Batas-batas nilai dan penilaian menjadi ciri khas modernisme terhadap situasi yang terbentuk di dalam masyarakat. Para penggerak garda depan yang identik di bidang seni, budaya dan politik mulai melakukan beberapa inovasi dalam melahirkan karya-karya yang bersifat inovatif.
Masyarakat yang terbentuk ataupun dibentuk atas kesamaan ide dan gagasan mulai mencari pandangan baru yang terinspirasi dari kejadian masa lampau ataupun masa kini sesuai bidang dan keahliannya. Benjamin Olinde Rodrigues mengatakan dalam essainya bahwa kekuatan seni memang cara yang paling cepat dan tercepat dalam reformasi sosial, politik dan ekonomi, (L’Artiste, le savant et industriel, 1825).
Perpindahan budaya melalui jaringan internet seperti menjadi “makanan” masyarakat dunia maya. Kesamaan pola dalam tulisan (karakter ataupun singkatan kata), seragamnya pose atau gaya ketika difoto dan divideokan yang tersebar di facebook ataupun youtube. Timbul pertanyaan dibenak saya tentang arus informasi ini: apakah batasan yang tercipta baik diruang private ataupun public tidak menjadi acuan dasar perseorangan ataupun masyarakat dewasa ini? karena dampak yang terjadi seperti ‘menjangkiti’ manusia lain.
Para penggerak yang paham dan tanggap akan fenomena ini mulai berbondong-bondong memanfaatkan akses jaringan internet untuk menerjemahkan pandangan dan gagasanya sesuai dengan momentum pada saat itu, dan pandangan-pandangan ini tertuang dalam blog, youtube, facebook dll. yang menjadi tujuan para pengguna arus informasi ini.
Pembahasan di hari kedua dalam Video Vortex #7 lebih menekankan jaringan-jaringan yang terbentuk ataupun dibentuk menjadi “koloni-koloni” yang mengarah pada perbaikan sistem yang ada di masyarakat, kecenderungan para pemimpin dalam mengikat masyarakat untuk diarahkan menjadi ideologi bersama yang sempat dibuktikan di dalam “pemaparan” sejarah penayangan G-30S/PKI selama puluhan tahun.
Videobase dan akumassa yang menjadi salah satu program Forum Lenteng, memberikan wawasan dan informasi yang bersifat baru dalam gaya atau bentuk dari yang sudah ada. Siang itu Forum Lenteng (Hafiz, Otty Widasari, Andang Kelana) mempresentasikan hasil risetnya tentang perkembangan video dan persebaran jaringan. Lewat jaringan ini, masyarakat bebas mengakses informasi yang sudah tersedia baik sosial, budaya maupun politik tentang identifikasi suatu daerah yang menjadi fokus sejarah video dan keberagaman masyarakat di Indonesia.
Akumassa sebagai program pemberdayaan komunitas dengan pelbagai media komunikasi, antara lain: video, teks dan suara. Akumassa sendiri menegaskan akan keberagaman dan potensi serta obyek sejarah yang ada. Bangsa yang terdiri dari konstruksi mitos dan budaya lisan ini, kini sedang berusaha menggali jejak-jejak budaya dan seni yang terabaikan dan belum tergali dan akumassa berada digaris terdepan dalam ranah tersebut.
Sejak berdiri pada tahun 2003, Forum Lenteng lebih mengkaji tentang audio visual dan fokus pada masalah pendidikan. “Ada yang salah sebagai pengetahuan seni audio visual itu sendiri antara video, film dan media,” ucap Otty Widasari dalam diskusi Video Vortex #7. Setelah perjalanan lima tahun Forum Lenteng, ditahun 2008, Forum Lenteng memutuskan harus ada distribusi ilmu pengetahuan, Otty Widasari menambahkan “kita memulai dengan riset video tentang riset sejarah dan persebaran video di Indonesia yang kita kasih nama videobase dan akumassa sebagai community development,”.
Melalui pendekatan empiris dan data, akumassa bekerja sama dengan komunitas dampingan saat terjun langsung ke dalam masyarakat. Sebagai Aku bagian dari Massa, Akumassa melakukan pengembangan medium audio visual dan teks sebagai kerja budaya melalui jaringan kerja antar komunitas di Indonesia. Media informasi dengan basis internet seperti menjadi tujuan utama masyarakat dalam mencari berita dan informasi sekitar yang aktual ataupun pemberitaan yang sudah berlalu, bank-bank data ini mempunyai peranan penting dalam menyimpan teks ataupun file video dalam “mengkonstruksi realitas dalam mata kamera,”.
Masih teringat dibenak saya, tontonan keluarga saat masih kecil “si Doel anak sekolahan,” bercerita tentang satu keluarga betawi dengan keterbatasan materi, ingin menyekolahkan anaknya yang bernama Doel (Rano Karno) hingga insiyur. Di filem itu banyak berkisah seputar keluarga, kesenjangan sosial dan susahnya mencari pekerjaan di Jakarta.
Sejak periode 80-an, kencangnya sensor yang diberikan pemerintah orde baru sangat kuat terhadap perfileman Indonesia, filem-filem yang muncul harus bersinergi guna menjalankan program orde baru. Hafiz selaku pembicara mengatakan bahwa kekuasaan orde baru sedang kuat-kuatnya, indeks ekonomi sangat tinggi dan ketika itu muncul berbagai fenomena dalam konteks teknologi, ada pertarungan antara konsumen dan negara yang menimbulkan phobia terhadap posisi mereka di Indonesia.
Selepas dari jaman orde baru para pembuat seperti dihadapkan dengan tayangan-tayangan yang santun dan lebih menjunjung moral karena dominasi kekuasaan agama dalam proses demokrasi. Bendungan-bendungan yang diberikan sepertinya tidak selaras dengan yang dicita-citakan Presiden pertama Indonesia yang dibeberkan kembali dalam diskusi hari itu, “Persis, oh. betapa ku idamkan dalam hatiku saat itu, suatu hari dimasa depan, ketika sesama warga nasionalis revolusionerku secara diam-diam belaka, dengan bantuan sarana paling moderen, akan menonton televisi, bagaimana imperialis terakhir menggulung tikarnya,” (Sukarno, Soeloeh Indonesia Moeda No. 9/Agustus/1928).
Filem yang bersifat kritik terhadap sistem kekuasaan sudah ada di jaman orde lama dan lebih bersifat terbuka, adalah Usmar Ismail dalam filem Tamu Agung (1955) yang memberikan tontonan ini. Filem yang bercerita tentang ingin datangnya tamu agung ke desa sukaslamet. Dalam pertemuan desa, sang wedana memberitahu bahwa tamu agung tidak jadi datang. Utusan desa bernama pak Midi yang pergi ke kota untuk melobi tamu agung agar datang karena desakan istri wedana yang ingin sekali melihat kedatangan tamu agung datang ke desa sukaslamet.
Setiba di kota, Pak Midi bertemu tukang obat dan sekaligus diberi tahu kalau ‘sang tamu agung’ susah sekali untuk mau datang mengunjungi daerah pedalaman. Singkat cerita tukang obat dan asistennya ikut Pak Midi ke desa, di desa sambutan yang meriah sudah disiapkan dan Pak Midi tidak bisa menjelaskan siapa orang yang ikut bersama dia ke desa sukaslamet. Banyaknya kepentingan yang digambarkan dalam adegan itu, ada yang lebih berpolitis ria karena selalu membicarakan partainya yang terpilih, lurah daerah sekitar, mantri yang meminta obat cacar, pelaku seni yang meminta selimut karena tinggal dipuncak gunung, ketua aktivis perempuan yang selalu meminta perlakuan wajar dari mata laki-laki dan istri wedana sendiri yang ingin mendirikan yayasan perempuan.
Sekelumit kepentingan dari perorang ataupun golongan seperti menjadi gambaran yang tidak bisa terlepas dari sejarah video di Indonesia dan menjadi catatan penting ketika tahun 1974 kaset VTR dijual bebas. Menanggapi era 1980an di Indonesia Forum Lenteng dengan riset videobase-nya, memaparkan hasil temuan dari persebaran dan gambaran representasi realitas teknologi yang terbagi dua antara masyarakat dan pemerintah. Hafiz menjabarkan saat demokratisasi awal didalam persebaran video tahun 80an menimbulkan beberapa fenomena seperti tempat penggandaan video, razia video yang terkait oleh militer dan video game atari sampai ditutup karena tawuran antar pelajar smp (berdasarkan sumber Majalah Tempo pada Januari 1982).
Aryo Danusiri coba menanggapi presentasi dari Forum Lenteng, “ Sedikit sekali studi mengenai media teknologi pada masa orde baru di Indonesia. teknologi tidak hanya sebagai alat, tetapi sebagai praktik pemerintah orde baru. Studi mengenai migrasi dan translasi dari teknologi ini, bagaimana pertemuan antar dua budaya dan teknologi dalam ranah politik. Menurut saya study ini sangat penting untuk melihat teknologi sebagai intervensi dari hubungan-hubungan kuasa di Indonesia dan akan sangat menarik untuk dieksplorasi dalam element sosial, bagaimana ini dirangkum dan dideskripsikan sebagai bagian dari proses negosiasi kuasa ini,”.
Pada diskusi sesi kedua, dengan pembicara Ronny Agustinus (kritikus Independent) dan Andrew Lowenthal (Engage Media), Peserta diskusi lebih didekatkan dengan adanya fenomena sekarang. Ronny menilik fenomena ini melalui penggalan video hasil riset ataupun penggalan komik tentang identifikasi orang yang terekam kamera video bernama Van Bond dan identifikasi tempat dimana penjahat internasional itu tinggal.
Ronny memperlihatkan hasil serta dampak dari pengguna jaringan internet (hasil survey via facebook) dalam mencari kepastian ketika berita itu sudah tersebar dipelbagai media yang menjadi salah satu contohnya video Ariel-Luna-Cut Tari, Sinta-Jojo, Briptu Norman. Penyeragaman pola dan latar belakang menimbulkan pertanyaan dasar akan fenomena ini, apakah fenomena yang terjadi sekarang karena kita seperti belum mampu menyesuaikan dari kecanggihan teknologi? Apakah temuan yang terbaru ini malah tidak memberikan ide ataupun gagasan karya karena pola dan gaya yang sama, sesuai dengan hasil survey dan karya Natalie Bookchin, Mass Ornaments (2009) yang kembali dipaparkan pembicara. Ronny Agustinus mencatat dalam buku acara Video Vortex #7 “Tidak ada lagi kebakuan-kebakuan standarisasi teknis dan estetik. Seamatir apapun seseorang, ia boleh dan berhak merekam video yang ia mau dan menggugahnya via YouTube,”.
Para peserta diskusi diingatkan kembali tentang fenomena Shinta dan Jojo, Tony Blank, Ariel Peterpan dan skandal video Yahya Zaini dan Maria Eva yang semakin menekankan posisi jaringan internet tersebut sebagai pusat informasi karena menurut saya jaringan internet ini sudah bisa melepaskan diri sebagai “media alternatif” dan menempatkan posisi televisi ataupun media pusat menjadi “media alternatif”. Ronny memberi pertanyaan dalam catatan video vortex #7 yang mungkin akan terjawab seiring eksistensinya medium video ini: benarkah jejaring sosial video ini benar-benar memiliki potensi untuk merontokkan relasi-relasi kekuasaan? Atau adakah relasi-relasi kekuasaan baru yang terbentuk olehnya? dan Ronny menambahkan untuk Indonesia, dampak sebuah video yang diunggah ke jejaring sosial masih membutuhkan mediasi media massa mainstream untuk bisa mencapai efek maksimal.
Andrews Lowenthal yang bekerja sebagai aktivis video di Indonesia sejak tahun 2007, melihat kecenderungan Indonesia berada dalam masa-masa menentukan yaitu ketika rentetan peristiwa di Indonesia terekam lewat medium video dan di publish oleh pembuat serta dicari melalui media online. Penyiksaan terhadap Tunaliwor Kiwo (petani Papua Barat), video skandal Ariel (grup musik Petepan)-Luna Maya serta video pembunuhan tiga orang Ahmadiyah seperti menjadi jawaban dari persebaran dan pengaruh video di Indonesia. Dalam presentasinya Andrews lebih mengarah pada penyelidikan serta dampak dari video-video yang tersebar dijaringan internet yang menjadi implikasi bagi penggunanya sebagai piranti perubahan sosial.







Komentar
Posting Komentar