Berawal dari perbincangan saya
dengan Jean Marais (seorang pelaku seni pertunjukan), diperjalanan menuju
tempat kediaman masing-masing. Dalam perjalanan yang cukup singkat, kami berbincang
sedikit perihal perjalanan hidup Jean di teater dan orientasi dirinya pada filem.
Jelang akhir perbincangan, Omjen –biasa saya memanggilnya seperti itu- berucap
akan bentukan tubuh seorang performance art, perihal galian selama beberapa
bulan sejak pertengahan tahun 2015 untuk kebutuhan filem yang sedang saya susun
bersama Okty Budiati seorang pelaku performance art, Omjen berkata akan bentuk-bentuk
tubuh yang bebas nilai, dimana ‘dia’ punya kedaulatan pada tubuhnya sendiri..
bukan pada tubuh-tubuh yang perawan atau polos tentunya.
Sekitar sebulan lalu, saya
mendapatkan pinjaman buku dari seorang teman baik bernama Rizki Ehsy Pangarso. Ia
meminjamiku buku THE INTERNATIONAL JEW, Membongkar Makar Zionisme International.
Ada hal yang menarik akan lihatan situasi karangan Henry Ford yang
diterbitkan oleh Hikmah (PT Mizan Publika). Lihatan akan buku ini saya sebarkan
untuk kepentingan penyebaran informasi dan ilmu pengetahuan tentunya.
Silakan membaca, maaf kalau kurang
menikmati.
‘BINTANG-BINTANG’
MEKANIS DAN GADUNGAN
Ada empat perubahan utama yang
dilakukan kaum Yahudi dalam bidang teater. Pertama, mereka telah menekankan
segi mekanik, membuat bakat manusia dan kejeniusan menjadi kurang berarti. Mereka
membuat panggung-panggung terlihat realistis, dan bukannya interpretatif. Aktor-aktor
hebat yang sedikit yang membutuhkan bantuan mesin; orang-orang dalam daftar
gaji para manajer yahudi tidak dapat berbuat apa-apa tanpa mesin. Fakta menonjol
yang ditemukan dalam kebanyakan pertunjukan di zaman sekarang ini adalah sisi
mekanisnya telah menciut dan menutupi sisi akting; dan ini merupakan alasan - menyadari
kalau kebijakan Yahudi adalah tidak memedulikan bakat, produser Yahudi menaruh
harapan dan uangnya pada kayu, kanvas, cat, kain dan kertas. Kayu dan cat tidak
akan menunjukkan rasa jijik atas bentuk jorok ideal dan penghianatan atas
kepercayaan yang diberikan padanya. Karena itu, sekarang ini dalam
teater-teater kita temukan efek lampu dan gerak yang menyilaukan mata – tanpa ide
sama sekali. Banyak sekali pegawai-pegawai panggung, tapi tidak ada aktornya. Latihan
dan tarian tanpa akhir, tapi tidak ada unsur dramanya. Orang Yahudi telah
memberikan unsur gemerlap, tapi telah mencabut ide mendalamnya.
Kedua, kaum Yaudi telah
memperkenalkan sensualitas Oriental ke atas panggung. Tanda-tanda dalam bentuk
arus kotor kian lama kian meningkat sampai akhirnya membanjiri seluruh teater. Di
New York, di mana jumlah para manajer Yahudi lebih banyak dibandingkan dengan
Yerusalem, batas petualangan teatrikal yang memasuki daerah terlarang telah
didorong semakin dalam. Penjualan narkotika memang terlarang, tetapi
menyuntikkan racun moral tidak dilarang. Seluruh hiburan kabaret dan kehidupan
tengah malam bermula dan diimpor dari bangsa Yahudi. Montmarte sama sekali
tidak memiliki unsur-unsur yang dapat ditiru oleh hiburan temaram New York. Tapi
baik New York maupun kota-kota lain di Amerika, tidak satu pun yang memiliki
Comedie Francaise, mencoba dengan keras mengimbangi kejahatan kota kosmopolitan
Paris. Di mana letak peluang Para Penulis pertunjukan panggung untuk sedikit
saja turut dalam dunia kenikmatan ini? Di mana letak peluang para aktor
berbakat drama tragis dan jenaka dalam produksi-produksi seperti ini? Ini
merupakan masa bagi gadis-gadis penari, makhluk-makhluk yang menawan dengan kaliber
mental yang tidak ada hubungannya dengan harapan drama, serta kehidupan
panggungnya, dalam arti sesungguhnya, tidak akan dapat menjadi sebuah kurir
baginya.
Konsekuensi ketiga atas dominasi
Yahudi panggung Amerika adalah munculnya sistem ‘Bintang’ dengan alat-alat
pengiklanannya. Teater dibanjiri oleh sejumlah besar ‘Bintang’ yang tidak
pernah benar-benar menanjak dan tidak pernah bersinar. Namun, mereka dikerek
tinggi-tinggi di papan-papan iklan milik sindikat teatrikal Yahudi dengan
tujuan menimbulkan rasa kagum pada publik bahwa lampu lentera redup tersebut
sedang berada di puncak nirwana pencapaian dramatis. Trik yang diterapkan
adalah trik toko serba ada. Semata-mata hanya merupakan strategi periklanan. Jika
di zaman-zaman normal dulu publik yang menjadikan seorang ‘bintang’ lewat
pilihan bulat mereka, maka sekarang ini para manajer Yahudi yang menentukan
siapa yang akan menjadi bintang dengan memakai iklan-iklan mereka.
Kaum Yahudi mencari kesuksesan cepat
dalam semua hal, kecuali dalam hal rasial. Dalam sebuah teater non-Yahudi,
kesuksesan tidak akan pernah diperoleh terlalu cepat. Pelatihan artis
membutuhkan waktu lama. Akan jauh lebih mudah jika memanfaatkan jasa iklan dan
kritik dari pers yang telah diatur sebelumnya sebagai rencana cadangan. Manajer
Yahudi saat ini mengalihkan perhatian kita dari kemiskinan dramatis sebuah
teater dengan cara melemparkan konfeti, daun-daun kering, lingerie, dan
gemerlap pernak-pernik ke depan mata penontonnya.
KRITIK-KRITIK ‘TERKENDALI’
Ada kemungkinan bahwa orang yang
membaca tulisan ini tidak merasa tertarik pada teater dan justru merasa yakin
kalau teater dan bioskop merupakan sebuah ancaman. Tapi apa yang menyebabkan hal-hal
tersebut menjadi sebuah ancaman? Bahwa panggung dan bioskop sekarang ini
mewakili elemen budaya utama dari 90 persen manusia. Apa yang dianggap
rata-rata orang muda sebagai bentuk baik, sikap pantas, budi Bahasa halus dan
bukannya kasar, ketepatan tata Bahasa atau pilihan kata-kata, adat istiadat dan
perasaan bangsa-bangsa lain, mode pakaian, ide-ide agama dan hokum, berasal
dari apa yang terlihat dalam filem bioskop atau teater. Satu-satunya sumber ide
masyarakat tentang rumah dan kehidupan kaum kaya berasal dari panggung-panggung
dan gedung bioskop.
Lebih banyak pandangan salah dan
lebih banyak prasangka diciptakan teater-bioskop yang dikendalikan kaum Yahudi
dalam satu minggu dibandingkan dengan apa yang diperoleh penelitian serius
Kajian Yahudi dalam satu abad. Orang kadang bertanya-tanya darimana datangnya
ide-ide yang masuk dalam benak generasi muda sekarang ini-dan inilah
jawabannya.
Kendali Yahudi terhadap pemikiran
publik bukannya diperoleh tanpa perlawanan sama sekali. Namun, satu demi satu
orang yang mempertahankan tradisi Amerika kemudian takluk atau menyerah pada
pengaruh yang luar biasa besarnya ini. Badan teatrikal Yahudi pernah diserang
oleh Editor Dramatic Mirror terbitan New York, pada 25 Desember 1897. Penyerangnya
adalah sang pengkritik dramatis Grey Fiske. Dia menulis:
“Apa yang diharapkan dari sekelompok
orang yang gemar mencoba-coba dan berasal dari tempat yang buruk, tidak
berpendidikan, dan sama sekali tidak memiliki cita rasa artistik? Ingatlah
bahwa sebagian besar orang yang membentuk badan teatrikal ini sama sekali tidak
cocok menempati posisi mana pun, kecuali di tempat-tempat rendah di panggung.
Mereka tidak perlu diberi toleransi meski berada di tempat-tempat tersebut,
kecuali mereka di bawah tekanan disiplin, aktif, keras dan tanpa ampun. Catatan
mereka tidak baik dan beberapa malah memiliki catatan criminal. Metode yang
mereka gunakan juga sesuai dengan catatan yang mereka miliki.”
Artikel Fiske ini dicetak ulang pada
Maret 1898. Tentu saja kaum Yahudi merapatkan barisan seperti yang biasa
terjadi bila seorang Yahudi dikecam karena kesalahannya atau jika sekelompok
Yahudi jadi bahan berita karena melakukan tindakan salah. Semua orang Yahudi di
seluruh Amerika turun tangan menolong Badan Teatrikal. Tekanan diberikan pada
perusahaan-perusahaan berita yang menanggani sirkulasi majalah di Amerika
Serikat. Hotel-hotel besar dipaksa menarik majalah Dramatic Mirror dari kios
surat Kabar mereka. para wartawan Mirror tidak diperbolehkan memasuki
teater-teater yang dikendalikan Badan tersebut. Sejumlah sistem bawah tanah
disiapkan beroperasi untuk menghantam Fiske dan bisnisnya.
Publik juga tidak tahu dari mana
sumber keburukan teatrikal ini. Sungguh menyakitkan jika mendengar seorang
filsuf muda yang belum berpengalaman mendiskusikan masalah ‘Kecenderungan
panggung-panggung kita’ atau menganalisa tentang ‘Seni yang sesungguhnya’
dengan sembrono dan ceroboh. Padahal kita tahu bahwa ‘Kecenderungan’ dan ‘Seni’
itu sendiri telah ditentukan oleh orang-orang yang jika melihat siapa leluhurnya
bisa membuat seni itu menjerit.
Wajar saja jika kemudian
Yahudinisasi menyeluruh atas teater berakhir pada teater yang ditransformasikan
sebagai bisnis pertunjukan, semata-mata hanya masalah perdagangan dan
pertukaran. Para produser seringkali tidak cukup dibekali secara kultural,
cukup untuk berbisnis saja. Mereka dapat menyewa apa pun yang mereka mau
seperti ahli mekanikm penata pakaian, pelukis, penulis, dan pemain musik. Dengan
ukuran mereka soal selera publik dan contoh perilaku mereka sendiri yang
terbentuk di arena balap dan adu tinju;
dengan bentuk ideal mereka yang terbentuk pada ambisi mereka untuk
menjadi agen kebejatan moral dan bukannya memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang
sah, maka tidak mengherankan jika standar teater berada di titik yang paling
rendah.
Komentar
Posting Komentar