Roekmini menerangkannya. Banyak orang dan tempat yang sama dikenalnya.
Percakapan sampai ke film dan buku,
sampai keduanya berjanji akan pergi sekali bersama melihat film, dan Basoeki
berjanji akan datang sekali-sekali.
Dua
hari kemudian mereka sudah pergi melihat film. Keduanya tiada memuji film itu.
Lebih dulu sudah disangkanya bahwa film itu tiada bagus. Ada-ada saja sebabnya
mereka harus bersua. Ada karena Roekmini harus dikawani ke Pasar Senen,
meskipun dahulu dia sendirian pergi. Tetapi penutup berbelanja itu ialah
duduk-duduk di es krim palace Okamura. Di sana sejuk telah panas berbelanja.
Mereka
mencari bersua. Trini yang mengetahuinya lebih dahulu, lalu dia dan Marsidi
memudahkan mencari bersua itu. Keduanya sejodoh pikiran dan sifat, apakah
salahnya dipersuakan, pikir Trini.
Beberapa
minggu berasa bahagia, berakar pohon perhatian, mulai berkembang rasa ada
kawan. Pada suatu malam keduanya berjalan-jalan di dekat-dekat rumah Roekmini,
sampai-sampai ke dekat terusan banjir yang memanjang di Menteng Pulo. Mereka
bercakap-cakap tentang cara suami istri bergaul. Kemudian, keduanya diam.
Datang sekonyong-konyong mobil dari belakang, hampir kena Roekmini, bila tiada
ditarik oleh Basoeki. Basoeki mengangkatkannya, berjalinlah jari-jari mereka.
“Ramping
jari-jarimu Ni, lentik benar,” sambil Basoeki melentikkan jari-jari Roekmini
dengan tangan kirinya.
“Benar,
Ki?”
Lambat-lambat
didekatkan Basoeki jari-jari Roekmini kepada bibirnya, lalu diciumnya
sekonyong-konyong. Lalu hendak dilepaskannya, tetapi tangan Roekmini memegang
tangannya. Basoeki memandang muka Roekmini sejurus, cuma lemah yang kenyataan.
Diciumnya sekali lagi.
Di
hari-hari kemudian bahagia rasa, ada orang yang cinta dan yang mencintai pula.
Ada tujuan setiap hari: bersua, berdekatan, merasa pandang yang penuh kasih.
Tibalah
berita, bahwa bapak Basoeki pensiun, dan tiada dapat membelanjainya lagi. Pada
permulaannya berita itu menyedihkan dirinya.
Roekmini melalaikan pikirannya: “Kau meester atau tidak, kau tetap kekasihku. Kita sudah kaya
titel oleh karena cinta kita. Bukan titel saya yang bisa memberikan bahagia.”
Kemudian
Basoeki senang juga mengingatkan lekaslah mungkin dia kawin, berdekatan
selama-lamanya dengan kekasihnya. “Ku cari kerja, biar sedikit gajinya.
Dikumpul dengan gajimu cukuplah buat hidup kita berdua,” katanya, sambil
memegang muka Roekmini dengan kedua belah tangannya.
Roekmini
senyum: “Selalulah kau dekatku. Tiada usah aku takutkan kau tiada datang.
Bolehlah aku memeliharamu....” Basoeki menutup mulut Roekmini, sambil
memeluknya, pelukan cinta mengerti, memateri perjanjian kasih sayang.
Dengan
giatnya Basoeki mencari pekerjaan, dijalankan motor kasih sayangnya. Lama
kelamaan hilang harapan mendapat pekerjaan. Bagai terjun rasa hatinya, terluang
oleh hilang harapan akan terpenuhi harapan cinta. Seperti makin jauh pantai
pelabuhan yang baru kita tinggalkan, tempat kawan dan kenalan
melambai-lambaikan tangan. Selama ini berkandungan hatinya, sekonyong-konyong
kempis, kosong, tinggal rasa sunyi, seperti kebun jati pada musim kemarau.
Berjam-jam dia duduk di Wilhelminapark, seperti dahan yang patah, terkulai dan
batangnya. Merenung berjam-jam lamanya. Patah hatinya, patah pula insaf
hatinya, insaf badannya. Barang dada berharga....
Masih
dikunjunginya Roekmini, masih dicobanya bersenyum, tetapi senyum menjadi senyum
sedih. Roekmini tiada lagi bertanya tentang usahanya mencari pekerjaan.
Riangnya seperti biasa, melebihi dari yang biasa pada pemandangan Basoeki.
Hening Basoeki melihat-lihat jari-jari Roekmini bergerak, meletakkan cangkir di
hadapannya, menyendokkan gula dalam cangkirnya, lalu menuangkan teh dan
mengincau-ngincau tehnya. Kadang-kadang dipegangnya tangan Roekmini,
didiamkannya mengincau, lalu dihantarkannya melemah pada tangannya,
dipandangnya dengan senyum sedih, lalu diciumnya lambat-lambat, bagai
mengheningkan, meresapkan jadi serap di waktu kemudian, seperti kafilah menyediakan
air serap Sebelum berangkat dari oase, melalui lagi padang pasir.
Beberapa
hari ini Basoeki tiada datang lagi berkunjung. Bila tiba waktunya biasanya dia
pergi ke rumah Roekmini, dia pun pergi berjalan-jalan, tiada tujuan, ke mana
langkah membawanya. Malam pertama dia melalui jalan sepi Laan Raden Saleh, tiba
di muka Dierentuin. Dia sejurus, memandang cahaya lampu, dan affiches film yang
akan dipertunjukkan. Dulu dia beberapa kali masuk menonton film seperti orang
biasa. Sekarang tentu tiada akan pernah lagi, cuma bisa melihat gambar-gambar
di luar, dan tepi jalan, dan tempat gelap.
Tanda
peningatan van Heutz gelap. Di tepi jalan, dalam gelap bayangan tanda
peningatan pahlawan Belanda itu tegak dua orang, seorang laki-laki dengan
seorang perempuan, bercumbu-cumbuan. Baru bertemu barangkali. Bersama-sama
mereka menuju Gondangdia. Basuki berjalan di belakang mereka sampai lepas
sepur. Keduanya ke kiri, berjalan di tepi sepur, tempat yang gelap, keduanya
berpegang-pegangan tangan..
Basoeki
terus berjalan lambat-lambat, sampai di Gambir. Orang belum selesai merombak
Pasar Gambir. Sebulan yang lalu tempat keramaian, tempat yang beberapa kali
dikunjungi Basoeki serta Roekmini, sekarang tempat gelap. Basoeki hendak duduk
pada tempat duduk daripada batu dekat fontein, yang sekarang tiada memancarkan
air lagi. Di dekat fontein, tempat Roekmini dan dia Senang berhenti sebentar
melepaskan lelah, melihat air berwarna-warna, merasakan hawa sejuk, yang
menuangkan orang akan harapan yang terasa-rasa dalam hatinya. Basoeki hendak duduk, hendak mengingatkan waktu yang
baru sebulan berselang itu, tetapi semua tempat sudah ada orangnya, berdua-dua,
perempuan dan lelaki berdekat-dekatan. Orang selalu
berdua-dua.
Basoeki
berjalan terus, sampai Harmoni. Dia melalui jalan di muka gedung
Rechtshogeschool....
Di
beranda societeit Harmonie orang Belanda duduk-duduk, bercakap-cakap,
melalaikan waktu, tetapi bukan karena tiada pekerjaan. Hotel des Galeries penuh cahaya lampu.
Hotel
des Indes. . .musik, tamu penuh, makan minum, bercakap-cakap, dengan dada
sengaja mendengarkan lagu. Semuanya melalaikan
waktu, bukan karena tiada pekerjaan. Mereka melalaikan waktu, tetapi memberikan
pekerjaan kepada pemain musik dan kepada
semua jongos yang melayani, dan kepada aandeelhoudet.
Di
Molenvliet, dekat tiada jauh dan gedung Landraad, di tempat yang gelap, orang
berpakaian jurk, tetapi suara, suara orang lelaki. Sifat binatang dalam
manusia, entah atavisme, ketinggalan dan dahulu. Dahulu ada dibaca Basoeki
verslag pemeriksaan seorang laki-laki yang menjualkan dirinya. Di muka
landrechter diterangkannya, bahwa dia menganggur, sudah lama menganggur, tiada
juga dapat pekerjaan. Hendak dia melepaskan pekerjaannya yang hina itu, bila diberikan dia pekerjaan biasa. Airmatanya
bercucuran. Dia dikenakan juga denda, sebab melanggar kesusilaan di tengah
jalan.
Paksaan
perut pada mengingat kesusilaan. Berinis mereka tegak menanti langganan. Ada
datang mobil, mobil indah, kepunyaan orang kaya-kaya tentu. Berhenti dia
sebentar. Leretan manusia tadi bergaya, ada juga yang mendekati mobil itu. Tuan
yang menjalankan mobilnya sendiri itu, bercakap-cakap sebentar dengan seorang
pilihan matanya, lalu berjalanlah mobil itu, membawa barang dagang pilihan itu
entah ke mana.
Seorang
daripadanya berseru kepada Basoeki: “Liefje kom bier..“ Basoeki senyum,
terus berjalan, memikirkan manusia ini, tempat yang indah dan yang buruk yang maha dan yang hina.
Basoeki tibalah di rumah lepas
berjalan tiada berketentuan itu, pada ketika dia biasanya kembali daripada
berkunjung ke rumah Roekmini. Sekali dicobanya hendak tinggal di rumah, tetapi
pikirannya gelisah dan hatinya perih, bila sampailah waktunya dia biasanya pergi
bertemu dengan kekasihnya, maka teraruslah juga dia keluar, berjalan—jalan,
tiada bertujuan, pikirannya berat pada Roekmini. Hatinya hendak menarik garis
ke masa yang datang, tetapi lelah rasanya, pikirannya tegang berdiri pada
permulaan garis, seperti tangan lelah menekan pensil, tiada tahu garis mana
yang akan digoreskan.
Semuanya
pada dirinya meringan seolah-olah semua tenaga berpedat dalam pikirannya,
seperti dalam pesta amal, orang pedat membantukan tenaga, tetapi pekerjaan
tiada teratur, bersalahan dan tertahan-tahan, semuanya gelisah, bergesa-gesa,
suruh-menyuruh, tetapi tiada tekerjakan jua.
Mariati
mengamat-amati kakaknya dengan diam-diam. Jauh pikiran Roekmini, tiada pada
makanan. Bukan kebiasaan Roekmini berjauhan pikiran dan yang sedang dikerjakan.
Beberapa hari ini banyak kali dia termenung; di tengah mengoreksi pekerjaan murid,
dia hening berpikirkan hal yang menyusahkan pikirannya. Mariati tahu akan kasih
kakaknya kepada Basoeki. Mengapa pula Basoeki tiada datang dalam beberapa hari ini.
Itulah
pula yang dipikirkan Roekmini. Perangai Basoeki pada belakangan ini
mengkhawatirkannya. Caranya memain-mainkan rambutnya, ciumannya, sejuk, bagai
angin melintas rambut, pandangannya sambil dia melentik-lentikkan jari-jari
Roekmini, seperti kali itu saja lagi dia berbuat begitu. Dia tiada banyak lagi
berkata-kata, dia kebanyakan hening saja. Roekmini yang bercakap.
Malam
penghabisan dia datang, ciumannya pada dahi Roekmini , dan salamnya, tenang,
tetapi rasakan gelisah yang tertahan, putusan yang dipaksakan hati. Roekmini
kejut hatinya, dipegangnya lama tangan Basoeki, pada pintu pekarangan, melembut
suara Roekmini: “Besok kau datang, Ki?”
“Ya,
besok,” tersenyum Basoeki. Tiada mengerti Roekmini akan senyumnya itu.
“Ada
apa, Ki?”
“Tidak
apa-apa.”
Roekmini
mengangkatkan tangannya, yang memegang tangan Basoeki itu, lalu diciumkannya
kepada Basoeki. Didekatkannya lalu mukanya dekat muka kekasihnya itu, bibirnya
merekah, seluruh badannya melemah, menyerah. Basoeki memandangnya sejurus, lalu...dipeluknya
erat badan Roekmini, diciumnya lama bibirnya. Diapus-apusnya rambut Roekmini,
sekonyong-konyong diciumnya lehernya. Sekonyong-konyong dilepaskannya badan
kekasihnya itu, hendak berpalingkan diri, pergi. Roekmini masih dapat memegang
tangannya: “Sampai besok, Ki...,” tetapi Basoeki melepaskan tangannya. Masih
nampak kepada Roekmini, Basoeki membelok, lalu dia pun lari ke dalam
meniarapkan diri pada tempat tidurnya, rasa bahagia, bercampurkan kejut dalam
dirinya.
Sudah
beberapa hari dia tiada datang. Mengapakah dia tiada datang? Tiada pernah
gelisah hati Roekmini. Senantiasa tenang, teguh, biasa pikiran tertujukan
kepada pelajarannya semasa sekolah, dan kepada pekerjaannya, sesudah menjadi
guru. Cintanya kepada Basoeki, membukakan hutan tiada berhingga rasanya, yang
akan ditanami tanaman yang tiada terbatas hasilnya. Bahagia yang tiada pernah
dikenalnya, yang memenuhi seluruh dirinya, seolah-olah selama ini berkumpul,
tersediakan tanah gemuk yang dengan lekas manbantukan tumbuh bibit yang
tersebarkan di tanah sukmanya. Cintanya kepada Basoeki merancah tanah sukmanya
akan memudahkan subur bibit. Sekarang gelisah perhatian akan mengasuh tunas.
Ada
nampak Roekmini bahwa amat merusuhkan hati Basoeki, dia tiada juga mendapat
pekerjaan. Roekmini meriang-riangkan Basoeki, Roekmini lebih riang daripada
yang biasa akan menghalau suram hati kekasihnya itu, seperti angin mencoba
memecah, menghalau awan hitam
berkumpul. Roekmini berbuat seolah-olah itu perkara kecil, meskipun dia tahu,
bahwa kepada seorang laki-laki pekerjaan, berkewajiban, itulah tujuan hidupnya.
Roekmini merasakan beratnya itu kepada Basoeki, yang diketahuinya senang asyik.
Lagi
pula, — takut-takut Roekmini memikirkan habis-habis —, boleh jadi Basoeki
merasa lebih berat memikirkan berhubung dengan cintanya di masa yang akan
datang. Roekmini tiada berani memandang masa yang akan datang lagi, setelah
melihat jatuhnya harapan Basoeki. Tiada berani dia lagi berangan-angankan masa
yang akan datang, seperti pada permulaan kasihnya.
Roekmini
pada masa kecilnya sudah kenyataan berwatak suka mengurus sendiri. Makin besar
dia, makin kenyataan wataknya itu, makin berani dia menanggung sendiri segala
akibat kelakuan dan perbuatannya. Dia berani memandang soal sampai akhirnya,
yang kemudian dilakukannya, meskipun kebiasaan di sekelilingnya memandanginya
salah. Waktu dia mendapat tempat di Betawi, dia tiada hendak menumpang di rumah
salah satu keluarga, dia hendak berumah tangga sendiri, tiada bergantung kepada
orang lain, dia hendak mengurus hidupnya sendiri.
Sekarang
tenaga dan berani pikirannya melemah, bimbang, lekas lelah, bila hendak
memandang masa yang akan datang. Kemauannya sudah terbawakan serta dengan
kasihnya kepada Basoeki. Dia sudah bersandarkan diri kepada Basoeki.
Pada
ketika terpandangnya dengan terang, bahwa dia bersandarkan diri sudah, pada
mulanya rasanya melawan, tiada hendak melepaskan kemauan mengurus dan berdiri
sendiri, seperti selama itu. Dia tiada mau mengalahkan diri, mematahkan
kemauannya. Tetapi kasihnya mengaruskan kemauannya, makin lama makin terasa bahagianya
bersandarkan diri kepada lelaki yang dikasihinya, mengetahui ada senantiasa
orang yang menopang, membimbing. Kasihnya makin mendalam, bersinar pada pemandangnya
dengan cahaya yang melembut. Menyerahkan diri pada pelukan kekasihnya,
melupakan diri, tiada memikirkan sesuatu, hanya beraruskan diri kepada rasa
bahagia, apalah lagi yang dikehendakinya.
Ketinggalan
rasa perlawanan, rasa mempertahankan kemauannya yang lama, hilang sama sekali,
pada malam penghabisan Basoeki datang, akan tiada datang lagi beberapa hari
sudah. Sesudah dia berserahkan diri sama sekali, setelah hilang segala bimbang
dalam hatinya, Basoeki tiada datang lagi.
Roekmini
berhenti makan, lalu meneguk minum.
“Kau
sedikit makan, yu,” terdengannya suara adiknya bermasygul
“
Aku lelah, Ti, tiada nafsu.”
Tetapi
nanti tentu ia bersua dengan Basoeki, nanti sore dia diundang Trini datang ke
rumahnya, Haereni akan datang juga, perempuan yang tiada bertujuan hidup, yang
terapung-apung itu, berpikir Roekmini sebentar.
Haereni
sudah bersedia akan pengi, masih melengah sebentar, menantikan suaminya
terlowong sejurus. Petang ini luar biasa jumlah pasiennya. Haereni duduk
bersandar, memepat kukunya dengan kikir kecil, melalaikan pikiran. Sebentar-sebentar
dikikirnya, lalu dipandangnya, setengah asyik, lalu dikikirnya pula.
Pintu
kamar memereksa dengan keras terbuka, Pardi cepat keluar, lalu memanggil
jongos. Muka Haereni lemah menengadah arah Pardi:
“Di,
aku pengi....”
Dengan
cepat Pardi menjawab sambil menutupkan pintu:
“Ya,
nanti aku menjemputmu.”
Haereni
mengeluh, praktik, praktik. Tiada seketika juga melayang pandangannya kepada
dirinya, kepada hiasannya. Dia berdiri, garis badannya ternyatakan benar oleh
guntingan kebaya dan penjatuh kainnya. Haereni mencengkau tasnya yang terletak
pada meja, lalu bergegas-gegas keluar, alat pemepat kukunya bertebaran di atas
meja.
Trini
dan Marsidi duduk-duduk di pekarangan rumahnya. Trini asyik merenda sedang
Marsidi membaca korannya, sebentar-sebentar dibacanya keras-keras, bila ada
berita penting. Pada meja beratur teko, beberapa staples dan cangkir. Sebuah
taksi berhenti di muka rumahnya. Keduanya memandang, keluar suara dan taksi
berseru:
“Halo!”
Trini tegak, dengan riangnya menyambut Haereni ke pintu pekarangan.
“Ni,
Ni,” mata Trini memandang Haereni dan atas ke bawah, lalu dipegangnya kedua
belah tangan kawannya itu, sinar matanya memuji. Haereni merasa dipuji, senang
rasanya. Trini tiada pernah menyembunyikan pujiannya, dia terus terang, bening,
seperti mata air. Apa yang dikatakannya benar dipikirannya dan dirasanya.
“Ada
dilihat Pardi kau tadi?”
Muka
Haereni muram. “Ah, mana pula, pikirannya cuma pada praktiknya,” katanya dengan
pendek. Trini hening. Keduanya duduk.
“Praktiknya
maju betul kudengar,” kata Marsidi. “Dia amat populernya di kampung-kampung,
orang memuji aktifnya. Tentu banyak dokter muda yang iri hati melihat majunya praktiknya....”
Istrinya
memandang kepadanya, sambil tangannya mengisi cangkir Haereni, tetapi Marsidi
tiada mengerti pandangan istrinya yang mengingatkan itu, terus juga memuji
praktik dokter Soepardi.
“Kalau
aku klaar nanti, entah cuma menganggur saja, belum tentu mendapat praktik,
setengah dari praktik Pardi yang sekarang.”
“Lebih
senang begitu. Harap saja kau tiada mendapat praktik! Tri tiada usah makan
hati.” Pedis benar dikeluarkan Haereni katanya itu, seperti ada melepas yang
tertahan-tahan.
“Pasiennya,
selalu pasiennya pikirannya. Aku tiada perlu dirasanya diperhatikan. Aku cuma
barang hiasan saja, yang tidak perlu diperhatikan lagi. Uh, praktik, praktik.
Apa perlunya diaku itu. Aku Iebih senang lebih sedikit pasiennya, lebih banyak
waktunya buat rumah tangga. Cobalah lihat aku datang ke sini sendirian, dia
tiada waktu. Nanti pulang aku sendirian pula. Dia tiada akan ada waktu, pergi
melihat pasiennya.”
“Tidak
adil timbanganmu,….?”
“Tidak
adil? Bukan aku berhak juga padanya? Mana hakku? Cuma pasiennya yang berhak!”
Marsidi
diam, karena istrinya memberi isyarat padanya. Dia mengerti, bahwa Haereni
sedang panas, tiada akan tertenangkan dengan membantah-bantah.
Ketiganya
hening sebentar, Haereni masih jengkel air mukanya. Suara Trini yang lebih dulu
kedengaran, rnencoba mengalihkan pikiran.
“Mana
Mini, belum datang juga.”
Haereni
mulai berubah air mukanya
mendengar nama itu. “Ya, mengapa belum datang juga dia.... Di mana Basoeki?”
“Berjalan-jalan
tadi.... Nah, itu dia yang lama-lama dinanti itu!”
Riang
Trini dan Haereni menyambut Roekmini. Diterangi lampu senja mereka berempat
duduk. Roekmini gelisah hatinya tiada melihat Basoeki. Matanya mengawas-awasi
pintu ke dalam, mengharap-harap Basoeki keluar. Mulutnya tertahan tiada hendak
bertanya. Diribut-ributkannya suaranya, seolah-olah hendak meliputi suara
gelisah di dalamnya.
Haereni
senantiasa merasa senang di dekat Roekmini, seperti hatinya terpenuhi oleh
Roekmini. Roekmini teguh, penuh, setimbang rasanya kelihatan, banyak yang boleh
ditaburkan oleh batinnya. Dan dahulu Haereni merasa-rasa sesifat dengan
Roekmini, tetapi ada pula lainnya, yang meninggikan, memenuhkan Roekmini, yang
tiada pada Haereni.
Dalam hatinya, Haereni amat menginginkan menjadi seperti Roekmini. Roekmini selalu pada
tempatnya di mana jua, dia tidak pernah asing di tempat, di pergaulan mana juga
pun. Seperti dia tiada bersusahkan apa-apa, semuanya dalam kekang tangannya.
Haereni
mengamat-amati muka Roekmini. Ada tampaknya rasa yang belum pernah dilihatnya
pada muka Roekmini. Ada rasa tenang, lembut pada air mukanya, yang lebih
menarik hati memandangnya. Mukanya tiada cantik, sederhana, tetapi memaksa mata
memandanginya, entah karena apa. Roekmini akan jadi penolong benar nanti kepada
suaminya. Basoeki.... Diheningkannya sifat Basoeki. Keduanya tampan juga. Kawin
beruntung.
Basoeki
berjalan-jalan tiada berketentuan. Dia tahu bahwa Roekmini akan berkunjung ke
rumahnya, karena itulah dia pergi berjalan-jalan. Jangan bersua. Mendengar
suaranya, melihat mukanya, akan melemahkan hatinya, akan membiarkan dirinya
lagi diaruskan kasihnya kepada Roekmini. Kasihnya ini harus diputuskan…. Dengan
terang nyata padanya yang terasa-rasa selama ini tetapi yang tiada berani
pikirannya menyelesaikannya, mengajinya dengan tenang. Kejut pikirannya menguasainya
lalu memberat pada pikirannya, bagai meliput menggelap. Kasih ini harus
diputuskan. Masa yang akan datang gelap, tiada patut dia membawa Roekmini ke
penghidupan yang belum tentu. Sekarang Roekmini berbahagia, biarlah begitu.
Biarlah dia yang berlalukan diri.
Timbul
rasa bahagia dalam dirinya, lega rasanya, hilang sudah yang selama ini menekan
hatinya, memberat pikirannya. Kemudian tentu akan datang orang lain yang dapat
memberikan Roekmini penghidupan yang pantas. Roekmini akan lupa akan dia. Bibirnya
menarik senyum sedih.
Dia
sebenarnya haruslah melepaskan Roekmini, setelah datang berita dari bapaknya dia tiada dapat membelanjai
lagi. Pada waktu itu seharusnya dia melepaskan Roekmini. Tetapi cintanya
menggelapkan pikirannya, dia tiada berpikir akan melepaskan, hatinya ingin
menahan, mempunyai. Cinta pada wujudnya egoistis.... Cinta sejati ialah cinta
yang membenikan, mengorbankan, yang hanya mengingat kesenangan yang dikasihi.
Basoeki
menengadah, memandang langit bertaburan bintang. Berapa abad kau sudah
memandang sedih orang, sedih bangsa, sedih alam seluruhnya. Sedihku ini sudah
berapa kali sudah kau lihat. Sekarang jua di bumi ini, malahan di kota ini,
siapa tahu tiada jauh daripadaku ini, ada orang yang menderita seperti aku ini.
Sedih yang kurasa ini apakah artinya itu dalam masa, dalam luasan dunia. Aku
lahir sudah dalam sedih. Pada masa aku bayi, sudah kurasa sedih lapar; kemudian
berupa-rupa sedih yang kuderita, yang diderita setiap manusia. Sekarang sedih
baru, sedih lebih dalam daripada yang lalu semuanya. Main-main napas bayi,
percobaan untuk bercakap-cakap di kemudian. Anak-anak bermain-main, jadi
latihan untuk masa dewasa. Sedih lapar pada masa bayi, dan sedih karena perhatian
ibu bapak terlalu kepada adik yang baru lahir, semuanya sedih itu, adakah
latihan sedih, buat masa sudah dewasa? Sedih seperti ini? Bila sudah tua, lalu
melihat anak dan cucu, istri barangkali, lebih dahulu meninggal, bukankah ini
juga sedih? Adakah ini lebih dalam, lebih perih lagi? Untuk apakah manusia
melatih diri, untuk masa manakah? Melatih diri tiada putus-putusnya. Sampai
kuburan? Siapa mengatakan hidup cuma sampai kuburan? Semuanya di dunia ini
lahir dan hidup, akan musnah jua, dada yang kekal. Riang dan sedih lahir, akan
hilang juga. Kasih,...akan mungkinkah penuh kasihnya kepada Roekmini? Kasihnya
yang sedalam ini? Kasih yang berjawaban, yang mengetahui akan sempurna hidup
bila hidup bersama-sama, tahu, bahwa kedua merekalah paduan sejati, seperti dua
be lahan tempaan yang dahulu satu? Kasihnya tiada akan hilang..., tiada akan
ada kemudian yang akan memadai kasihnya ini. Akan banyak lagi perempuan
melintas jalannva, tetapi tiada akan ada yang menimbulkan kasih seperti
kasihnya kepada Roekmini. Tetapi sekarang lebih baiklah melepaskan Roekmini, tiada
gunanya membawanya ke masa yang gelap.
Air
mukanya yang pada yang kemudian itu tegang sedih, melembut bahagia. Teguh sudah
putusannya. Basoeki, dengan tiada insaf sudah menuju arah pulang. Pulang, di
sana Roekmini, pada malam ini juga haruslah diketahuinya. Basoeki mencepatkan
langkahnya.
Dr.
Soepardi sudah menambah jumlah empat orang yang duduk disinari lampu, di
pekarangan rumah Marsidi dan Trini. Ia mencepatkan kunjungannya pada pasiennya,
supaya lebih cepat beristirahat di dekat istrinya dan Trini. Trini yang pandai
itu membuat orang kerasan, senang, didekatnya. Pengasuh, peramah. Tenang udara
di sekelilingnya. Istrinya, alangkah cantik tadi. Dia pandai benar memakai...,
senang hati Soepardi memikirkan kepada istrinya. Bulan yang akan datang vakansi
dahulu, bersama dia ke Sindanglaya. Haereni senang pemandangan, alam di
sekelilingnya. Dia terlalu banyak membaca waktu penghabisan ini. Terlalu banyak
diam di rumah. Baik juga dia banyak bergaul dengan Trini. Dr. Soepardi
mencepatkan pekerjaannya, ingin melihat istrinya.
“Senangnya
duduk begini, lepas hari banyak kerja,” kata Soepardi, sambil memanjangkan
kakinya, lalu mengembuskan asap sigaretnya.
“Dan
dekat istri yang dicintai,” olok-olok Marsidi.
“Ya,”
jawab Soepardi, “dekat istri yang dicintai.” Matanya memandang istrinya.
Basoeki
datang. Sejurus pandang, Roekmini melihat kurus kekasihnya. Basoeki melintas di
belakang kursinya. Roekmini mengulur kan tangannya ke belakang: “Ki,….“ Basoeki
berhenti, bimbang,...lalu dipegangnya tangan yang mengulur itu. “Ke mana kau tadi,
Ki? Mari duduk di dekatku.”
Sedang
semuanya ramai bercakap-cakap, Haereni memandang kedua kekasih itu. Amat
selenggana pandangan Roekmini kepada kekasihnya. Roekmini melayaninya,
menuangkan tehnya, lalu mengunjukkan cangkirnya. Bersahaja caranya melayani,
tetapi terasa kasihnya yang memenuhi dininya. Kasih yang bersahaja, tetapi
terasa dalam, berkuasa.
Haereni
memandang Marsidi dan Trini. ..kasih tenang, udara keluarga.
Basoeki
membawa Roekmini pulang Dia tiada hendak berjalan seperti biasa, hendak lekas
sampai, biar lekas pola terkeluarkannya putusan hatinya. Mariati menyambut
mereka dengan girangnya.
“Mas,
mengapa lama tidak datang? Tolong, mas, sudah dua jam aku mencari hitungan ini
tiada dapat juga.” Sebentar kemudian Basoeki sudah asyik mencari jalan hitungan
yang sukar itu. Mariati sudah memandangnya abangnya. Juga Mariati akan
terlepaslah dan pandangannya.... Roekmini duduk memandang keduanya asyik
mencari. Kemudian Mariati masuk kamarnya, meninggalkan kedua kekasih itu di
ruang tengah.
“Ada
clysma kubeli, buat isapanmu kalau kau datang ke sini.” Roekmini tegak, masuk
ke dalam. Penghabisan kali duduk di sini, tiada lagi melihat aturan ruang
tengah ini, semuanya teratur menandakan rasa yang pandai memilih. Roekmini membukakan
kotak sigaret, lalu diunjukkannya. Basoeki mengambilnya....tiadakan dia yang
akan menghabiskan sigaret ini. Roekmini menyalakan aansteker, lalu
dinyalakannya sigaret yang di mulut Basoeki. “Kau lihat rumah ini sudah
rumahmu, cuma orangnya belum di sini.”
Sukar
dirasa Basoeki mengeluarkan katanya. Nanti sebentar, jangan sekarang.
“Mau
minum lagi, Ki?”
Basoeki
menggeleng kepalanya.
“Nanti
sebentar, Ki, aku tukar pakaian dulu.”
Tiada
lama kemudian, Roekmini keluar dan kamarnya, ramping, berisi, sehat, berpakaian
piyama; di sebelah kiri dan kanan rambutnya berjalin dijadikan konde. Basoeki
hening memandangnya. Roekmini tegak di muka Basoeki. “Bagaimana, Ki, tiadakah
pantas kau lihat bakal istrimu?”
Hampir
tiada tertahan Basoeki inginnya memeluk badan yang ramping molek itu. dia punya
kalau dia mau Basoeki tegak, lalu memandang dan jendela, membelakangkan
Roekmini. Bintang yang tadi masih bertaburan, langit bening.
Dirasanya
Roekmini mendekatinya, tegak di belakangnya. “Malam indah, coba lihat bintang
kejora yang amat terang cahayanya itu.”
Basoeki
berpaling, lalu duduk. “Mari duduk Mini, ada yang kubilang.”
Roekmini
berpaling lekas, mendengar suram suara Basoeki. Dihampirinya Basoeki, lalu duduk
di permadani, di muka kekasihnya itu, muka menengadah, tangannya pada lutut
Basoeki.
“Mengapa
suram, Ki?”
“Duduk
di sana, Mini.” Roekmini duduk di kursi.
“Mini
coba dengarkan dengan tenang, sampai habis kataku. Apa yang kukatakan ini sudah
kupikirkan dalam-dalam. Permulaannya akan menyedihkanmu, tetapi bila kau pikir tenang,
itulah yang sebaiknya buat kita berdua. Mini, sudah tiada harapanku lagi akan
mendapat pekerjaan. Nasibku tiada tentu, gelap. Mini, aku tiada hendak
membawamu turut dalam yang gelap. Mini, tiada baik aku menambatmu pada diriku.
Kau lebih patut mendapat penghidupan yang baik. Kemudian tentu ada orang lain
yang mencintaimu, yang dapat memberikanmu penghidupan yang pantas.”
Basoeki
berhenti sejurus, mukanya melihat ke atas.
“Mini,
biarlah kita menarik janji kita.”
Roekmini
diam, terus melihat bibir Basoeki. inilah rupanya yang dalam beberapa hari ini
serasa-rasa ada ditakutkannya. Bercerai dengan kekasihnya, hilangkan rasa
bahagia yang ada selama ini dalam hatinya. Takut akan hilang,. .itulah rupanya
yang menggoda pikinannya, tetapi yang tiada berani dia memikirkannya. Serasa
ada pisau membelah hatinya. Hening ditahannya, air mukanya sedih menahan.
Bebenapa
menit keduanya hening. Makin terasa kepada Roekmini masa yang akan datang, bila
kekasihnya akan jauh daripadanya. Dia sudah bensandarkan diri, sandarannya
ditarik orang Cita-citanya hidup bersama-sama Basoeki, serumah, sehidup, seanak,
lenyap. Hening dirasakannya sedih itu. Makin terasa padanya apa yang akan
hilang, makin keras hatinya hendak menarik, menahan. Makin lama makin teguh
hatinya akan melawan, mempertahankan bahagianya.
Terterang-terang
pula padanya, jawabannya pada putusan kekasihnya itu. Selama ini tersimpan
dalam hatinya jawaban yang akan diberikannya itu, terasa-rasa, tetapi tiada
terpikirkan nyata.
Suaranya
tetap, ketika dia berkata: “Ki, kasih kita sudah mendalam, sudah berurat
berakar. Sudah kau kenal aku. Aku tidak akan menyerah dengan begitu saja.
Putusanmu
itu berpenyakit. Mengapakah cinta kita tiada boleh terus, meskipun kau belum
ada penghidupan? Tiada kukatakan kita kawin besok. Kita boleh menanti sampai
ada penghidupanmu. Kasih bukan sama dengan kawin. Berapa banyak orang yang
kawin dengan tiada cinta.”
“Kau
lupa, Mini, boleh jadi aku terus menganggur atau cuma mendapat pekerjaan yang
kecil.”
“Ki,
aku masih bergaji, cukup untuk dua orang. Apakah salahnya kita kawin.” Basoeki
memandangnya dengan herannya.
“Aku
lelaki, Mini, yang berharus mencari penghidupan untuk anak lstrinya. Bila
kuperbuat seperti kehendakmu itu, di kemudian hari akan kau pandang aku rendah,
tiada bertenaga, akan hilanglah cintamu, akan rusaklah perkawinan kita.”
“Moral....”
“Moral
itu berubah-ubah.”
“Benar,
tetapi moral yang kau kehendaki itu bukan masanya sekarang. Barangkali beratus
tahun lagi, barangkali juga tiada akan pernah.”
“Apakah
salahnya buat sementara sampai kau mendapat pekerjaan?”
“Mini,
malu besar kepada lelaki sejati hidup dan perempuannya.” Basoeki tegak berjalan
hilir mudik.
“Kau
tiada cinta aku, kau cinta hartamu....”
“Aku
cinta....”
“Ki,
ingat kau perjanjian kita pada pertama kalinya kita bersama-sama
berjalan-jalan? Siapa yang mengajak, dia yang membayar, sebab yang diajak
mengawani cuma, jadi bukan untuk kesenangannya semata-mata. Bila sama-sama
setuju, sama-sama membayar. Ingat, Ki? Aku yang mengajakmu kawin, akulah yang
membayarnya.”
“Kau
lupa, Mini, bahwa penghulu yang mengawinkan kita. Di mata orang, akulah yang
wajib mencari penghidupan. Datang ke penghulu artinya mengaku pandangan biasa
itu.” Basoeki diam Sejurus, lalu segan-segan: “Bila yang perempuan yang hendak
membelanjai, cuma satu jalan, ialah jangan kawin di muka penghulu, jadi
tiadalah usah yang lelaki menanggung. Kawin yang begitu belum masanya di
kalangan kita. Kau lihat, Mini, tiada jalan kepada kita, lain dan yang
kukatakan tadi.”
Sekonyong-konyong
Roekmini berdiri, lalu menjatuhkan dirinya pada pangkuan Basoeki, dipeluknya
lehernya, matanya mulai bercucuran airmata.
“Ki,
tidak akan kulepaskan kau lagi. Kaulah cintaku yang pertama. Tidak akan
kulepaskan kau.”
Diciumnya
berkali-kali bibir Basoeki, direkatkannya dirinya pada kekasihnya itu.
“Kau
hendak menyuruh menanti, suruhlah, tetapi janganlah kau hendak memutuskan cinta
kita. Aku akan menanti, menanti sarnpai kau ada penghidupan, cukup untuk kita
berdua.”
“Mini,
kalau sudah tenang pikiranmu, tentu kau setuju dengan yang kukatakan itu.”
Roekmini
berdiri, tetap hati pada air mukanya.
“Ki,
kau tidak berani hidup, itulah sebabnya kau berkata begitu. Kau takut
menanggung akibat cintamu, sampai segala akibat. Cinta sejati tidak menyerah,
tidak tahu mundur, tidak mau menyamping. Cinta
sejati mempertahankan dirinya, menghidupkan dirinya, lamun semua
rintangan.”
“Mini,
aku cinta, sepenuh-penuh cinta. Karena aku cintalah, aku hendak melepaskanmu.
Bukankah itu tanda kekuatan, melepaskan cinta yang berbalas?”
“Itu
bukan cinta sehat, itu cinta yang berpenyakit. Cinta sejati harus dapat
menghidupkan, dia tiada bersunyikan diri, seperti seorang yang bertapa.”
Basoeki
berjalan pulang, memikir-mikirkan percakapannya dengan Roekmini. Lama mereka
bertukar pikiran. Roekmini ada pikirannya sendiri. Pada penghabisannya Basoeki
tiada juga menarik putusannya, Roekmini tiada pula hendak melepaskannya, dia
mempertahankan cintanya. Sampai di pintu pekarangan, Roekmini memeluk lehernya,
menengadahkan mukanya, minta dijanjikannya dia datang besok sorenya. Mulut
Basoeki menjanjikannya, meskipun hatinya sudah menetapkan, dia tiada akan
datang lagi, tiada akan bersua lagi dengan Roekmini. Roekmini menerka maksudnya
rupanya.
“Bila
kau tidak datang, aku yang mendatangimu. Ingat, Ki, aku mempertahankan cintaku. Ki,….”
Roekmini
rnerekahkan bibirnya, badannya mclernah, menyerah, Basoeki bimbang, terharu.
Ingin hatinya memeluk badan itu, mencium seluruh muka yang menengadah itu,
mengampu badan yang rnelernah bersandar pada dadanya.
“Ki,….”
Basoeki
tiada tertahannya lagi. Dipeluknya, diciumnya dengan nafsunya. Badan Roekmini
melemah dalam pelukannya, menyerah seluruh badan dan sukmanya. Mukanya bersinar
bahagia. Basoeki tiba-tiba insaf kembali; dilepaskannya pelukannya, hendak
melangkah pergi. Roekmini menarik melepaskan tangannya, lalu cepat rnelangkah.
Masih kedengaran suara Roekmini: “Sampai besok.”
Basoeki
baru pada dini hari sampai di rumah. Pada pagi hari keluar rumah lagi. Dia
merasa dikejar dalam hatinya. Roekmini tiada hendak berlepas. Ah, bila begitu
juga pemandangannya biarlah..., tetapi harapannya terus, sedang Basoeki tiada
dapat menanggung harapan itu. Benar juga katanya, bahwa pada penghabisannya,
egoisme juga yang menyuruh Basoeki hendak melepaskan. Tiada berani menanggung
akibat. Mana yang benar, berlepas atau tidak? Perangai Roekmini malamnya,
rnelemahkan hatinya. Dia sudah memberi sandaran, sekarang diambilnya
sekonyong-konyong. Tanaman sudah bertumbuh, dibantunnya tiba-tiba....
Berjam-jam
Basoeki tiada tentu tujuan, tiba-tiba insaf dia bahwa dia masuk jalan tempat
tinggal dr. Soepardi. Di sana berhenti. Sekonyong-konyong terasa padanya
inginnya mencurahkan hatinya. Dia sendiri tiada dapat mengalirkan derasan air
keterusan baru. Hatinya banjir. Tadi malam ada pandangannya tertarik oleh
Haereni. Dia kawan Roekmini juga.
Haereni
sedang mengapus-apuskan cutex pada kukunya, duduk-duduknya semalas-malasnya. Sebentar-sebentar
dijauhkannya jari-jarinya akan memandang cukupkah sudah warna merah muda yang
diapuskannya itu. Pikirannya hendak melayang-layang seleluasanya, tetapi
tertambat-tambat oleh main-main asyik mengindahkan kuku itu, seperti pintu air
disangka tertutup, sedikit terbuka, air mengalir juga.
Haereni
dengan senang menyambut Basoeki, ada dapat pelalai waktu.
“Aku
belum mandi, Ki. Malas. Biar saja begini.”
“Pardi
keluar?”
Haereni
bersandarkan diri. “Ya. Beginilah jadi istri dokter.”
Tiada
mendalam anti perkataan itu kepada Basoeki, pikirannya bertimbun oleh susahnya
sendiri.
“Jadi
Ki, kapan pikiranmu kawin?”
“Kawin
Ni?” Maka tiba-tiba tercurahkanlah segala isi hatinya, segala yang
dipikir-pikirkannya selama ini. Haereni mendengarkannya, menentangnya. Basoeki
bersandarkan diri, menutup mata sambil menyedihkan perjuangan hatinya. Haereni
duduk pada sandaran kursi Basoeki, ditekannya kepala Basoeki pada dadanya.
Mendengar sedih Basoeki itu makin terasa kepadanya sedihnya sendiri. Di sana
sini seperti dia sendiri yang berkata. Ingin kepala kasih yang tiada diberikan,
yang tiada sampai, yang tiada terpenuhi. Diapus-apusnya kepala Basoeki, seperti
mengapus-apus dirinya sendiri. Ingin yang tiada berketentuan membentang dalam
dirinya, melemahkan dirinya.
Basoeki
sudah pergi.... Haereni memandang dengan tiada pandangan. Lambat-lambat insaf
padanya perbuatannya yang baru dilakukannya. Dilihatnya pakaiannya yang tiada
teratur, badannya terlentang dalam tempat tidur. Lambat-lambat tersimbah awan
mendung, mulai terang cahaya insaf. Dia terlentang, merenung-renung.., tiada bergaya,
terpatah oleh insaf akan akibat perbuatannya.
29
Oktober 1931.
Sinar perhatianku,
Suratmu yang panjang itu sudah
kubaca berkali-kali. Amat Senang hatiku mendengar suaramu seperti dahulu lagi,
waktu kita mulai berkenalan. Penuh harapan akan masa yang akan datang. Makin
teguh dan giat oleh rintangan. Masakan tada akan maju dagang bukumu, bila kau
kerjakan dengan giat? Lima bulan lagi, Ki? Datanglah kau menjemput aku? Aku
bisa mengajar, katamu? Tentu Ki, aku akan menjadi guru lagi. Bila tiada sekolah
yang mau menerimaku jadi guru, akan kudirikan sekolahku sendiri. Ki, senangkah
kau beristri seperti aku ini? Berpikiran dan berinisiatif sendiri? Katamu, bila
tiada begitu sifatku, tentu pada malam itu sudah putus cinta kita. Perempuan
lain akan tawakal, tiada bergaya lagi.
Pada beberapa hari sesudah kau
berangkat, amat sedih hatiku, serasa-rasa kosong. Tetapi aku tahu sedih
perceraian itu akan sementara saja. Apa lagi perceraian itu, harus, akan
menyempurnakan bahagia kita di kemudian hari. Lagi, Ki, putusan Tuhan tiada kita
ketahui. Bila di kemudian hari kau yang Iebih dahulu dipanggilnya, lalu aku
tinggal sendirian haruslah aku bersedih-sedih selama-lamanya, tinggal berpangku
tangan? Alangkah cacimu nanti, bila kau lihat aku begitu, dan dunia yang lain.
Makin lama kau tiada didekatku
makin nyata padaku dalamnya kasihku padamu. Ki, dulu perhatianku tertuju
padamu, hingga kurang perhatianku kepada Haereni. Haereni, yang merasa dirinya
miskin, tetapi sebenarnya tidak. Pardi amat mencintainya. Diusahakannya akan
menyenangkan pikiran Haereni, sebanyak-banyak praktiknya membolehkannya.
Haereni selalu merasa dikurangi haknya akan cinta Pardi. Kurang disediakan
Pardi waktu untuknya. Sekarang lebih banyak kuperhatikan dia. Berkali-kali
sudah kami bercakap-cakap. Dia mencari bertemu dengan aku. Kutunjukkan bahasa
Pardi amat mencintainya. Tetapi Pardi tiada banyak waktu. Tetapi waktu yang ada
disediakannya semata-mata untuk istrinya dengan segala kasihnya. Salahnya bukan
Pardi, tetapi pandangan Haereni. Haereni selalu meminta, hendak mendapat
sebanyak-banyaknya, tetapi dia lupa memberikan sebanyak-banyaknya pula. Bukan
yang banyak yang perlu, tetapi kualitetnya. Pandanglah, kataku padanya, waktu
yang sedikit itu, yang tersedia buat dirimu, sebagai permata, barang yang amat
berharga, yang hendak kau pakai sebanyak-banyaknya mungkin akan mengindahkan
dirimu. Kesempatan yang ada, harusIah dipergunakannya sebanyak-banyak mungkin,
sebaik-baiknya. Salahnya dia tiada memenuhi pikirannya, pada waktu Pardi
melakukan praktiknya. Rumah tangga bukan dia yang mengurus, tetapi abdi yang dibawanya
dari Jogja, yang memeliharanya dari kecilnya.
Isilah waktumu dengan usaha
sosial, kataku. Diceritakannya padaku, dia sebelum kawin, bercita-cita hendak
membantu bakal suaminya dalam pekerjaannya, belajar pekerjaan verpleegster.
Waktu sudah kawin cita-cita itu masih ada dalam pikirannya, tetapi berat
hatinya melakukannya.
Sekarang sudah dia mulai bekerja
sosial. Dia tampak lebih hidup. Dia hendak mengusahakan kursus mengurus rumah
tangga, pada hari sore. Mulai terasa padanya, bahwa dia ada kepandaiannya yang
perlu juga kepada orang lain, bahwa dia bisa memimpin orang.
Mudahnya bimbang sudah mulai
hilang, tetapi masih acap kali perlu ajakanku. Soepardi ada kubicarakan tentang
sifat istrinya itu. Dia juga akan menjaga-jaga, akan memperhatikan hal itu.
Ki, senantiasa ada sinar pada
mata Haereni, yang ingin mengatakan sesuatu padaku, tetapi segan. Aku tahu,
tentang apa. Sama saja dengan yang kau ceritakan itu. Aku pun memandang,
mengatakan dengan mataku, bahwa aku mengerti. Dia amat bergantung dan kasih padaku.
Perbuatan itulah pula, pada perasaanku, yang membesarkan kasihnya kepada
Soepardi, yang rnenyebabkan dia memperbaiki diri sendiri. Aku tahu, dia tiada
insaf akan perbuatannya Dia merasa amat sunyi pada waktu itu, sudah lama dia
merasa sunyi.
Itu tanda lemah, perempuan yang
menyerahkan diri, karena sunyi dalam hati, tiada insaf yang akan diperbuatnya.
Perempuan seharusnya menyerahkan diri dengan insaf, tahu apa yang diperbuatnya.
Perempuan masa dulu, tunduk, menurut, semangat hamba. Perempuan masa sekarang
haruslah tetap dalam rumah tangga, tetapi insaf dalam menundukkan diri.
Dahulu kusangka, bahwa bahagiaku
ialah berdiri sendiri, tiada mau tunduk kepada lelaki, tetapi Ki, setelah kau
kukenal, tahulah aku, bahwa bahagia ialah menyerahkan diri, rnenyandarkan diri.
Pada permulaannya amat susahnya kepadaku mengaku maumu lebih kuat daripada
mauku. Tiada kau ketahui beratnya perjuangan hatiku, akan mengaku bahwa aku
tunduk. Tetapi aku berterima kasih, menang juga yang sebenarnya, bila tidak
tentulah aku pada akhirnya akan merasa hampa juga dalam hatiku. Sekarang hatiku
penuh.
Ki, sebenarnya iri hatiku
mendengarkan ceriteramu yang terus terang itu tentang halmu dengan Haereni itu.
Tetapi aku mengerti, Ki, lambat laun hilang juga iri hatiku. Sekarang dalam
suratmu kau terangkan sekali lagi. Kau sudah bisa memecah-mecahnya dengan
tenang. Kau katakan, kau sendiri menderita akan putusanmu akan melepaskan aku.
Batinmu sebenarnya tiada hendak melepaskan, dia dengan teguh merindui aku,
menghendaki aku, kau hendak memeluk aku pada malam “perpisahan” kita, tetapi
kau tahan inginmu, lalu besoknya, habis mencurahkan hatimu kepada Haereni,
nyata padamu dengan pedihnya, bahwa ingin itu akan tinggal ingin oleh putusanmu
sendiri. Kau hendak menghilangkan, mendiamkan inginmu, sedang ada perempuan
didekatmu, yang merasa-rasakan melemah menyerahkan din.
Ki, perbuatanmu itulah yang
mengembalikanmu padaku. Katamu sorenya, kau tiada akan datang, bila tiada
terjadi hal itu. Kau merasa harus minta ampun padaku. Ki, itulah tanda kita
sudah bersatu, bererat-eratan. Bila aku tiada pada pikiranmu, bila kau tiada
merasa ada hakku pada dirimu, masakan kau datang meminta ampun? Segala sesuatu
ada baiknya.
Bila sekali-sekali hatiku lemah,
kuingatlah lagi malam percintaan kita. Ingatan itu rnengeraskan hatiku akan
menanti ketika kini bersua lagi. Ingatan pada malarn itu menerangkan hatiku.
Malam itu aku menyerahkan diriku dengan insaf karena kasihku padamu. Kau
menerima serahanku, insaf akan perlunya tanda kini bersatu sudah seluruhnya. Bila
tiada kau terima serahanku itu, tiada akan kubiarkan kau belajar.
Adakah lagi tanda matamu yang
lebih indah, lebih tetap padaku? Aku tahu perbuatan kita itu akan kau pandang
tinggi, sama-sama insaf apa yang kita perbuat.
Lima bulan lagi, datanglah engkau
menjemput aku? Tiada kejut hatiku akan berpindah pulau, bukankah Medan juga
kota tanah air kita?
Sedang aku menulis surat ini,
Mariati bersusah payah membuat wiskundenya. Dia seringkali mengeluh, mengapa
kubiarkan kau berangkat, sekarang tiada lagi Mas Ki akan menolongnya.
Saudara sepupumu Trini dengan
suaminya seperti biasa. Marsidi akan menempuh ujiannya yang penghabisan dua
minggu lagi.
Kemuning di pekarangan rumahnya
sudah berbunga pula.
Ingatlah malam kenangan kita,
Istrimu,
Mini.
Mini.
*) Maksudnya:
Dengarkan lagu melembut,
Yang merayu hanya akan
meriangkan wan,
Lagu sederhana, lagu menepis,
Getar air pada built
Komentar
Posting Komentar